
"itu bukan urusanku, tapi setelah luka yang dia buat, maaf, aku belum bisa melakukannya," Ana menghentikan aktivitasnya, dia berdiri hendak meninggalkan meja tempatnya duduk, Ana sudah tak bisa menahan air matanya, suaminya masih memilih untuk melupakan apa yang terjadi dan tak menghiraukan lukanya, Ana sudah menduganya. Dia hanya tak ingin mendengar langsung dari mulut suaminya memaafkan orang yang hampir menghancurkan rumah tangganya lalu memaafkannya dengan mudah.
"Ana," Andre memegang tangan Ana untuk menghentikan langkahnya.
"makanku sudah selesai, aku tak akan mengganggu kerjamu lagi," Ana berjalan meninggalkan suaminya begitu saja, satu butir air mata tak bisa dia tahan lagi, dia semakin kecewa saat suaminya tak berusaha menghentikan atau mengejarnya. Ana berjalan keluar dari lobi, dia lebih memilih menggunakan taksi untuk kembali ke kampusnya, tak ingin mang Imam melaporkan pada tuannya jika dia menangis di dalam mobil. Beberapa saat sebelum memasuki pelataran kampus Ana menghapus air matanya, dia menatap jalanan di pinggirnya. Sesuai yang dia katakan dia tak ingin janinnya terpengaruh dengan suasana hatinya, apa yang terjadi biarlah terjadi, pikirnya.
Malam hari, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi masih belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang, setelah kejadian tadi siang baik Ana maupun Andre tak ada yang berusaha menghubungi satu sama lain. Akhirnya Ana makan malam sendiri, dia tak bisa menunggu suaminya dan membuat dirinya sendiri kelaparan, setelah selesai makan dia membersihkan piring lalu menutup makanan yang dia siapkan di meja lalu kembali ke kamarnya.
Setengah jam kemudian mata Ana sudah tak bisa menahan rasa kantuknya lagi, tapi suaminya masih belum pulang, akhirnya dia tak peduli lagi dia sudah benar-benar mengantuk. Sejak dia dinyatakan sedang mengandung entah kenapa dia sangat mudah mengantuk, hanya sedikit beraktivitas saja sudah membuatnya sangat lelah, belum lagi dengan suasana hatinya yang mudah berubah membuat pikiran dan tubuhnya terasa letih.
Andre menyibakan selimutnya lalu masuk memeluk tubuh istrinya setelah membersihkan diri dan menyantap makan malamnya yang sudah dingin. Andre tak berani membangunkan istrinya yang terlihat tidur dengan lelap.
Beberapa hari kemudian, Ana bersikap seperti biasa walaupun masih selalu ada yang mengganjal di hatinya tentang Weni, dimana dia? bagaiman cara suaminya menangani apa yang telah dilakukan Weni pada hubungan mereka sebelumnya? apa suaminya benar-benar sudah memaafkannya? pertanyaan itu membuat suasana hatinya menjadi berubah, dia kadang tiba-tiba menangis sendiri.
Andre memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut.
"kenapa? lu baik-baik ajakan?" Sakti sedikit khawatir karena akhir-akhir ini dia melihat sahabatnya seperti tak bersemangat.
"kenapa? lu ada masalah? ngomong kalo ada masalah tuh, jangan sampe kejadian kayak kemaren lagi, apa susahnya sih lu ngomong, terus terang, kali aja gue bisa nolong,"
"Ana, dia berubah sejak terakhir datang ke kantor,"
"berubah gimana?"
__ADS_1
"dia masih seperti biasa tapi gue tahu ada yang dia pikirkan, gue kadang melihatnya menangis diam-diam,"
"sejak terakhir dia datang, waktu si Weni datang itu?"
Andre menganggu, dia lalu membuka berkas ke halaman berikutnya.
"kalian ngomong apa emang?"
"Ana minta kita makan di ruangan gue, gue bilang ada Weni,"
"terus?"
"gue tanya apa dia marah kalo gue maafin Weni?"
"terus?"
