Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Rasa


__ADS_3

"Astagfirullah Ana!" Stela berlari menghampiri Ana yang sedang membanting semua bantal dan selimut hingga berserakan, sambil memaki dengan wajah yang berantakan.


"Heheeeeee,,," Ana menyeringai menatap Stela.


"Heheeee", Stela berusaha membalas senyum Ana dengan kaku.


"Stelaaaaaaaaaaa,,,," Ana setengah berteriak, agar orang-orang tidak berdatangan gara-gara mendengar teriakannya.


"Wei! Wei! Wei! Kalem, kalem, kalem,,, heheee,,, ari maneh kunaon? Teu kasurupan kan?!"


"Manehnya! pasti maneh anu boga ide!" Ana menudingkan telunjuk ke arah Ana.


"Heheeee,,," Stela tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Weuh nanaonkan?!" Tanya Stela penasaran karena melihat sahabatnya seperti frustasi, dia pun aga sedikit tidak enak.


"Manehnya, kadie siah!" Ana mendekati Stela sambil mengacungkan bantal guling hendak menimpuk sahabatnya itu. Spontan Stela berlari menghindar dan akhirnya mereka kejar-kejaran diantara kasur ditemani guling dan bantal.


Beberapa saat kemudian


Ana dan Stela duduk di lantai bersandar pada tempat tidur, sambil memeluk bantal yang tadi sempat mereka gunakan untuk melakukan aksi perang bantalnya.


"Kitu caritana, anjir*t sumpah urang era!" Ana menutup mukanya yang masih terlihat merona walaupun hanya menceritakannya saja.


"Hahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,," Stela membalasnya dengan tertawa lepas.


Dibalas dengan timpukan bantal guling yang di pegang Ana.


"Ketawa aja teruuuuussss,,," Ana menyindir Stela.


"Heheee sorry,,, eh tapi, Na, lamun maneh deg-degan, berarti maneh boga rasa atuh ka si aa calon? ACieeeeee,,,"


"Naon sih, maneh!"


"Bae atuh, Na, wajar we boga rasa ka calon Salaki mah, ehem-ehem," Stela menahan tawanya, agar tidak ditimpuk lagi dengan bantal guling. Ana terdiam mendengar pernyataan sahabatnya itu.


"beruntung maneh mah, Na! dijodohkeun sama yang ganteng, tajir, baik lagi, ya walaupun cuek, dingin, yah wajarlah kan no bodies perfect," Ana tersenyum kecut, lagi-lagi orang hanya menilai dari luar. 'gimana kalo Stela sadar siapa calon suamiku ini, pasti banyak nanya, gak kebayang deh,' batin Ana, tanpa disadari dia menggelengkan kepala beberapa kali. 'tapi cepat atau lambat dia pasti tau, huft! aku harus siap dengan sejuta alasan, hilal hidupku yang berat sudah mulai terlihat,' Ana menggedikkan bahunya tanda ngeri.


",,, masalah cinta mah ntar juga nuturkeun," (nuturkeun\=ngikutin) setelah banyak petuah yang dikatakan Stela, dia baru sadar bahwa sahabatnya itu tidak mendengar apa yang dia bicarakan dari tadi, Ana malah terlihat sibuk dengan lamunannya.


"ari maneh keur naon? didengekeun teu urang ngomong?" (kamu lagi apa? didengerin gak aku ngomong?) Stela menyenggol lengan Ana yang terlihat sedang bergidik.


"hah?! eh, maneh ngomong naon kitu, cul?" spontan Stela memukulkan bantal yang sejak tadi dia peluk.


"ih ari maneh urang sakitu ngomong ges ngabulaeh kalah teu didenge," (ih kamu ya, aku udah ngomong banyak, malah gak didenger)


toktoktok, jegrek!


"Ana! Stela! keur naon ari kalian, bukannya turun ih, itu tamu udah mau pada pulang," teh Lia langsung sewot ketika melihat kelakuan adiknya yang seharusnya berada dibawah menemani keluarga calon suaminya malah mengurung diri di kamarnya.


"kamu lagi, keluarga a Andre masih disini, kamu mah teu sopan ih, jangan kaya gitu! keliatannya jadi kaya mama sama ayah yang gak bisa didik anak, tau gak?!


teh Lia mulai murka.

__ADS_1


"bukan gitu atuh teh ih, Ana malu,"


"malu, malu, kamu itu udah dewasa, udah tau mana yang harus dilakukan mana yang gak!".


"iya teh maaf" Ana menundukkan pandangannya, Stela hanya diam berlindung di belakang badan Ana, sejak mereka bersahabat, Stela sudah tau bahwa teh Lia itu orang paling galak di rumah Ana, jadi dia memilih cari aman dengan menggunakan Ana sebagai tameng.


