Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
77


__ADS_3

Ana melahap makanan yang dihidangkan oleh pramu saji, Andre tersenyum melihatnya.


"kamu tuh, makan kayak yang udah gak makan seminggu,,,"


"laper banget ih, enak lagi,,, hehe"


"ya, ya, pelan-pelan,,, " jawab Andre sambil melap sudut bibir Ana yang terdapat sisa kuah makanan yang sedang dia makan.


Tiba-tiba ponsel Andre berdering, Andre mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"siapa?" Ana penasaran karena melihat sekilas raut wajah Andre yang mengerutkan keningnya.


'mr. Jo?' batin Andre.


"aku angkat telepon duluan sebentar," Andre memberi isyarat pada Ana, dia akan menerima telepon dari koleganya itu di luar restoran karena takut mengganggu pembicaraan mereka. Ana menganggukkan kepala tanda mengerti.


"yes, Mr. Jo!" Andre mengangkat telepon ketika sampai di pintu restoran.


Sementara itu Ana menghabiskan makanannya, lalu tak berapa lama Andre masuk kembali ke restoran untuk menemui istrinya.


"sayang, maaf sepertinya kita harus tunda dulu jalan-jalannya, barusan bos pabrik yang mau aku akuisisi nelepon, dia minta kunjungan pabriknya dimajuin ke sekarang, jadi kita harus pergi sekarang,"


"kok bisa?"


"dia tiba-tiba ada urusan mendadak, harus ke Filipina malam ini,"


"terus aku?"


"kamu apalagi? ikutlah! aku butuh pendamping"


"aku?" Ana menunjuk dirinya sendiri, Andre mengangguk menjawab pertanyaan Ana. Ana yang sadar diri dengan out fit yang dia gunakan lalu memandang baju yang dipakainya sendiri, kaos oblong tangan pendek yang kegedean, jeans ketat ngatung, sepatu kets dan kemeja tangan panjang yang dia ikat di pinggang, sungguh bukan pakaian yang baik untuk menjadi pendamping seorang CEO, Andre tersenyum melihat tingkah istrinya.


"gak apa-apa, kunjungan ini bukan bersifat resmi, dia hanya ingin aku lihat kondisi pabrik dan tata letak bangunannya, aku juga udah bilang mau bawa kamu,"


"tapi masa pake baju begini, sih? gak sopan tau,"


"aku bawa kemeja cadangan di mobil, kamu ganti di mobil aja ya, kita harus pergi sekarang,"

__ADS_1


"yakin, nih?"


"hm,"


"huft" Ana membuang nafas kasar.


Andre mengangkat tangan ke arah seorang pramu saji memberi isyarat untuk meminta tagihan lalu membayar dan kemudian segera pergi. Andre mengemudikan mobilnya melaju menuju tempat yang ditujunya, lokasi sudah di share lewat ponselnya. Sementara Andre mengemudi, Ana berganti baju di belakang.


"hei! jangan ngintip!" Ana menutup bagian dadanya dengan kemeja Andre yang baru dia lepas dari hanger. Ana sempat melihat sekilas saat Andre melihatnya lewat kaca spion.


Andre ketawa melihat reaksi Ana.


"ck! pelit amat sih,"


Ble,,, Ana menjulurkan lidah lalu berbalik dan kemudian kembali berbalik setelah memakai kemeja dengan sempurna. Ana lalu merentangkan tangannya, dia memperlihatkan pada Andre seberapa besar bajunya. Andre tersenyum menatap istrinya saat memakai kemejanya yang kebesaran.


"tak bisakah kita beli dulu baju, ini gede banget!"


"gak bisa sayang, perjalanan kira memakan waktu lebih satu jam, kalau kita mampir beli baju dulu akan sangat terlambat, bukannya biasanya kamu suka pake baju big size?"


"ya tapi gak gini juga, huft! nasib punya badan mini,"


"done! bagaimana? lumayankan? lumayan maksa, hehe,,"


"yah, tidak terlalu buruk!" Ana lalu berpindah duduk di samping suaminya.