"terus?"
"terus apa lagi, dia pergi begitu saja," Sakti menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. 'ckckck! benar-benar gak peka!"
"lu gak ceritain apa yang terjadi diantara lu dan Weni sama bini lu?" Andre menggelengkan kepalanya, dia merasa itu tak perlu dia katakan pada istrinya, dia sudah mengambil keputusan dan dia tak ingin membuat istrinya kecewa lagi dan lagi.
"bego!" Andre menatap tajam pada sahabatnya yang mengatainya dengan kata-kata sarkas.
__ADS_1
"Andre, Andre, perempuan itu mahkluk yang sensitif, bukan cuma butuh kasih sayang dan perhatian, mereka juga butuh pengakuan dan keterbukaan, artinya katakan apapun yang terjadi pada diri lu maka dia akan merasa diakui dengan dilibatkannya dalam setiap masalah yang lu alami, apapun itu, mau dia ngerti atau gak ngerti lu cukup bicara, terus terang katanya padanya, gue rasa Ana saat ini masih merasa tak aman dengan hubungan kalian, dia cuma butuh rasa aman dari pasangannya, aman bahwa tak akan ada lagi yang akan masuk dalam hubungan kalian, wajar sih karena hubungan kalian baru beberapa bulan jadi dia juga mungkin masih belum percaya kalo lu bener-bener cinta atau cuma karena kebiasaan doank, gue udah bisa nebak juga apa yang Ana pikirin, dia pasti bertanya-tanya gimana sekarang hubungan lu sama Weni," Andre mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu, walaupun dia belum berhasil dalam hubungannya dengan Maria, Sakti punya banyak pengalaman dalam hubungan dengan wanita.
Andre terdiam, dia berpikir dengan sangat dalam, dia terus berusaha mengingat kembali yang terjadi antara mereka setelah kejadian terakhir Ana datang ke kantornya. Andre melihat kekecewaan di raut wajah istrinya, walaupun beberapa hari sudah berlalu Ana pun terlihat seperti tak terjadi apa-apa tapi Andre masih selalu melihat kekecewaan itu di wajah Ana, terlebih Ana masih suka menangis diam-diam 'apa Ana masih berpikir aku masih berhubungan dengan Weni, apa itu yang membuat dia kecewa?,' Andre mengusap wajahnya kasar.
"Woi, lu denger gak sih gue ngomong," Sakti merasa kesal karena setelah dia bicara panjang lebar dia menemukan Andre hanya melamun di hadapannya. Tiba-tiba Andre berdiri tanpa menghiraukan ucapan Sakti, dia berjalan dengan cepat keluar kantor, yang ada dipikirannya adalah ingin segera bertemu istrinya dan meluruskan kesalahpahaman diantara mereka.
Andre berdiri bersandar pada mobilnya menunggu Ana keluar dan menemuinya. Andre sudah mengirim pesan pada istrinya dia mau mengajaknya makan siang bersama. Ana berjalan sedikit berlari menghampiri suaminya, Andre tak memperhatikannya sampai dia melihat ke arah Ana yang terlihat berlari menghampiri, Andre langsung terkejut spontan dia berlari menghampiri istrinya.
"jangan lari, kamu lagi hamil" Andre terlihat khawatir dia memegang tangan Ana untuk menopangnya, Ana terlihat ngos-ngosan mencoba mengatur nafasnya.
"sayang kamu gak apa-apa kan?" Ana menarik nafas lalu membuangnya.
"aku gak apa-apa, maaf, lama ya..." Andre lega melihat senyum di wajah istrinya yang masih berusaha mengatur nafasnya, Ana terkejut saat tiba-tiba Andre menarik tubuhnya ke dalam pelukannya, matanya melebar sempurna, dia ingat mereka sedang berada diparkiran dan baru saja bubar kelas yang secara otomatis parkiran pasti penuh walaupun dia sedang berada di parkiran mobil bukan di parkiran motor, tapi parkirannya berendeng.
"""""""******""""""
Makasih semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,
__ADS_1