
"maksud teteh apa?"
"Ana kamu harus tau, Dimas itu serius sama kamu, sejak awal dia sangat serius dengan kamu, dia,,,"
"dia memilih Stela," Ana memotong ucapan teh Tia. Ana menundukkan wajah, menutupi raut sendunya.
"itu kesalahpahaman, Dimas tak pernah mengiyakan untuk menerima Stela, itu karena,,,"
"sudahlah teh, semuanya sudah terjadi, lagipula aku gak mau hubungan aku dengan Stela renggang gara-gara ini, aku udah ikhlas, kok! aku cuma gak nyangka akhirnya akan seperti ini"
Pada akhirnya hubungan Stela dengan Dimas menjadi renggang setelah Dimas memutuskan untuk bekerja di Jakarta, tanpa alasan yang jelas Stela putus dengan Dimas.
"kamu menerima perjodohan ini bukan karena Stela dan Dimas jadiankan?!"
deg!
Mata Ana membulat, jantungnya mulai berdegup kencang. Jika harus jujur mungkin iya, Ana melemparkan rasa sakit dan juga bahagianya dengan memutuskan untuk menerima perjodohan ini. sakit karena dia harus merelaka orang yang dia cintai jadian dengan orang lain, bahagia karena sahabatnya mendapatkan kesempatan untuk mencintai secara terbuka kepada orang yang selama ini dia cintai. Tapi pada akhirnya tetap saja dia juga menemukan alasan yang tepat yang membuat dia harus menerima perjodohannya. Ana bukan orang yang tak memikirkan sesuatu sebelum membuat keputusan, dia cukup realistis dalam menjalani hidupnya.
"Ana, kamu gak tau sekacau apa Dimas saat kamu memutuskan untuk menikah dengan orang lain," teh Tia menghela nafasnya lalu melanjutkan ceritanya.
"walau dia bilang udah merelakan, tapi kenyataannya dia seperti pesakitan, dia menjalani hari-harinya seperti zombi sekarang, dia habiskan waktunya hanya untuk bekerja dan belajar, jika teteh tak mengingatkannya untuk makan, entah dia akan ingat atau tidak, walau dia masih tetap tersenyum saat teteh menanyakan keadaannya, tapi teteh tau seperti apa kerasnya dia mengumpulkan banyak keberanian untuk hadir di acara pernikahan kamu kemarin." Teh Tia meneteskan air matanya.
"Ana teteh mohon, kasih kesempatan buat Dimas," kedua tangan teh Tia memegang tangan Ana dengan erat.
Hening
Perih itu kembali, Ana tak menyangka teh Tia bahkan memohon padanya yang masih status istri orang demi Dimas.
Ana masih diam, dia tak tahu harus bicara apa.
"Ana, sampai kapan kamu berencana bertahan dengan pernikahan kamu ini?"
"entahlah, mungkin satu tahun, jika terlalu cepat aku takut akan membuat kecewa mama sama ayah teh," Ana menggelengkan kepalanya.
"baiklah satu tahun, teteh akan mencoba membuat Dimas bertahan dalam waktu itu."
"tapi teh,,,"
__ADS_1
"Ana," teh Tia memohon dengan sorot matanya.
"bicaralah pada Dimas setelah semuanya selesai, ya?! katakan yang sebenarnya, Dimas akan menerima kamu apa adanya, begitupun dengan semua keluarga," Sambung teh Tia.
Ana masih bingung apa yang harus dia katakan.
"iya teh, nanti Ana bicara sama Dimas," Ana akhirnya tak punya pilihan, dia hanya ingin membuat teh Tia berhenti memohon.
'maaf teh, aku gak bisa menjanjikan apa-apa, sejak awal aku dan dimas sudah tidak mungkin.' batin Ana.
'maaf Ana, aku terpaksa jadi egois untuk kebaikan Dimas, jika saja kamu tau keadaan Dimas yang sebenarnya,' batin teh Tia.
Sementara seseorang yang sejak tadi berdiri di depan pintu mengeratkan kedua kepalan tangannya.
'bagus Ana, kau ingin secepatnya bercerai denganku lalu kembali pada mantanmu!'
Andre yang tak sengaja mendengar pembicaraan Ana akhirnya tak jadi masuk ke ruang istirahat yang awalanya dia ingin mengajak istrinya itu untuk makan siang akhirnya dia urungkan, dia berbalik dan berjalan cepat, tak tahu kemana arah tujuannya.
