
Sesaat kemudian Ana kembali membuka pintu kamar mandi,
"om! bisa bantu aku buka resleting, gak? gak nyampe nih!" Andre yang tadi sempat kaget dengan ucapan Ana yang memintanya untuk tidur di kasur yang sama, kini semakin terkejut saat mendengar permintaan Ana. Tapi lalu kemudian dia tetap memaksakan diri berjalan menuju kamar mandi, mendapati Ana yang sejak tadi memunggunginya meminta dibukakan resleting gaunnya.
Deg!
Jantung Andre berdetak kencang, dia menelan salivanya dengan susah. 'apa yang dipikirkan anak ini? apa dia tak takut aku akan melakukan sesuatu padanya?!' Ana menoleh ke arah Andre yang hanya mematung menatapnya.
"kenapa? ya udah kalo gak bisa," Ana berbalik mendorong tubuh Andre agar keluar dari kamar mandi, dia cukup kesal dengan respon Andre.
Andre menangkap tangan Ana, membalikan badannya. "tunggu! biar aku bukakan!" Ana terdiam saat tangan Andre mencoba menurunkan resleting gaunnya. Semakin Andre menurunkan resleting gaun Ana, detak jantungnya semakin terasa berdegup kencang. Juga saat melihat leher jenjang Ana dan punggungnya yang terlihat bersih dan mulus membuat Andre harus menelan salivanya berberapa kali.
'sial! tenang Andre! hanya membuka resleting saja! bukan baru kali ini kamu melihat tubuh wanita bahkan lebih dari hanya sekedar punggung saja?! Andre mencoba menenangkan hatinya.
Hanya membuka resleting yang tidak lebih dari beberapa inci dan tidak membutuhkan waktu lama, tapi itu cukup menguras pikirannya yang sudah mulai bertraveling bebas. Tubuh Ana yang terlihat seseksi bahkan saat masih m gaun tertutup membuat konsentrasinya buyar sesaat.
"sudah!" Andre mempercepat kerjanya lalu berpaling keluar dari kamar mandi sekaligus menutup pintunya.
Ana masih berdiri mematung, dia mencoba mengingat ekspresi Andre.
"kok ekspresinya kayak gitu, sih?!" gumam Ana dengan kening mengkerut.
__ADS_1
'nanti coba aku chat teh Tia aja, astaga! ponsel malah ditinggalin lagi! duh! jadi gak enak hati lagi, apa dia barusan sebenarnya nolak ya?! kalo nolak gitu berarti tandanya dia gay atau bukan?!.' Setelah sempat terjadi pergulatan pertanyaan dalam pikiran Ana, dia akhirnya meneruskan niatnya untuk membersihkan diri.
Selama Ana membersihkan diri, jantungnya tak berhenti berdetak kencang. 'Ana tenanglah! ini baru permulaan, bagaimana kamu akan menyelesaikan misi ini jika kamu lemah pada pesonanya?!' Ana mencoba menenangkan sekaligus menyemangati dirinya sendiri. 'baiklah mari kita lakukan sesuai skenario' Ana kemudian mengambil tasnya mencari sesuatu yang sudah dia siapkan sesuai arahan teh Tia.
Akhirnya Ana menemukan apa yang dia cari, dia mengambilnya dengan enggan, matanya menyipit menatap seonggok baju berwarna hitam, saking tipisnya baju itu muat dalam kepalan tangannya, dia sengaja memilih warna hitam karena dia berpikir warna itu tidak terlalu mencolok.
Ana membeli lingerie sesuai arahan teh Tia hanya untuk menguji kepribadian Andre, ada beberapa skenario lain juga yang mereka susun, sejak Ana membuat grup chat bertiga, teh Tia, Stela dan dirinya, dia terus diberi wejangan oleh mereka untuk tetap mencoba mempertahankan pernikahannya demi masa depannya, yang sudah terlihat suram sejak di awal.
Ana membentangkan baju itu dengan kedua tangannya, lalu menatapnya lewat pantulan cermin di depannya. "iiihhhhhh,,,," Ana bergidik jijik lalu melempar lingerie itu ke tempat sampah dengan sembarang. 'huft! apa yang akan dipikirin a Andre jika aku keluar kamar mandi pake lingerie?' Ana memegang dadanya yang tertutup handuk, jantungnya berdetak dengan kencang.
