Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Hamil


__ADS_3

"pak Nara perhatian waktu itu, Na, bawain makanan, kambing guling buat aku, sama teh jahe,"


Sudah hal yang lumrah jika dia dan pak Nara sering berkomunikasi tapi itu hanya sebatas urusan pekerjaan, jika di luar tentu saja mereka tak dekat. Tapi setelah kejadian itu pak Nara jadi sering menanyakan kabar teh Tia, lebih sering lewat chat pribadi. Dia juga sering mengajaknya makan bersama di kantin saat tiba waktu jam makan siang.


"lama-lama, kita jadi makin biasa saling kasih perhatian, bangun tidur dia chat, di tempat kerja, sebelum tidur dia suka nelepon dulu,"


Bukan teh Tia tak tahu kalau atasannya itu sudah berkeluarga, itu pun sempat membuat dia merasa galau. Dia pun sering merasa apa yang terjadi diantara mereka adalah salah, tapi karena merasa nyaman dengannya teh Tia malah mencari alasan untuk membenarkan prilakunya. Mencoba menepis perasaannya sendiri bahwa tak ada apa-apa di antara mereka, cuma jalan bareng aja, pikirnya. Perhatiannya juga tak lebih hanya sekedar perhatian biasa antara atasan dan bawahan, begitulah dia mencari alibi untuk membenarkan semua perilakunya. Tapi semakin lama orang-orang di timnya mulai mencium ada yang tidak benar diantara mereka dan dia pun mulai mendengar bisikan-bisikan yang tak enak didengar. Hal itu sempat membuat teh Tia mencoba menjauhi pak Nara, beberapa kali dia menolak ajakan pak Nara di akhir pekan.


"mas Nara nanyain, kenapa jadi mengindari, aku gak jawab" ucap teh Tia, sambil sesenggukan.


Saat dia sedang merasa sakit hati karena putus dari pacarnya tiba-tiba seseorang datang memberi perhatian yang sempet hilang, tentu saja dia sangat bahagia.


"terus akhirnya dia curhat, kalo hubungan dia sama istrinya udah renggang, udah lama, dia bilang mah udah diambang perceraian, makanya waktu dia minta kita untuk berhubungan baik lagi, aku jawab iya"


Tapi untuk kali ini mereka menyembunyikannya dari orang-orang, teh Tia tak mau orang bergosip tentang mereka, dan semakin lama hubungan mereka menjadi semakin dekat.


"istrinya gimana?" tanya Ana penasaran.


"istrinya orang Bandung dia tak mau ikuti mas Nara tinggal di Jakarta, karena itu aku tak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dengan hubungan mereka,"


Karena mereka sama-sama tinggal sendiri, pak Nara sering mengantar teh Tia sepulang kerja, tentu saja mereka janjian di tempat yang sedikit tersembunyi agar tak ada yang mengetahuinya. Perhatian seperti itu jelas membuat teh Tia semakin merasa dirinya spesial, pak Nara juga jarang pulang ke rumah istrinya hampir tak pernah bahkan. Di akhir pekan yang seharusnya waktu untuk keluarga pak Nara lebih sering bersama dengan teh Tia. Itu membuat teh Tia yakin bahwa hubungan pak Nara dengan istrinya memang sedang diambang perceraian. Suami yang baik tentu saja akan selalu meluangkan waktu untuk keluarganya sesibuk apapun, Minggu tetaplah hari libur, belum lagi Jakarta-Bandung bukanlah perjalanan yang jauh.


"itulah kenapa aku percaya padanya,"


"lalu sejak kapan kalian,,, (berhenti sejenak) melakukan itu?" suara Ana melemah di akhir kalimat, dia merasa tak enak untuk menanyakannya, tapi tetap penasaran.


