Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
117. Bingung, judulnya apa?


__ADS_3

Huhuhu... Weni menangis semakin kencang membuat Dimas semakin bingung, apalagi semua orang disekitarnya mulai menatap ke arah mereka. Dimas merasa canggung karena bagaimanapun Weni adalah atasannya, Meraka tak terlalu dekat. Weni malah jongkok dan kembali menangis, Dimas yang kebingungan mengikuti Weni berjongkok, dia mengulurkan tangannya ragu untuk menepuk punggung Weni hanya sekedar mencoba untuk menenangkan.


"Mbak, saya gak tahu apa yang terjadi, tapi sebaiknya kita cari tempat duduk dulu ya?" Dimas berkata dengan hati-hati, dia merangkul tubuh Weni untuk membantunya berdiri dan memapahnya. Dilantai itu ada area food court yang terdapat taman kecil, Dimas membawa Weni kesana.


Dimas menyodorkan sebotol air mineral, dengan cepat Weni mengambil dan meneguknya, tenggorokannya kering karena terus menangis. Dimas tak menanyakan apa-apa, dia hanya terdiam menemani Weni, sebenarnya dia tak tahu harus mengatakan apa. Selang beberapa saat Weni mulai terlihat tenang.


"Terimakasih Pak Dimas, maaf saya merepotkan,"


"Gak apa-apa, Mbak, mau saya antar pulang?" Weni membalas tatapan Dimas.


"Ah, tentu saja Mbak Weni pasti bawa mobil sendiri, apalagi saya cuma pakai motor kemari,"


"Untuk apa Pak Dimas kemari?"


"Hah?"


"Ini rumah sakit, apa ada kerabat yang sakit?"


"Oh, saya cuma ngambil obat kakak saya, bagaimana dengan Mbak Weni?"


Hhhhhhh,,, Weni menghela nafasnya.


"Mas Andre lagi kontrol, sekalian buka gips kakinya,"


"Oh,"


"Aku gak bawa mobil," Dimas sedikit terkejut dengan ucapan Weni.


"Ya kalo Mbak Weni gak keberatan saya antar pakai motor..." Dimas sadar diri dengan keadaannya, orang sekelas bosnya mungkin belum pernah mengendarai motor.


"Baiklah, maaf merepotkan," Weni berdiri berjalan mendahului, Dimas menghela nafasnya.


"Mbak, parkiran motor sebelah sana," Dimas menegur Weni saat Weni berjalan menuju parkiran yang salah. Weni berbalik mengikuti Dimas.


*******


Kontrakan Ana, sore hari.


Ana duduk bersandar pada kepala kursi dia mulai meregangkan badannya yang terasa kaku karena terus duduk untuk menyusun makalahnya.


"udah dulu atuh, Na, meni jiga kerja rodi,"


"lagi banyak ide teh, sayang, nanti kalau ilang, pusing lagi..."


"hhhhhhh... itu justru yang bikin teteh males nerusin ke S2 teh, riweuh..."


"hehe... Ana kan dulu belum pengen nikah teh, jadi mikirnya pengen dulu habisin masa belajar, terus kerja,"

__ADS_1


"pengennya kamu nikah usia berapa?"


"sekitar dua delapan sampai tiga puluhlah, aku gak pengen nikah muda kayak gini,"


"usia kamu mah bukan nikah muda atuh, Neng, normal di kita mah, lihat bagus gak?"


"wihhh,,, bagus teh, gak nyangka teteh punya bakat juga,"


"bakatku butuh ieh mah, Na,"


Hahaha..


Teh Tia dan Ana tertawa bersamaan


"lumayan mesin jahitnya, walaupun jadul masih kuat,"


"mama ge punya da, sama kayak gini,"


"oiya, Na, Ari mama kamu tau masalah kamu,"


"aku cuma bilang kami emang gak akur sejak awal, gak bilang kalo kakak beradik itu punya hubungan, biarinlah itu mah bukan urusan aku biar mereka yang selesein aja, udah males ikut campur aku mah, makin aku ikut campur makin ke buka kelakuan mereka di belakangku, malah makin bikin nyesek teh," Teh Tia tersenyum menanggapi ucapan Ana. Mungkin itu juga yang dirasakan istri Pak Nara saat ini, makanya mereka mengejarnya sampai sekarang.


