Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
86


__ADS_3

Tiba-tiba ponsel Ana yang sengaja di mode silent bergetar.


Pesan chat


Andre : istriku mengabaikan ku dan lebih memilih untuk tidur dengan temannya, bukankah aku suami yang menyedihkan?


Ana tersenyum saat membuka chat dari suaminya.


Ana : jangan lebay! ini bukan pertama kalinya kita pisah ranjang.


Andre : Kamu udah bisa balas chat aku, berarti teman kamu itu udah tidur, tak bisakah kamu kembali ke kamar kita?


Ana : dia lagi di kamar mandi,


Andre : jadi malam ini kamu benar-benar akan tidur dengannya?


Ana : iya, maap ya,,, 🙏


Ana tersenyum sambil membalas chat, apa yang dia tulis tentu saja berbeda dengan apa yang dia pikirkan. Saat ini justru dia sangat bahagia karena bisa lepas dari terkaman suaminya.


Andre : 😢


Dua jam yang lalu


Ana meminta mang Imam untuk putar balik agar dia bisa menghampiri teh Tia yang berjalan berlawanan arah dengan mobil yang mereka tumpangi. Setelah mendapatkan ijin dari tuannya, mang Imam lalu memutar balik mobilnya mendekati orang yang ditunjuk oleh nyonya mudanya.


Teh Tia berjalan di sepanjang trotoar dengan terseok-seok, dia tak memperdulikan derasnya hujan, tak menghiraukan tatapan orang, dia bahkan tak peduli pada dirinya sendiri yang sudah basah kuyup dengan penampilan yang acak-acakan.


Langkahnya terhenti saat tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dengan membawa payung untuk memayunginya. Teh Tia menangis sesenggukan saat dia tahu siapa orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"teh Tia," spontan Ana melepaskan payung yang memayungi mereka berdua lalu memeluk teh Tia yang tiba-tiba menangis keras. Beruntung Andre yang khawatir pada istrinya mengikutinya dari belakang hingga dia bisa memayungi istrinya walaupun sekarang dia yang harus basah kuyup.


"An, bawa dia ke mobil dulu," ucap Andre sedikit keras agar suaranya tak kalah dari suara hujan. Ana mengikuti instruksi suaminya untuk membawa teh Tia masuk ke mobil.


Dalam mobil teh Tia hanya diam, dia menatap jalan lewat jendela, tubuhnya basah kuyup namun tetesan air matanya masih bisa terlihat dengan jelas. Beribu tanya ada dalam benak Ana namun tak berani dia utarakan. Andre bertanya apa yang terjadi dengan memakai isyarat pada istrinya saat mereka bertemu tatap lewat spion. Ana mengerutkan keningnya lalu menggeleng kepala, dia juga ingin menanyakan apa yang terjadi tapi dia takut akan membuat teh Tia tak nyaman. Dilihat dari keadaannya yang sangat kacau Ana sudah bisa menebak bahwa teh Tia sedang dalam masalah besar.


Mobil melaju semakin lambat lalu berhenti tepat di depan pintu utama.


Ana membimbing teh Tia memasuki rumah,


seperti biasa para art akan menyambut kedatangan majikannya.


Sesuai instruksi mang Imam sebelum tiba, mereka diminta untuk membereskan satu kamar tamu karena akan ada teman nyonya mudanya yang menginap. Karena melihat kondisi teh Tia yang seperti orang linglung, Ana meminta ijin pada suaminya agar bisa menginap di rumahnya.


"teh Tia mandi dulu ya, aku ambilin baju ganti," Lalu Ana keluar kamar untuk kembali ke kamarnya untuk mengambil baju, tak disangka ternyata di depan pintu suaminya sedang menunggunya.


"lho A, lagi ngapain? gak mandi?"


"A Andre mandi, aku siapin baju tidur, oke." Andre mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ana menghela nafasnya lalu membuka lemari memilah baju yang akan digunakan suaminya. Setelah itu dia keluar kamar hendak mengambil baju ganti untuk teh Tia dia takut teh Tia keburu selesai mandi.


Setelah teh Tia berganti pakaian dia duduk di tepian tempat tidur, dengan masih terdiam. Ana membimbingnya agar duduk di depan cermin, lalu dia mengambil hairdryer dari laci, dan mulai mengeringkan rambut teh Tia. Tiba-tiba teh Tia kembali menangis sambil memeluk perutnya, Ana menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya, lalu memeluknya dari belakang. Teh Tia menangis sesenggukan, Ana masih memeluknya tanpa berkata apa-apa, dia hanya membiarkannya mengeluarkan semua perasaannya. Satu jam berlalu, dia masih menangis dan Ana masih setia memeluknya.


"Ana, maaf, aku ngerepotin kamu," teh Tia akhirnya angkat bicara disela sesenggukannya.


"teh Tia, kayak sama siapa aja," Ana tersenyum menatap teh Tia lewat cermin.


"awalnya aku bingung harus pergi kemana, aku gak nyangka bakalan ketemu sama kamu,"


"sebenarnya ada apa teh? kenapa teteh sampe kaya gini" Ana memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"..." teh Tia tak menjawab.


"kalo teteh belum bisa cerita, gak apa-apa, tapi teteh harus tau, teteh gak sendirian,"


Ana masih menatap lekat wajah yang penuh dengan deraian air mata itu, mata yang memerah, kantung mata yang membengkak, teh Tia benar-benar terlihat kacau sekali.


"aku putus sama pacar ku, Na," Ana terdiam keningnya berkerut, sungguh tak masuk akal baginya mengapa putus dari pacar bisa sedramatis ini, apa dia dulu juga seperti itu saat Dimas memutuskan untuk jadian sama Stela?!


"kamu pasti mikir kalo aku terlalu lebaikan, masa cuma putus aja sampe kaya gini," teh Tia tersenyum getir "aku hamil, Na," Ana membelalakkan matanya, teh Tia kembali menangis sambil memeluk perutnya.


"tapi walaupun begitu, dia masih ingin memutuskan hubungannya denganku,"


Ana mengepalkan kedua tangannya, 'dasar cowok brengsek!' batin Ana, yang tak tahan mendengar cerita teh Tia.


"kenapa? bukanya dia tinggal nikahin teteh, kenapa kekeh harus putus?" teh Tia masih tak berhenti menangis, lalu dia menghapus air matanya dengan kedua tangannya, emcoba untuk tegar.


"dia punya istri, Ana,"


Jreng! bagai disambar petir di siang hari yang panas terik, sekali lagi Ana membelalakkan matanya tak percaya. 'bagaimana bisa?!' batin Ana lalu Teh Tia mulai menceritakan apa yang terjadi padanya.


Teh Tia menerawang mengingat saat-saat awal kedekatan mereka. Semua berawal sejak satu tahun yang lalu di bulan November perusaan MF mengadakan acara gathering ke puncak, itu menjadi awal kedekatan teh Tia dengan pacarnya yaitu atasannya sendiri, pak Nara. Awalnya sangat simpel, mereka berdua makan kambing guling bersama, seperti yang lainnya. Teh Tia yang saat itu baru putus jelas masih tak memiliki mood untuk melakukan apapun, sebagai atasan pak Nara sempat menanyakan kenapa rekan satu timnya untuk mencari tahu mengapa teh Tia yang biasa ceria tiba-tiba terlihat murung.


*******


Makasih reader semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,

__ADS_1


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2