"mimpi saja kau! seumur hidupmu, kau hanya bisa jadi istriku!" Andre berjalan dan terus berjalan, dia tak kembali ke taman tempat pesta resepsi diadakan.
Di ruang istirahat orang yang sudah lama ditunggu akhirnya datang.
"sorry tadi nyari troli kosong susah,"
"ih banyak amat, Stel."
"abis jiga anu enak Kabeh, jadi we miringan kabeh, hahaaaa,,"
"maneh mah, Naha, teu nitah pramu saji?"
"ih karunya ker sibuk, pan ges jamna makan siang, jadi riweuh di daerah stand makanan berat"
"oh, pantesan,,," Ana baru ingat kalau ini sudah waktunya jam makan siang, 'si om nyariin gak ya? tadi gak pamit soalnya' batin Ana.
Ana, teh Tia dan Stela memakan makanan ringan seperti kue basah dan kering yang Stela bawa sambil mengobrol dan bercanda.
Setalah mereka mengakhiri obrolan, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat resepsi. Ana yang sudah sampai di taman langsung mencari suaminya, tapi tak juga dia temukan. Ana sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi teleponnya tak di angkat. Ana pun sempat bertanya pada Sakti tapi Sakti bilang justru tadi Andre lah yang mencarinya. Ana berpikir sejenak, 'aku kan di ruang istirahat dari tadi, masa gak ketemu sih?!' batin Ana. 'atau?' Ana mulai berpikir keras 'jangan-jangan dia denger kami ngobrol terus gak jadi masuk, makanya gak ketemu, terus kemana donk dia, kenapa gak bisa dihubungi? jangan-jangan marah lagi'
__ADS_1
"hadeuuuuhhhh,,, labil amat sih jadi orang! bodo ah! udah gede ini, ngapain diurusin'
Di tempat lain
"hah? kita ke Jakarta sekarang? lalu yang lain gimana?"
"aku yang akan ke Jakarta sekarang, kamu bareng sama yang lain, aku ada urusan yang harus dikerjakan,"
"aku ikut mas, aku ijin sama mami papi dulu."
Andre memegang elngan Weni sebelum Weni pergi meninggalkan Andre.
"kalau kamu mau ikut, cepat bereskan barangmu, biar aku yang ijin pada mereka." Weni mengangguk sambil tersenyum, dia kembali ke hotelnya untuk membereskan pakaiannya.
"mas, bagaimana dengan Ana?"
"dia akan ke Jakarta dengan Sakti diantar mang Imam,"
"oh,,," Weni ber oh ria, sambil menyembunyikan senyumnya.
'lihat Ana, walaupun kamu yang jadi istrinya tapi tetap aku yang ada di hati dan disampingnya.'
Sebelum Andre memutuskan pergi dia sempat berpamitan dengan keluarga Ana dan keluarga nya. Walaupun ada sedikit tanda tanya di benak mama Meti, tapi mami Ambar berhasil menenangkannya kembali.
Acara masih terus berlanjut, selesai makan siang dilanjutkan dengan acara bernyanyi bersama, beberapa teman Ana menyumbang lagu untuknya juga suaminya, walaupun sampai sekarang Ana tak tau dimana suaminya berada. Ana masih santai, dia menikmati acara bernyanyi bersama teman-temannya dengan bahagia, diapun sempat menyanyikan beberapa lagu.
Awalnya terasa biasa, lama-kelamaan dia merasa gelisah, kemana sebenarnya suaminya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada mami Ambar. Mami Ambar mengerutkan keningnya.
"loh bukannya Andre sudah kembali ke Jakarta duluan"
"apa?" bagai disambar petir, dia ditinggalkan suaminya sebelum pesta pernikahannya selesai.
"loh kenapa, Na? ada yang salah?" kini Ana yang mengerutkan keningnya, pertanyaan apa itu bukankah aneh jika suami meninggalkan istrinya disaat pesta pernikahan belum usai, pikir Ana. Mami Ambar melihat raut sedih di muka Ana.
"kenapa Na? tadi Andre bilang katanya kamu udah tau, dan mengijinkannya."
deg!
__ADS_1
apa? dasar zombie tua sialan! ternyata dia berhasil menjual namaku untuk kabur! liat aja jangan panggilan aku Ana jika tak bisa membuatnya kembali menjemputku!
'heheeeee,,,' Ana tersenyum licik.