Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
75


__ADS_3

Keesokan harinya Ana mulai melancarkan apa yang sudah dia rencanakan, dia tak lagi membiarkan suaminya dilayani orang lain. Mulai menyiapkan kopi, sarapan juga baju kerja. Andre tersenyum melihat, istrinya sudah mulai mengerti cara melayaninya.


"hari ini kamu rajin banget ya, Na! kamu menyiapkan semuanya sendiri" Weni menyindir Ana yang seperti sedang berlomba dengannya untuk melayani Andre.


Ana tersenyum, dia duduk di samping suaminya sambil menyodorkan secangkir kopi.


"terimakasih sayang," Andre menerimanya dengan senyum penuh di bibirnya.


"tentu saja, semuanya berkat kamu Weni, kamu yang mengajarkan aku cara melayani suami dengan baik, benarkan a?!" Ana mengalihkan pandangannya menatap suaminya disambut dengan senyum oleh Andre, hari ini mereka terlihat kompak. Andre mengerti apa yang coba istrinya lakukan, dia memperlihatkan kepemilikan atas dirinya. Tentu saja itu membuat Andre merasa di atas angin. Andre mencondongkan badannya mendekati Ana.


"sudah pintar melayani rupanya, ditunggu layanan di tempat tidurnya," bisik Andre yang berhasil membuat wajah Ana terasa panas hingga memerah karena malu, jantungnya berdetak tak karuan. Pemandangan itu tentu saja tak luput dari penglihatan Weni. Lain dengan Ana yang wajahnya memerah karena malu, yang dirasakan Weni justru sebaliknya hatinya panas karena cemburu.


Sementara Sakti yang sejak tadi hanya terdiam memperhatikan semua mulai mengerti situasinya. Kurang lebih hubungan sahabatnya dengan istrinya mulai menunjukkan perkembangan ke arah yang baik. 'benar juga, setelah badai selalu ada pelangi'


"tanda-tandanya udah harus siap punya ponakan, nih." celetuk Sakti dan berhasil membuat semua pandang tertuju padanya.


"kenapa? benarkan, bukannya normal buat semua pasangan untuk membuat anak?"


uhuk, uhuk,


Ana terbatuk mendengar ucapan Sakti, ada kata yang salah di kalimat terakhirnya.


Andre menyodorkan air putih pada Ana sambil menepuk pelan punggung istrinya.


Drama pagi hari yang cukup membuat ruangan terasa panas berakhir setelah Andre, Sakti dan Weni berangkat kerja. Andre memulai kebiasaan untuk mencium kening Ana sebelum pergi kerja. Ana berangkat ke kampus dengan hati berbunga-bunga, dia tak perlu lagi memendam perasaannya.


Malam hari


Ana dan Andre sudah bersiap tidur, seperti semua pasangan yang akan menggunakan waktu sebelum tidurnya untuk mengobrol, curhat atau sekedar wasting time. Andre menyusupkan lengannya ke kepala Ana, agar Ana menggunakan lengannya sebagai bantal.


"An, besok sore aku terbang ke Singapura, siang tadi aku dapat kabar, salah satu pendiri perusahaan itu sudah menerima pengajuan harga dari kita,"

__ADS_1


"masih masalah akuisisi itu ya?!"


"hm,,, sebenarnya masih ada beberapa kendala, itu akan dibahas di meeting nanti,"


"masalah apa?"


"perusahaan itu didirikan oleh beberapa orang, sebagain sudah mau menjual perusahaannya, sebagian lagi masih belum setuju, aku akan mencari solusi untuk itu,"


"ya namanya juga perusaan yang dirintis sendiri, mungkin dia merasa perjuangannya selama ini jadi sia-sia jika tiba-tiba harus dijual begitu aja,"


"tapi perusahaan mereka sudah mau bangkrut, harusnya sebagai seorang pebisnis sudah tau jika dipertahankan seperti itu perusahaannya tak akan ada harapan ke depannya." Ana menyelimuti mereka sebelum kembali memeluk suaminya.


"besok pergi sama siapa?"


"Weni,"


"Weni?"