Toktoktok


Teh Tia langsung berdiri secara spontan, dia terlihat ketakutan.


"tenang aja Teh, gak mungkin istrinya pak Nara tahu kontrakan aku, Dimas kayanya, bentar ya..."


Toktoktok


Ceklek


Ana terkejut saat mendapati Andre berdiri di depan pintu dengan sebuah tongkat di tangan kanannya untuk menyangga kakinya yang sepertinya belum pulih. Ana dia hendak menutup pintunya kembali.


"tunggu! Ana! aku mohon, kita harus bicara," Andre menggunakan tangannya untuk menghentikan Ana menutup pintu.


"maaf saya lagi banyak pekerjaan, silahkan Tuan pulang saja,"


"aaaggghhh..."


Ana yang memaksa menutup pintunya, membuat tangan Andre terjepit dan saat mendengar Andre berteriak dia lalu membuka kembali pintunya. Andre mengibas-ngibas tangannya yang sakit karena terjepit.


"gimana sih, udah tahu pintunya mau ditutup!" Ana mengomel sambil menarik tangan Andre dan menilik lukanya, terlihat merah membebat di sekitar ke empat jarinya. 'apa aku terlalu keras nutupnya ya, kok sampe merah gini sih?' Ana mengelus dan memijit tangan Andre untuk memudarkan warna merahnya. Andre tersenyum melihat kelakuan istrinya, sedikitnya dia merasa lega, istrinya masih peduli padanya.


"maaf, gak sengaja," Ana menegakkan kepalanya menatap Andre, spontan dia membuang tangan suaminya karena melihat suaminya itu malah tersenyum sambil melihatnya. Ana berbalik lalu menutup pintunya dengan keras.


Brak!

__ADS_1


Andre menghela nafas panjang.


Sepertinya tak akan semudah itu untuk kembali meluluhkan hatinya.


"An..."


Toktoktok...


"Ana..."


Masih tak ada jawaban, Ana benar-benar kesal pada suaminya yang malah seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Buat apa lagi sih dia kesini? Apa masih gak cukup bikin aku sakit?" Ana bergumam sambil berjalan kembali ke tempatnya semula.


"Na, kenapa gak ngasih kesempatan bicara buatnya, mungkin ada kesalahpahaman antara kalian,"


"Salah paham sebelah mana, Teh, udah jelas dia sendiri yang bilang, dia gak bisa ninggalin si Weni itu," Ana menghela nafasnya, sebenarnya Ana sengaja menghindarinya dia masih takut jikalau Andre akan mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Weni yang sudah berjalan selama ini, itu menyakitkan. Mungkin juga salahnya yang jatuh hati pada suaminya dalam waktu singkat. Ana kembali menghela nafasnya.


"Na, suamimu masih di luar lho, jangan-jangan dia bakalan nungguin kamu terus sampai kamu mau ketemu dia,"


"Ck! Gak mungkin! Buat apa?"


"Ya kali aja," Ana berpikir sejenak lalu menggeleng kepalanya untuk menepis semua yang dia pikirkan 'untuk apa dia melakukan itu, aku bukan orang penting untuknya,' batin Ana. Benar saja, Andre hanya bertahan sejam menunggu Ana di luar, jujur Ana sedikit kecewa dan teh Tia juga melihat kekecewaan di raut wajah Ana.


*********


"aku gak mau pulang," Weni bicara setengah berteriak agar Dimas mendengarnya.


"hah?" bukan Dimas tak mendengar, dia hanya tak mengerti maksud Weni.


"aku gak mau pulang," ucap Weni lebih keras.


"Mbak Weni mau diantar kemana dulu?"


Weni terdiam, dia bingung apa alasan yang bisa membuat Dimas mau mengajaknya berkeliling dengan motor itu lebih lama lagi, dia hanya merasa bebannya sedikit berkurang saat mengendarai motor, angin yang menerpa wajahnya cukup membuat pikirannya sedikit santai.


"Mbak?" karena tak ada jawaban, Dimas kembali memanggil Weni.


Weni masih terdiam, tiba-tiba motor sport Dimas tak sengaja menggilas jalanan yang rusak membuat Weni takut terjatuh dan spontan memeluk Dimas. Dimas terkejut saat tiba-tiba tangan Weni melingkar di pinggangnya, tak lama Weni melepaskan pelukan tangannya.


"""""""'"*****""""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2