Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
119. Episode Gak Penting


__ADS_3

Pagi hari di meja makan


"Mam, apa mas Andre belum turun?" Weni yang sedang mengolesi selai di roti sejak tadi terus melirik ke arah tangga, berharap Andre akan turun, dia ingin bicara dengannya.


"Kakakmu itu belum pulang," jawab mami Ambar yang lebih memilih sarapan dengan nasi goreng, Weni mengerutkan keningnya.


"tadi malem dia bilang mau bawa istrinya pulang, sepertinya dia tidur di rumah Ana semalam," lanjut mami Ambar membuat Weni membelalakkan matanya tak percaya. 'apa mereka sudah baikkan? bagaimana bisa? apa mas Andre sudah tahu yang sebenarnya? jika mereka benar-benar bicara maka kemungkinan Ana mengatakan yang sebenarnya,' batin Weni hingga dia teringat sesuatu lalu mengambil ponselnya, dia mengotak ngantik sebentar lalu kembali ke aktivitas sarapannya.


"kenapa mami gak kasih tahu aku, aku bisa antar mas Andre, aku juga ingin bicara dengan Ana,"


"gak apa-apa, suami istri perlu waktu berdua untuk menyelesaikan masalah,"


"yes and husband and wife problems can be solved in bed, so it's impossible for you to come,,," (ya dan masalah suami dan istri itu bisa di selesaikan di tempat tidur, jadi gak mungkin kamu ikut) papi Steve menambahkan.


Weni mengepalkan tangannya, dengan susah payah dia merancang semuanya untuk memisahkan mereka, hanya tinggal menandatangani surat perceraian saja, tapi semua seperti tak ada artinya sekarang.


*********


"yank, bangun dong, aku laper..." Maria membangunkan Sakti beberapa kali tapi masih tak berhasil, Sakti malah menutup kepalanya dengan bantal.


"Ay, pesan antar aja, aku masih ngantuk," Sakti bicara dari balik bantal. Maria mendekap kedua tangannya di dada lalu menyipitkan matanya menatap kekasihnya yang sepertinya kembali tertidur. Hari libur adalah hari yang sangat ditunggu Sakti, dia ingin tidur sepuasnya, sejak hubungan Andre dan Ana bermasalah dia sudah benar-benar sibuk ditambah Andre mengalami Kecelakaan, dia lembur hampir tiap hari. Kadang hari minggupun dia masih harus mengurusi pekerjaan, syukurlah akhir-akhir ini Andre kembali gila kerja walau berakhir masuk rumah sakit saat mendapati surat perceraian di tangannya.


Maria menarik bantal yang dipakai untuk menutupi kepala oleh Sakti.


Byurrr...


"aaakkhhh...." Sakti terbangun dengan spontan saat air dingin menerpa wajahnya dengan tiba-tiba.


"Aaaayyyy...." Sakti berteriak memanggil Maria, sedangkan Maria berlari menjauh setelah menjahili kekasihnya.


"awas kamu Ay..." Sakti bangun sambil mengancam Maria, hahahaha... Maria tertawa tergelak sambil berlari menjauh, dan Sakti mulai berlari mengejar kekasihnya melewati sofa lalu berlari di atas tempat tidur yang membuat Maria hampir terjatuh karena tersandung selimut yang berantakan yang akhirnya berhasil ditangkap oleh Sakti. Sakti menggendong tubuh Maria di atas bahunya, dengan kepala menghadap ke belakang, seperti memanggul karung beras. Lalu berjalan menuruni tempat tidur.


"hei... let me go...!" Maria berteriak sambil bergerak tak beraturan meminta diturunkan.

__ADS_1


"diam!"


Plak!


"Akh!"


Maria menjerit saat tangan Sakti mendarat di b0k0ngnya dengan kasar.


"kau harus dihukum karena berani menjahili suamimu,"


"siapa suamiku? kita belum menikah, ok?!"


"tentu saja kita akan menikah," Sakti membuka pintu kamar mandi.


"kau mau apa? aku sudah mandi!" Maria berteriak sambil kembali bergoyang.


"kau harus menemaniku mandi, itu hukumamu,"


"aku gak mau mandi lagi, aku lapeeerrrr..." teriak Maria, tapi apa yang bisa dia lakukan tentu saja Sakti sangat mendominasi, hingga akhirnya Sakti menurunkannya dan menyalakan shower yang membuat tubuh mereka basah.


