Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
65


__ADS_3

"mang, Ari si tuan teh bager teu sih?" (mang, kalo si tuan itu baik gak sih?) Ana buka suara saat sudah masuk ke area Depok.


"ih bukan baik lagi atuh neng, eh! nyah, mang Imam jadi supir nya tuan itu sejak dia jadi pimpinan di perusahaan, kalo gak salah tilu belas tahun Kitu, pokona lebih ti sepuluh tahun we neng, eh, nyah, mang Imam mah bukan sing mau ngebagus-bagusin padah di depan nyonya, tuan itu sekalipun sok meledak-ledak lamun ngambek, tapi dia mah peduli sama orang-orang disekitarnya neng, eh, nyah"


saking semangatnya mang Imam sampai salah memanggil nyonyanya sendiri. Ana tersenyum, mendengar mang Imam sendiri mungkin lebih nyaman memanggil dia dengan sebutan Sunda.


"Ya udah mang, panggil Eneng aja kalo gak di rumah, si tuan gak akan tau juga mang,"


"Eh gak boleh atuh nyah, bilih engke janten kabiasaan, teu sae nyah, gimana kalo nanti mamang salah manggil pas di depan tuan, habis atuh mamang," ( takutnya nanti kebiasaan, gak bagus nyah)


"Katanya tuannya baik, tapi takutnya sampe gitu"


"Baik mah baik, nyah. Tapi kalo ada yang salah mah tetep aja dimarahin."


"Masa cuma panggilan doang dimarahin,"


"Sebenarnya dulu mah tuan gak gini nyonya, tapi setelah waktu itu ada kejadian itu, tuan jadi lebih tegas"


"Kejadian apa mang?" Mang Imam terlihat menepuk bibirnya yang sudah keceplosan membicarakan yang seharusnya tidak dia bicarakan. Mang Imam menghela nafasnya.


"Sebenarnya, mamang mah gak tahu persis ceritanya kumaha nyah, mamang mah cuma sempet denger aja, katanya pernah ada pembantu yang ngegoda tuan, gitu!"


"Art mang, asisten rumah tangga, bukan pembantu!" Ana menegaskan.


"Iya itu nyah,"

__ADS_1


"Terus, terus, gimana?" Ana terlihat semangat dengan cerita masa lalu suaminya.


"Ya diusir atuh nyah,"


"Oh ya? Terus? Langsung diusir gitu aja apa gimana mang?"


"Mamang mah cuma tahu itu aja nyah, terus setau mamang mah yah, tuan itu mengerti pisan agama, jadi dia mah gak akan mungkin mau melakukan yang aneh-aneh, kecuali kalo udah halal"


'bagus sih bagus kalo dia gak bengkok! huh! Emang dasarnya dia gak suka cewek aja makanya diusir,' batin Ana.


"Emang ngegodanya sampe gimana sih? Sampe diusir gitu?"


"Sampai di tempat tidur katanya, bahkan tempat tidurnya diganti, saking gak sukanya."


'iya juga ngapain aku masalahin kelakuan dia ke aku, emang sejak awal kelakuannya anehkan?!'


"Nyonya, sudah sampai!" Mang Imam berbicara setelah mobilnya berhenti dengan sempurna.


"Astagfirullah,,, keasikan ngobrol sampe gak berasa, makasih ya mang" Ana mengambil tasnya lalu membuka pintu mobil. "udah mang! Gak usah dibukain, aku bisa buka sendiri!"


Ana langsung menghentikan mang Imam yang hendak turun dari mobilnya seperti biasa dia akan membukakan pintu mobil untuknya. Ana keluar mobil lalu berjalan menuju gedung kampusnya.


Kantor Andre.


Jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi saat Andre sampai di kantor. Sakti sampai tak lama setelahnya, dia bahkan menggunakan ojol untuk mengejar bosnya. Jika sampai dia terlambat terlalu lama dia pasti kena semprot atasannya yang juga sahabatnya itu. Apalagi suasana hatinya saat ini pasti sedang buruk, kemungkinan bukan hanya kena semprot, Sakti berharap dia tak akan dilemburkan, malam ini dia sudah ada janji dengan Mariana.

__ADS_1


Malam hari


Seperti biasa setelah Andre membersihkan diri dia akan ke ruang kerjanya untuk mengecek beberapa berkas, terlebih meeting hari ini tidak berjalan mulus karena suasana hatinya sedang gusar. Sebenarnya dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi tadi pagi, tapi Andre tak tahu apa yang harus dilakukan pada istrinya jadi dia melampiaskan kekesalannya saat meeting membuat suasana meeting terasa tegang yang berimbas pada jalannya meeting menjadi sangat panjang.


"Weni, sebaiknya kamu Istirahat saja,"


"Tak bisakah kamu biarkan aku menemanimu mas, aku akan mendengar keluhanmu bila kamu sedang punya masalah," Weni bicara sambil berjalan mendekati Andre, lalu memijat pundak Andre. Andre menghela nafasnya, akhir-akhir ini dia merasa ada yang salah dengan adiknya itu, Weni semakin berani masuk ke kamarnya, selain terus menempel padanya dia bahkan berani menggunakan baju terbuka didepannya, membuatnya merasa semakin risih.


"Tidak, kembalilah istirahat," Andre melepaskan tangan Weni dari pundaknya dengan lembut, dia tetap tidak mau menyakiti adiknya.


"Tapi mas,,,"


"Tolong tutup pintunya,"


Weni keluar dengan perasaan yang kesal. 'kenapa dia selalu menolakku? Kurang apa aku ini sebenarnya, tenanglah Weni dia masih menolak sekarang tapi yakinlah dia pasti akan melihat bahwa kamu lebih bisa melayaninya dibandingkan dengan istrinya yang tak berguna itu! Ya, selama mereka pisah kamar apa yang perlu aku takutkan, aku hanya tinggal meyakinkan mas Andre untuk menceraikannya, tak akan lama lagi setelah aku mendapatkan hati mas Andre dia pasti akan membuang perempuan itu,' Weni berargumen dalam hatinya meyakinkan diri bahwa selain dia tak akan ada lagi wanita yang bisa dekat dengan Andre, kakaknya yang sangat dia cintai, lebih tepatnya sosok laki-laki yang dia cintai sejak lama.


"Baru jam sebelas, apa dia sudah tidur? Heh! Tidur, gak tidur, apa bedanya dia tetap tak akan membiarkan aku tidur disampingnya." Andre menghela nafasnya. Bahkan untuk tidur disamping istrinya sendiripun dia harus mengendap-endap seperti maling. Andre melemaskan otot lehernya, memijatnya dengan sebelah tangan beberapa kali.


"Sebaiknya aku istirahat sekarang," Andre beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju kamar tidurnya. Saat hendak membuka pintu kamarnya dia berpikir sejenak, 'jika aku tak tidur disampingnya dia pasti akan merasa senang kan?! heh! Kita lihat semarah apa dia saat dia bangun dan melihatku berada disampingnya.' Akhirnya Andre turun tangga menuju kamar Ana.


Saat ini dia tak mengendap-endap seperti yang dia lakukan kemarin, dia tak peduli jika Ana akan marah padanya, dia akan tetap tidur bersamanya. Tapi apa yang terjadi diluar perkiraannya, ternyata Ana mengunci pintu kamarnya.


"Ck! Dia Kira aku tak bisa masuk ke kamarnya jika dia menguncinya," Andre berbalik berjalan menuju dapur, dia membuka laci tempat kunci cadangan. Semua kunci di rumahnya itu memiliki cadangannya.


'heh! Akhirnya ada gunanya juga kunci cadangan ini'

__ADS_1


__ADS_2