"kenapa gak ajak Weni aja, A? aku mending tunggu di mobil deh"


"Weni gak bisa di hubungi, barusan aku telepon Ardi katanya Weni balik ke hotel karena gak enak badan, awalnya aku mau minta dia nganterin berkas,"


"oh!"


Kawasan pabrik


Andre memarkirkan mobil, dia dan Ana disambut oleh utusan dari perusahaan saat mereka baru keluar dari mobil. Ana merasa canggung dan sedikit nervous saat mereka mulai berinteraksi. Andre menggenggam tangannya untuk menenangkan.


"mr Jo, this is my wife" Andre memperkenalkan Ana.

__ADS_1


"hello Mr. Jo, i'm Ana," Ana tersenyum lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"oh, Hello,,," Mr. Jonathan menyambut uluran tangan Ana.


"hello I'm Jeremy, the assistant is Mr. Jo" kemudian asisten Mr. Jo pun memperkenalkan diri pada Ana, Ana tersenyum dan menyambut uluran tangannya.


Pertemuan dan pembicaraan mereka berjalan dengan lancar


, Mr. Jonathan dan asistennya mengajak Ana dan Andre berkeliling mengenal pabrik, mereka menjelaskan dari mulai tata letak, luas pabrik, fungsi beberapa bangun, fungsi mesin dan beberapa peralatan yang mereka pakai juga bagaimana pabrik berjalan. Ana yang awalnya nervous sekarang mulai menikmatinya Mr Jonathan dan asistennya memang merancang pertemuan ini sebagai pertemuan tak resmi sehingga membuat Ana sedikit nyaman dengan senda gurau diantara perbincangan resmi mereka. Kunjungan pabrik yang berada di luar jadwal sebenarnya, tapi akhirnya cukup membuat mereka puas. Berkas yang tadinya ingin Weni mengantarkan ternyata sudah disiapkan oleh pihak perusahaan mereka. Kurang lebih semua berjalan hampir sesuai dengan seharusnya.


Pertemuan berakhir setelah mereka makan malam. Mr. Jonathan dan asistennya segera pamit setelah selesai menyantap makan malam, mereka harus segera pergi ke bandara untuk melakukan perjalanan lewat udara ke Filipina, tinggalah Ana dan Andre yang kini masih berada di sebuah restoran tempat mereka makan malam.


"huft, akhirnya selesai juga," Ana menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Andre yang memang duduk disebelahnya mengelus rambut Ana.


"maaf ya,,,"


"it's ok! huft capek banget ternyata padahal cuma ngobrol sama keliling doang kayaknya, gila empat jam dong!"


"yah, baru segini doang udah bilang capek, gimana kalo nanti, terjun langsung jadi karyawan perusahaan"


"aku pikir jadi CEO tuh enak, tinggal tunjuk sana tunjuk sini,"


"gak ada yang enak, setiap posisi itu punya tanggung jawab sendiri, semakin tinggi posisi semakin berat tanggung jawabnya"


"kalo jadi pegawai negeri gak terlalu pusing kayanya,"


"kalo jadi guru, mungkin, karena mereka hanya tinggal mengikuti kurikulum yang sudah ada, hanya tinggal menyesuaikan bagaimana cara mengajarnya"


"bener juga, nyesel deh dulu kabur pas disuruh kuliah di keguruan,"


"kabur?"


"hehe,,, gak usah dibahas," Ana mengibaskan tangannya. "mau ke mana lagi kita?" lanjutnya sambil membetulkan posisi duduknya.


"kamu mau kemana?"


"aku? " Ana berpikir sesaat "aku pengen liat spectra light!" jawab Ana dengan antusias. Kabarnya pertunjukan spectra a light and water ini sudah sangat populer dikalangan turis, sayang jika melewatkannya. Andre melihat jam tangannya sekilas, sudah hampir jam delapan malam semetara perjalanan ke pusat kota memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jadwal pertunjukan spectra light terakhir sekitar jam sepuluh malam.

__ADS_1


"kenapa?"


"masih bisa kayaknya, ayo kita pergi sekarang,"


__ADS_2