"aaahh...." Maria mulai m3nd3s4h saat daerah intinya terasa penuh oleh milik kekasihnya


********


Andre, Ana, teh Tia dan Dimas duduk di kursi ruang makan yang sangat sempit, membuat mereka terlihat canggung hingga hanya ada keheningan di antara mereka.


"maaf, saya tak tahu kalau Bapak akan kemari, jadi saya hanya membeli tiga bungkus sarapan,"


"gak apa-apa, makasih ya, Di, Dia bisa makan punya aku,"


"ehem..." Andre berdehem karena tak setuju dengan panggilan istrinya padanya sementara dia memanggil Dimas dengan panggilan mesra, tapi dia masih tak mendapatkan hak untuk protes, apalagi istrinya masih belum memberi lampu hijau untuk hubungan mereka. Terlebih sebenarnya dia sudah hampir diusir oleh istrinya, beruntunglah Dimas datang membuat dia memiliki alasan untuk tinggal. Andre akan pergi jika Dimas pergi, sementara Ana tak enak menyuruh Dimas pergi karena masih ada teh Tia disana.


Ana menyiapkan tiga piring dan tiga sendok untuk kupat tahu yang dibeli Dimas untuk sarapan mereka. Andre memperhatikan makanan yang Ana sisihkan ke piring di depannya, makanan yang terlihat berantakan dan tak jelas bentuknya membuat keningnya mengkerut.

__ADS_1


"makanan apa ini?" satu kalimat lolos dari bibirnya membuat semua yang ada disana semakin terdiam, sementara Ana, dia menghela nafasnya. Tentu saja suaminya yang konglomerat itu tak pernah makan makanan dipinggir jalan, mungkin bukan tak pernah makan kupat tahu, hanya saja kupat tahunya versi orang kaya yang di platting dengan sangat cantik, tidak dibungkus dengan kertas nasi dan saat disisihkan bentuknya jadi Tak jelas.


"ah aku lupa, Tuan muda kita tak pernah makan makanan rakyat," cibir Ana sedikit kesal, bukannya bersyukur sudah dibelikan sarapan ini malah protes, batin Ana. Ana mengambil piring yang berisi kupat tahu di hadapan Andre, lalu menyendoknya dan memakannya sendiri.


"ayo makan, Teh, Di," Andre membelalakan matanya, istrinya benar-benar tak peduli padanya. Akhirnya saat Ana siap menyuap untuk kedua kalinya Andre memegang tangan Ana yang memegang sendok untuk disuapkan ke mulutnya, Ana melebarkan matanya, dia terkejut dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba, pipinya memerah karena malu. Sedangkan teh Tia yang melihat kelakuan Andre yang seperti anak kecil mulai mesem-mesem sendiri. Ana mencubit perut suaminya gemas.


"akh, sakit, sayang," Andre memegang tangan istrinya yang mencubit perutnya.


"ehem..." Dimas berdehem, dia benar-benar merasa canggung dan tak menyangka dengan sifat big bosnya yang dingin dan sangat berwibawa tiba-tiba berubah manja saat dekat dengan istrinya tentu saja membuat hatinya panas.


"aaaa... mau lagi," Andre membuka mulutnya agar Ana kembali menyuapinya lagi, dia tak menghiraukan dengan suasana yang menjadi semakin canggung akibat ulahnya. Ana menyipitkan matanya menatap suaminya.


"makan sendiri! tadi gak mau! makanya jangan protes dulu!" Ana menyodorkan piring ke hadapan suaminya, lalu berdiri melengos meninggalkannya masuk ke dalam kamar. Andre menghela nafasnya lalu berjalan mengikuti istrinya.


"sayang kenapa gak jadi sarapan, aku laper..." rajuk Andre saat di dalam kamar, Ana duduk dengan muka cemberut. Andre berjongkok dihadapan istrinya.


"sayang..."


"bisa gak sih kamu tuh jaga kelakuan, disini banyak orang,"


"Sayang apa salahnya jika kamu menyuapi suamimu, aku rasa mereka juga gak akan keberatan,"


"iya, tapi aku malu..."


"baiklah-baiklah, aku minta maaf, jangan marah lagi, hm?" Andre menangkup kedua pipi istrinya yang masih mengerucutkan bibirnya, sungguh dia sangat ingin m3lum4t bibir yang sangat dirindukannya itu.


”""""""""******"""""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2