Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
96


__ADS_3

Dua hari ini Ana berhasil menghindari suaminya, dia akan pergi sangat pagi, lalu pulang selepas isya kemudian langsung masuk ke kamarnya dan mengurung diri di sana hingga pagi saat dia harus pergi kembali. Dia juga sudah tak meminta mang Imam mengantar dan menjemputnya, selama ini dia menggunakan ojek online.


Dua hari ini, dia terus berhubungan dengan Dinar, dia ingin menginvestasikan sebagian uangnya pada usaha sahabatnya itu.


Sejak ada kejadian foto mesra Andre dan Weni, Ana mulai berfikir untuk memiliki usaha sendiri karena setelah bercerai dengan suaminya dia harus bisa menghidupi dirinya sendiri, terlebih dia butuh uang untuk membayar kuliahnya. Dia tak mungkin kembali meminta biaya kepada orang tuanya, meskipun mereka tak akan membiarkannya begitu saja tapi paling tidak dia memiliki usahanya sendiri.


Hari pertama, Ana menyempatkan untuk melihat ke tempat produksi, tempatnya dia sebuah rumah petak di daerah bekasi. Sudah ada empat penjahit dan satu orang yang khusus memotong kain, semuanya laki-laki. Lalu ada seorang ibu-ibu yang bertugas untuk menyetrika dan melakukan finishing dan dua orang perempuan yang menjaga gudang sekaligus menjadi admin.


Usaha itu tidak hanya milik Dinar, dua orang admin itu adalah sahabatnya yang juga pendiri dan ikut patungan modal utama. Sekarang Ana menjadi orang ke empat pemilik usaha itu melalui investasinya. Ana memikirkan untuk membuka toko, agar bisa menjual secara offline dengan tetap tapi juga tetap berjualan di pameran-pameran. Mereka mulai mendiskusikan masalah tempat dan biaya yang harus mereka keluarkan. Sebelumnya merekapun sempat melakukan survey tempat dan juga perkiraan biaya renovasi dan lain-lain. Karena biayanya tak sedikit, akhirnya sementara mereka mengurungkan niat untuk membuka toko sendiri. Ana pun mulai berpikir investasi yang dia berikan terlalu kecil jika untuk membuka toko.


Ana berjalan memasuki rumah sambil berpikir,


"dulu sempat minta dia untuk investasi, sekarang aku tak mungkin memintanya," Ana menggunakan kata ganti ke tiga untuk suaminya, Ana masih tak ingin menyebut nama dan bertemu Andre. Dia bahkan menurunkan semua fotonya bersama Andre dalam kamarnya, wajah itu mengingatkan foto tentang perselingkuhan mereka.


Dalam beberapa hari Ana pikir dia akan keluar dari rumah itu, dan memproses perceraian mereka, meskipun sakit tapi tak ada lagi yang bisa dipertahankan.


Dan dia harus bisa bertahan hidup dengan usahanya sendiri mulai sekarang.


Tiba-tiba langkah Ana terhenti, di depan sana suaminya berdiri sambil menatapnya tajam. Ana melanjutkan jalannya menghampiri suaminya yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Ana menghela nafasnya, 'akhirnya waktunya tiba, selalu, lebih cepat lebih baik,' batin Ana. Ana melangkah dengan pelan, detak jantungnya mulai tak beraturan,


"sepertinya dia sudah tak sabar untuk berpisah denganku," Ana tersenyum getir, hatinya berdenyut hebat.


"kenapa berdiri di sini?" Ana bertanya saat jarak mereka sudah dekat.


Greb


Andre menarik tangan Ana, membiarkan tubuh Ana jatuh dalam pelukannya. Dia memeluknya dengan erat, sebaliknya Ana hanya terdiam tak merespon apapun yang dilakukan suaminya.


"apa sudah cukup?" tanya Ana dengan dingin,

__ADS_1


air matanya mulai mengalir dari sudut matanya, dia menggigit bibirnya agar tak keluar suara isakan, dia berusaha menstabilkan perasaan dan suaranya. Dari hati terdalamnya ingin sekali dia membalas pelukan itu, menangis dengan kencang dalam pelukan suaminya, melepaskan semua yang menyesak di dadanya selama ini.


Andre terkejut, matanya melebar saat mendengar ucapan Ana, juga tubuh Ana yang hanya mematung dengan kaku.


"Ana," ucap Andre lembut lalu melepaskan pelukannya, tangannya memegang kedua lengan Ana berusaha untuk menatap wajah Ana yang sebagian tertutup rambut panjangnya. Ana menundukan wajahnya, dia tak ingin Andre melihatnya menangis, dia tak ingin Andre merasa kasihan padanya. Sebelah tangan Andre mengangkat dagu Ana, dia ingin melihat wajah istrinya, tapi Ana memalingkan wajahnya untuk menghindari.