"em, syukurlah." ucapan itu tak mewakili hati Ana yang merasa risau, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Suaminya tak mungkin mengurusi semua urusan perusahaan sendiri, dia butuh orang yang dipercaya untuk mendampinginya. Setidaknya Ana percaya Weni tak mungkin macam-macam, jika dibandingkan wanita lain yang mendampingi suaminya.


"besok kayaknya aku pulang agak sorean,"


"kenapa?"


"temanku minta bantuan buka stand di mall untuk pameran weekend ini," Andre mengerutkan keningnya.


"aku lupa belum bilang ya, aku punya temen dia anak design, merancang baju, dia udah mulai bikin baju sejak awal kuliah, cara pemasarannya masih via online sama ikut pameran-pameran gitu, (Hela nafas) seneng ya, orang udah bisa nyari duit sendiri,"


"satu kampus?" Andre membetulkan posisinya untuk lebih memeluk istrinya.


"gak, dia temen SMA, dia kuliah di Jakarta, setelah dia tau aku kuliah di depok kita jadi lebih sering berhubungan, weekend ini aku janji mau bantuin dia jagain standnya."

__ADS_1


"perempuan?"


"Hem,,,"


"kamu lebih senang nemenin temen kamu daripada ikut aku ke Singapura,"


"kok gitu ngomongnya, aku udah janji sebelumnya, lagian aku bantuin dia setelah aku selesai kelas, sementara kalo aku ikut ke Singapura berarti aku harus ijin gak kelas dong" Ana membalikan tubuhnya menatap suaminya,


Bukan Ana tak ingin ikut, besok hari Kamis dia ada kelas tentu saja Ana tak bisa ikut. Semester pertama ini cukup riskan baginya untuk tidak ikut kelas. Andre mengeratkan pelukannya, dia menyandarkan kepalanya di dada Ana.


"Ana,,,"


"hm, ayo tidur,,, " Ana membalas pelukan suaminya, entah apa yang membuat Ana ragu, dia masih belum bisa sepenuhnya memberikan hatinya pada suaminya.


Akhirnya Andre tidur dalam pelukan istrinya.


Pagi hari


Dengan kesibukan baru Ana yang sudah mulai menyita waktu paginya, dari mulai menyiapkan baju kerja suaminya, membuatkan kopi juga sarapan. Cukup melelahkan tapi itu membuat Ana lebih merasa diakui menjadi seorang istri. Ana menyiapkan beberapa baju yang akan dibawa ke Singapura oleh suaminya. Kemungkinan dia tak akan sempat pulang sebelum berangkat, Ana pun sudah ijin


pada suaminya untuk pulang terlambat hari ini.


“aku pergi dulu, An! Jangan pulang terlalu malam,”


“hem,,,” Ana menyalimi tangan Andre dan Andre mencium pucuk kepala Ana.


“kenapa kamu gak ikut ke Singapura, Na?” Sakti bicara sambil masuk ke dalam mobil.


“aku ada kelas hari ini, mas Sakti,” Andre masih memeluk tubuh Ana sebelum dia mengikuti Sakti masuk ke dalam mobil. Weni mengikuti keduanya masuk ke mobil. Sudah dua hari ini dia merasa asing dengan kegiatan sehari-harinya sejak Ana aktif melayani suaminya sendiri. Apalagi disaat seperti ini, saat akan melakukan perjalanan bisnis, biasanya dia yang menyiapkan baju Andre juga dia akan menyatukan bajunya di koper yang sama dengan Andre.


Dia terus melamun dalam mobil selama perjalanannya, dia masih berpikir bagaimana caranya untuk merebut perhatian Andre kembali. Masih ada banyak waktu apalagi dia akan sering pergi berdua ke Singapura dengan Andre, bukankah itu kesempatan bagus untuk kembali merebut perhatian Andre, dia bisa melayani sepenuhnya saat Ana tak ada di dekatnya. Dia sudah biasa melayani Andre berbeda dengan Ana yang masih baru dua hari ini melakukannya. Weni pun merasa yakin bahwa walapun mereka sudah tidur satu kamar, belum ada yang terjadi antara mereka. Dia tersenyum memikirkan apa yang akan terjadi di Singapura, ‘aku harus mulai membuat strategi untuk membuat mas Andre jatuh cinta padaku,’

__ADS_1


__ADS_2