"ya udah sana turun!"


"iya teh," Ana dan Stela menyahut barengan.


Saat berpamitan


"Ana, terimakasih ya sayang, udah ngasih Andre kesempatan," Tante Ambar memegang tangan Ana, dia tersenyum sangat tulus, Ana membalasnya.


"iya Tante,"


"eh, kok Tante? mami donk!" Tante Ambar meralat panggilan Ana.


"eh iya Tante, eh, mami, maaf,"


"hahaaaaaa,,, gak apa-apa, nanti juga terbiasa, pelan-pelan aja," Ana membalasnya dengan tersenyum canggung.


"ya udah, kami pulang dulu ya, sekalian aja pamit soalnya abis subuh aku langsung ke Jakarta, terus langsung ke Australia, gak bisa lama-lama di Indonesia,"


Tante Ambar pamitan pada mama Meti sambil cipika cipiki.


"cepet-cepet amat sih Mbar, meni masih kangen ih!"


"gimana donk, aku juga bukan gak kangen, nantilah pas resepsi mudah-mudahan bisa lama di Indonesia ya,"


"hahaaaa,,, tenang, kita bentar lagi jadi keluarga, bisa ngerumpi sepuasnya, hahaaaa,"


"hahaaaa,,, bener ih, ya udah atuh sok gera istirahat udah malem banget,"


"makasih Met, Gus, akhirnya jadi keluarga beneran, si mbok pasti seneng lho, aku belum sempet kasih tau, nantilah kalo urusan perusahaan udah selesai, aku juga pengen ke solo,"


"iya atuh sering-sering tengokin si mbok kesian,"


Mereka bersalaman dan berpamitan, terakhir Ana menyalimi tangan Andre.


"gutnite, honey!" Andre berbisik, lalu mengacak-acak rambut Ana.


"ih! ble!" Ana menepis tangan Andre lalu menjulurkan lidahnya. Andre tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya tanda hormat ke arah mama Meti, ayah Agus beserta semua rombongan.


Akhirnya acara selesai.


"cul, sare didienya!" (sare\=tidur) Ana.


"siap, bos!" Stela.


"eh isuk anteur urang ka BEC nya, meli charger, teh Aneu nitip," (eh besok anter ke BEC ya, beli charger, teh Aneu nitip,) lanjut Stela.

__ADS_1


"siap!" Ana.


*****


Tak lama kemudian.


Setelah mematikan shower, Andre melap tubuh sixpacknya dengan handuk dan menutup bagian bawahnya. Dia berdiri di depan cermin, menghapus uap di cermin dengan sebelah tangannya, setelah kegiatan yang cukup melelahkan, dia menyegarkan dirinya saat tiba di hotel.


Bukan apa yang dia lihat di cermin begitu menarik, namun apa yang terjadi sebelumnya cukup menarik perhatiannya. Dia mengingat lagi, lalu mengalihkan tatapannya pada kedua tangannya, 'dia tidak terlalu tinggi, badannya sedikit berisi, terasa pas saat masuk ke dalam pelukanku,' batin Andre.


Deg!


Tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Andre memegang dadanya, apa sebenarnya yang terjadi dengannya?!


'gadis itu, dia bahkan sudah memutuskan sebelum memulainya, apa yang harus aku lakukan padanya?!' Andre menyunggingkan seulas senyuman.


****


Pagi hari


Andre : selamat pagi calon istri?


Ana : kenapa? Langsung aja?


Andre tersenyum membaca jawaban chatnya.


Andre : hei nona, tak bisakah kau sedikit lembut pada calon suamimu ini?


Ana : gak!


Senyum Andre semakin lebar, dia bahkan sempat mengingat wajah Ana ketika mengatakan jawaban ketus seperti itu.


'gadis ini, tapi dia cukup imut saat dia marah,' batin Andre.


Andre : apa kau tidak mau mengajak calon suamimu jalan-jalan, mengenalkan kota Bandung, aku masih akan disini sampai sore.


Ana : ck! Gak usah pura-pura, deh! Om kan punya pabrik di Bandung, gak mungkin kalo belum pernah jalan-jalan di Bandung.


'gadis pintar,' batin Andre.


Andre : jadi kau menolak?


Ana : ya!


'ckckck, jujur dan ketus, tapi tak perlu dijawabpun aku sudah tahu jawabannya,'


Kriiiiiinnnggg,,,


Ponsel Andre berdering.


Andre : ya

__ADS_1


? : Mas, ayo! aku udah siap, Aku tunggu di lobi ya, (suara seorang wanita).


Andre menutup teleponnya, lalu bergegas keluar kamar hotel menemui seseorang yang baru saja meneleponnya.


__ADS_2