"ayo kita bicara," Ana melepaskan diri dari Andre, mundur beberapa langkah untuk sedikit menjauh, hati Andre berdenyut keras.


Istrinya masih saja mengindar darinya.


"ya, ayo kita bicara," jawab Andre lemah.


Ana berjalan melewati Andre, dia membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam diikuti Andre, Andre meraih tangan Ana dan membimbingnya untuk duduk di pinggiran tempat tidur sementara dia berjongkok di depannya.


"ada apa? katakan?" Andre memegang kedua tangan Ana, Ana masih menundukan wajahnya.


"kenapa masih bertanya? bukankah aku pernah menanyakannya?!"


Mata Andre melebar, lalu menajam menatap istrinya.


Ana mengangkat kepalanya, dia menatap mata suaminya yang berjongkok di depannya. Andre terkejut saat melihat wajah Ana penuh dengan air mata. Kedua tangannya meraih wajah istrinya lalu mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya dengan perlahan. Tindakan suaminya membuat pertahanan Ana runtuh seketika, dia mulai menangis dengan keras. Andre memeluk tubuh istrinya dengan erat, membiarkannya menangis dalam pelukannya. Ana membalas pelukan suaminya, melarutkan semua perasaan dalam pelukan suaminya. Setelah tak terdengar lagi tangis dari bibir istrinya, Andre mulai merenggangkan tubuhnya, dia kembali mengusap kedua pipi istrinya. Beberapa kali Ana menyedot ingus di hidungnya.


Shrooottttt,,,,


"ih, jorok banget sih," Ana memukul dada Andre dengan keras, Andre tersenyum, sepertinya emosi istrinya sudah mulai stabil lalu mengambil tisu. Ana menggunakan tisu itu untuk mengelap wajahnya juga ingusnya.


"iiiiihhhh,,," Andre bergidik jijik saat melihat tisu bekas ingus istrinya, melihat itu Ana mulai berpikir jahil.


"niiii,,, ingus, niiii,,,," Ana menyodorkan tisu bekas ingusnya ke depan wajah Andre sontak membuat Andre terjengkang dan mengesot mundur. Ana tertawa melihat tingkah suaminya, dia dengan sengaja mendekati suaminya dengan tisu ingus di tangannya.


"stop! Ana! awas kamu ya kalo mendekat lagi, jorok tau!" Andre mulai sewot saat melihat istrinya mulai berjalan ke arahnya. Andre dengan sigap berdiri untuk menghindar, sayangnya apa yang Andre pikirkan tak sesuai yang dia kira, Ana berjalan melengos melewati suaminya yang siap berlari untuk menghindari kejahilannya. Ana berjalan menuju meja belajarnya dan membuang bekas tisu di tong sampah di bawahnya. Ana tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya, puas sekali rasanya. Akhirnya Andre menghela nafasnya.

__ADS_1


"ha!" Ana berteriak untuk mengejutkan Andre.


"aaarrrgggg,,," spontan Andre berteriak lepas karena terkejut.


hahahaha,,, Ana tertawa terbahak-bahak, dia benar-benar sukses menjahili suaminya.


"ah!" Ana terkejut saat Andre tiba-tiba mengangkat tubuhnya, lalu menjatuhkannya di tempat tidur. Andre menindih tubuh Ana, lalu mulai mencium bibirnya dengan lembut Ana sedikit terkejut, tapi akhirnya dia membalas ciuman suaminya. Andre melapaskan tautannya, dia menatap istrinya dengan intens, betapa dia merindukan wajah itu. Andre mencium kening Ana, mencium kedua matanya, hidungnya, pipi kanan dan kiri lalu mencium bibirnya lebih lama. Dia menempelkan keningnya ke kening istrinya.


"Ana, hanya kamu, tak ada yang lain,,," bisiknya dengan lembut.


"bagaimana dengan Weni?" tanya Ana gugup.


"Weni?" Andre menjauhkan wajahnya dari wajah Ana, keningnya berkerut tanda tak mengerti.


"ada apa dengan Weni?" Andre bertanya dengan kerutan di kening yang semakin dalam.


"bukannya kamu menyayanginya?" Dada Ana berdebar kencang menunggu jawaban dari suaminya.


"tentu saja aku menyayanginya, dia adikku, tapi jangan berpikir yang aneh-aneh, sayangku padanya cuma sebatas sayang kakak pada adiknya," Andre menjentikan jarinya di kening Ana.


"benarkah?!"


"kamu ini, apakah saat seperti ini harus membahas hal yang gak penting?!"


"aku, uh!" Andre kembali mencium bibir Ana untuk membungkamnya, sudah hampir seminggu dia tak menyentuh istrinya dan dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


**********


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2