Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
123. Ana Hamil


__ADS_3

"bisa bapak cerita bagaimana ibu bisa tiba-tiba sakit perut?" Andre bingung harus menjelaskannya dari mana, karena dia tertidur saat itu.


"Apa istri anda terjatuh, atau bagian perutnya terhantuk sesuatu,"


"Gak, dok," Ana yang menjawab.


"boleh cerita apa yang terjadi sebelumnya?" Ana bingung apa yang harus dia ceritakan, karena sebelumnya mereka hanya bercinta dan tak melakukan apapun setelahnya. 'jika tak terjadi apa-apa setelah kami bercinta?' Andre berpikir keras, 'apa mungkin...?!'


"dokter, apa berhubungan suami istri bisa membuatnya sakit perut?" Ana mengeratkan pegangan tangannya pada suaminya, dia malu dengan apa yang ditanyakan suaminya, Andre hanya meliriknya sekilas lalu kembali menatap ke arah dokter menunggu penjelasan.


"maaf, apa anda mengeluarkannya di dalam?" tanya dokter tanpa rasa canggung, mungkin ini hal yang memang biasa dibahas bagi dokter kandungan tapi itu membuat Ana dan Andre terkejut bersamaan.


"maksud saya apa bapak tidak sengaja mengeluarkan spermanya di dalam?" Seketika muka Ana memerah sempurna karena malu.


"memangnya ada masalah, dok?!" tanya Andre dengan kening berkerut.


"apa bapak sudah memeriksakan kehamilan istri bapak, karena seharusnya dokter kandungan akan mengedukasi seputar hubungan seksual saat istri sedang hamil, apalagi saat trimester pertama" Ana dan Andre membelalakkan matanya, barulah Ana ingat dengan apa yang dikatakan dokter saat pertama kali dia dilakukan tindakan.


"tunggu, dok! dokter bilang istri saya hamil?"


sekarang dokternya yang mengerutkan keningnya.


"apa ibu dan bapak belum tahu?" keduanya menggeleng spontan. Dokter menghela nafasnya,


"baiklah sesuai pemeriksaan, saat ini istri bapak sedang mengandung, hanya untuk usia kandungannya masih belum tahu, apa ibu ingat kapan hari pertama mens terakhir ibu?"


"hah?" Ana tak mengerti apa yang ditanyakan dokter.


"kapan ibu terakhir menstruasi?" Ana mengerutkan keningnya, dia benar-benar lupa karena sudah terlalu banyak yang terjadi hingga ia melupakan kapan terakhir dia datang bulan.


"saya lupa, dok," Andre mengeratkan genggaman tangannya, dia tersenyum menatap istrinya, sungguh kabar gembira yang tak terduga.


"baiklah jika ibu dan bapak setuju kami akan melakukan tindakan USG untuk mengetahui perkembangan janin juga usianya,"


"iya, dok, lakukan saja," jawab Andre dengan cepat, dokter mengangguk lalu meminta suster menyiapkan form persetujuan tindakan untuk ditandatangani oleh wali pasien.


Setelah semuanya siap Ana akhirnya didorong menuju ruang USG di IGD. Andre terus memegang tangan istrinya sambil tersenyum sendiri, dia benar-benar tak bisa menutupi rasa bahagianya, Ana pun merasa terharu dia memegang perutnya, masih tak percaya bahwa dia sedang mengandung.


Sebelum memulai USG dokter sempat menekan perut bagian bawah Ana.

__ADS_1


"apa baik-baik saja, dok?" tiba-tiba Andre menjadi tegang dia terus memperhatikan apa yang dilakukan dokter pada Ana.


"tenang saja, Pak, ibu sudah baik-baik saja kok, bapak gak usah terlalu tegang ya, sepertinya ini kehamilan pertama ibu ya?!"


"ya, dok, ini yang pertama,"


"ya memang wajar, suami akan lebih terlihat tegang, ini belum seberapa, nanti pas melahirkan tak sedikit bapak-bapak yang pingsan saat melihat istrinya melahirkan." Ana tersenyum melihat Andre, suaminya memang terlihat sangat tegang.


"oke, mari kita mulai" setelah suster selesai melakukan persiapan, USG akhirnya di mulai.