"kamu ingat waktu kita ketemu di BTC, kamu lagi sama Stela waktu itu, aku bilang aku baru selesai kunjungan pabrik." Ana mengangguk, jelas dia sangat ingat karena saat itu adalah pertama kalinya dia menyalah pahami suaminya sebagai seorang gay, tentu saja berkat teh Tia. (kalo lupa boleh dibaca lagi di episode "Om Andre gay????")


"hari itu aku bilang aku gak pulang ke rumah, jadi aku minta kalian jangan bilang ke Dimas, malam itu kamu tidur di hotel, mas Nara bilang dia tak mau pulang ke rumah istrinya, jadi dia tinggal di hotel," Teh Tia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, segurat penyesalan terpancar dari matanya.


"Aku menangis menyesalinya, tapi mas Nara bilang dia janji mau nikahin aku setelah menceraikan istrinya, dia minta aku bersabar,"

__ADS_1


"tapi hari itu teh Tia balik ke Jakarta sendiri?"


"ya, mas Nara bilang dia ingin menemui istrinya untuk memperjelas hubungannya, jadi aku pulang sendiri."


Ana menghela nafasnya.


"lalu?" teh Tia kembali menangis.


"Aku mengajaknya makan malam hari ini, aku ingin memintanya menikahiku, tapi sebelum aku mengatakannya, dia lebih dulu bilang kalo dia sudah baikan dengan istrinya dan ingin putus denganku,"


'luar biasa! setelah puas, lalu dibuang!' batin Ana geram.


"lalu apa yang dia katakan saat teh Tia hamil anaknya,"


"dia meminta aku menggugurkan kandunganku."


Ana membelalakkan matanya tak percaya.


Beberapa saat kemudian teh Tia berhenti menangis lalu meminta ijin ke kamar mandi.


******


Ana : Sabar ya suamiku, 😂


Andre Tek menjawab chat Ana.


toktoktok


Ana yang menunggu balasan dari suaminya tiba-tiba mendengar pintu diketuk, dia lalu beranjak membuka pintu.


"A Andre, ada apa?" Ana kaget ternyata Andre yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"ah!" Andre menarik tangan Ana kalau memeluknya dengan erat.


"A,,, aku gak bisa nafas," Andre melonggarkan pelukannya setelah mendapatkan protes dari istrinya.


"aku kangen," Andre memelas.


"astaga,,, hmpt!" Andre mencium bibir Ana membuat Ana tak bisa meneruskan kata-katanya. Andre ******* bibir istrinya lebih dalam.


"mph,,," Ana mendorong tubuh suaminya dengan keras dengan sekuat tenaga, setelah berhasil terlepas Ana memukul dada bidang suaminya. Dia tak menyangka suaminya akan senekat itu.


"gimana kalo ada yang liat?!" Ana sewot sambil menengok ke segala arah.


"memangnya kenapa? kau istriku dan juga kita berada di rumah," Ana memukul suaminya lagi, sementara Andre kembali memeluk tubuh istrinya. Ana hanya bisa menghela nafas, begini rasanya jadi pengantin baru, pikirnya.


Di tempat yang tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang menatapnya dengan sedih.


"mas Andre, kenapa bukan aku? aku sudah mencintaimu sejak lama, aku mencintaimu lebih dulu darinya, seharusnya aku yang menikah denganmu, mas, hiks" Weni berjalan kembali ke kamarnya. Awalnya dia keluar kamar karena merasa ada keramaian di bawah, dia berpikir kalau Andre sudah pulang. Dengan perasaan sangat senang dia melompat bangun dari tempat tidurnya, tak disangka dia malah menyaksikan sesuatu yang akan membuat hatinya perih.


Brak!


Andre dan Ana kaget saat mendengar suara itu berasal dari dalam kamar mandi yang dipakai oleh teh Tia. Ana langsung masuk ke kamar untuk menemui teh Tia, sementara Andre dia hanya berdiri di tempat semula dia tak berani masuk ke dalam kamar perempuan yang bukan mahramnya, bahkan ke kamar Weni pun dia tak pernah.


********


Makasih reader semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2