"eh! tunggu!" Ana kembali menatap dirinya di cermin, dia melihat ke arah tubuhnya yang hanya dibalut handuk menutupi dada sampai setengah pahanya, lalu tersenyum nakal.
Diluar kamar mandi Andre yang sudah memilih untuk merebahkan tubuhnya, sejak tadi masih mencoba menenangkan yang sempat bergejolak. 'tidak aku sangka, hanya dengan melakukan itu saja, aku hampir tak bisa menahan hasratku, aku harus menjaga jarak darinya, aku takut kelepasan. Aku tak tau apa yang terjadi jika aku sampai lepas kendali, saat ini saja dia sudah membeciku apalagi jika itu terjadi.' Andre menarik nafas panjang.
deg-deg, deg-deg
Jantung Andre berdetak semakin kencang, Andre bangkit dari posisi tidurnya saat Ana berjalan ke arahnya. Andre manatapnya tanpa berkedip. Saat tiba di dekat tempat tidur ana menundukkan diri dan mengambil ponselnya yang tertinggal di tempat tidur, lalu berjalan kembali ke dalam kamar mandi.
Andre melongo menatap Ana yang berjalan dengan santai tanpa memakai baju, hingga pintu kamar mandi kembali tertutup.
deg-deg, deg-deg
__ADS_1
'Sial!' Andre yang kini terduduk di tepian ranjang mengacak-acak rambutnya, jantungnya sudah tak bisa dia kendalikan lagi. 'tenang kawan! belum waktunya kamu beraksi! sabar!' Andre berbicara pada adik kecilnya yang sebenarnya sejak tadi berusaha dia tenangkan dan sekarang kembali menggila akibat dari apa yang dilakukan istri kecilnya.
Akhirnya Andre membuka laptopnya berharap itu bisa menenangkan pikirannya dan adik kecilnya yang semakin tak bisa dia kendalikan.
Sementara di dalam kamar mandi. 'kok ekspresinya biasa aja? apa aku kurang seksi ya?!' batin Ana yang sebenarnya sengaja melakukan itu untuk menguji Andre, sebenarnya dia tak terlalu membutuhkan ponsel itu, anggap saja itu alibinya untuk sekedar menguji Andre, sudah terlalu malam juga untuk menghubungi teh Tia.
Ana keluar kamar mandi setelah memakai baju kebesarannya, yaitu daster! Daster tiga perempat dengan kain yang super nyaman membuat Ana relaks.
"udah selesai mandinya?" Andre bertanya tanpa menoleh ke arah Ana, dia takut akan ada kejutan lain yang membuat dia tak bisa mengontrol dirinya terutama adik kecilnya.
"em! ada hairdryer gak ya?" Ana balik bertanya, dia melihat Andre yang sedang sibuk dengan laptopnya. 'dia bahkan tak terpengaruh dengan apa yang aku lakukan barusan?! sepertinya dia memang tak suka perempuan.' batin Ana yang kini duduk di meja rias.
"di laci situ biasanya." Andre menjawab lalu bangkit menuju kamar mandi juga tanpa menengok ke arah Ana. Ana yang melihat itu membuat badannya lesu tak bertenaga, 'hiks! dia bahkan tak ingin melihat ke arahku sekarang! dia benar-benar tak terpengaruh sama sekali!' batin Ana.
Setelah Ana mengeringkan rambutnya, dia memilih untuk tidur duluan, dia sudah malas memikirkan apa yang terjadi barusan, tubuhnya yang sudah sangat lelah juga pikirannya yang masih saja menimang apa sebenarnya arti dari reaksi Andre untuk semua apa yang sudah dia lakukan, menguras semua emosinya membuat dia terlelap dengan cepat.
Didalam kamar mandi Andre mengguyur tubuhnya lebih lama, dia ingin menenangkan sisa gejolak emosinya yang sempat tak terkendali.
Saat Andre keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya, dia melihat sekilas Ana sudah tertidur. 'syukurlah dia memakai dasternya kali ini,' pikir Andre. Dia lalu memakai baju tidurnya dan menyusul Ana ke tempat tidur.
Saat semakin dekat Andre berjalan ke arah tempat tidur, dia melihat jelas posisi tidur Ana. Posisi tidur yang biasa saja, hanya saja sebelah kaki Ana yang memeluk guling membuat rok dasternya tersingkap hingga ********** terlihat. Andre kembali memijat kepalanya yang semakin pening.
__ADS_1
'sial! dia benar-benar tak melepaskanku bahkan saat dia tertidur.'