"hm, ini dia sudah terlihat ya, bagus, kehamilannya ada di dalam rahim, memang belum bisa terlihat jelas, tapi janinnya sehat,"


dug-dug, dug-dug, dug-dug


"nah, kedengaran ya, detak jantungnya juga bagus, usia kehamilannya masih di 8 Minggu,"


Andre menghela nafasnya untuk mengurangi rasa tenggangnya, dia memperlihatkan secara seksama layar yang menunjukan keberadaan benihnya dalam rahim istrinya, walaupun sebenarnya dia sama sekali tak mengerti gambar apa yang ada di monitor.


"itu saja, karena memang untuk USG di trimester pertama itu, hanya untuk memastikan janin tubuh di dalam rahim juga usia tepat kehamilannya, baiklah ada yang mau ditanyakan?"


Ana yang baru pertama hamil tentu saja masih tak tahu apa yang ingin dia tanyakan berbeda dengan Andre.


"makan saja apa yang di suka, hanya jangan berlebihan, jika memiliki riwayat hipertensi saya sarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan pemicunya, seperti durian, usahakan selalu makan makanan sehat, minum air putih lebih banyak, makan seimbang, olah raga yang ringan seperti jalan kaki masih boleh, yang penting jangan kecapean, harus lebih banyak istirahat, dan jangan membawa barang berat,"


Dokter menjelaskan dengan rinci,


"dan jika berhubungan jangan mengeluarkannya di dalam, atau bisa pake pengaman, juga jangan terlalu heboh ya..."


Wajah Ana kembali memerah, teringat dia yang berinisiatif dan lebih aktif dari biasanya.


Andre mengangguk dengan serius,


"maaf dok, apa hubungannya dengan mengeluarkan di dalam?"


"****** bisa membuat hamil tapi juga bisa membuat dinding rahim melunak yang mengakibatkan kontraksi sebelum waktunya seperti yang ibu alami dan tak jarang bisa membuat keguguran." Andre terkejut mendengarnya, seandainya dia tahu lebih awal, Ana tak akan jadi seperti ini, pikirnya.


"ada yang mau ditanyakan lagi? saya sambil membuat resep vitaminnya ya, dan jangan lupa kontrol sebulan sekali, vitaminnya saya kasih untuk sebulan, kalo ada keluhan langsung datang, jangan ditunda, apalagi jika tiba-tiba ada flek," Andre mengerutkan keningnya.


"flek?"

__ADS_1


"iya, bercak darah yang keluar dari ********," jawab dokter menjelaskan, sementara Ana menutupi matanya dengan sebelah tangannya yang bebas karena malu, suaminya sangat detail saat bertanya.


"kami akan melakukan observasi dalam empat jam kedepan, jika tak terjadi apa-apa, ibu boleh pulang" sambung dokter menjelaskan.


Akhinya konsultasi dengan dokter kandunganpun berakhir, setelah sampai di ruangannya, Ana masih menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya, dia masih merasa malu dengan apa yang terjadi sebelumnya, karena sangat berinisiatif dalam berhubungan kali ini yang menyebabkan dia hampir keguguran.


"hei, sudah tak ada siapa-siapa, kenapa masih malu," Ana menurunkan tangannya, disambut dengan senyuman manis suaminya yang terlihat sangat sumringah.


"ngapain sih senyum-senyum?" Ana malah jadi naik darah saat melihat senyum suaminya.


Andre terkejut sekaligus menahan tawanya, dia tahu apa yang istrinya pikiran, istrinya itu masih malu dengan percintaannya tadi.


"Ana, aku bukan mau ngetawain kamu, aku sangat senang karena kamu lagi hamil,"


Ana memukul dan mencubit suaminya, mengeluarkan semua kekesalan juga rasa malunya.


"aw, sayang sakit!"


"sudahlah tak perlu malu, itu normal saat suami istri bercinta, benarkan?!"


"iya, normal! yang gak normal itu saat semua orang tahu kita baru saja bercinta," Ana kembali memukul tangan Andre.


"baiklah, baiklah, aku yang salah, aku yang salah, jangan marah lagi, oke?! kamu sedang hamil sekarang,"


Andre menangkup kedua tangannya di wajah istrinya lalu mencium kening dan bibirnya.


"ehem..." secepatnya Ana mendorong suaminya menjauh, lagi-lagi Ana merasa seperti ketahuan melakukan sesuatu yang tak seharusnya.


""""""""******"""""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2