
Tiga hari kemudian
Andre menghabiskan hari-harinya dengan bekerja, dia hanya tidur dua sampai tiga jam sehari itupun dia akan tertidur saat dia benar-benar lelah dan terlelap diatas meja kerjanya. Dia tak berani tidur di kamar, karena saat dia membuka mata hatinya akan kembali terasa sakit saat tersadar tak ada lagi istrinya di dekatnya.
Sudah berbagai cara Weni lakukan agar Andre mau makan dan kembali ke kehidupan sebelumnya, tapi tak ada yang berhasil.
"biarkan saja, Wen, biar dia melakukan apa yang ingin dia mau,"
"tapi Mam, mas Andre akan sakit jika terus seperti ini, bahkan dokter bilang kakinya masih tak ada perubahan,"
"Weni, seharusnya kamu paling tahu apa yang membuat Andre menjadi seperti ini,"
Weni membulatkan matanya, dia sudah tahu kalau mami Ambar pasti sudah mengetahui apa yang terjadi, Weni mengepalkan tangannya. 'tidak, ini hanya selangkah lagi, aku tak akan menyerah,' batin Weni.
Mami Ambar melengos meninggalkan Weni di meja makan.
Awalnya mami Ambar meminta Weni untuk mengurus perusahaan di Singapura, tapi dia menolaknya dengan alasan ingin mengurus Andre dan dia bisa menggantikan posisi Sakti untuk menyelesaikan pekerjaan di Jakarta. Sekali lagi mami Ambar mengalah, dia hanya ingin melihat sampai mana putrinya akan terus egois dengan pilihannya. Mami Ambar meminta Sakti yang mengurus perusahaan di Singapura.
*******
"Met..."
"kenapa lagi?" mama Meti yang sedang memasak seblak ceker permintaan putri sulungnya yang sedang ngidam tiba-tiba didatangi sahabatnya yang beberapa hari ini terus mengeluh masalah putri angkatnya.
"sudahlah, biar mereka menyelesaikannya sendiri, mereka kan udah dewasa,"
"aku tak menyangka kalo putraku akan lebih bodoh dari papinya, maaf ya Met, masalahnya jadi rumit seperti ini, semoga Ana bisa bertahan, kasihan dia,"
"udah atuh da bukan salah kamu, lagian Ana juga baik-baik aja, anggap aja sebagai pelajaran biar bisa jadi setangguh kamu, siapa suruh kalian punya suami yang tampan dan mapan, mengundang pelakor tau gak?!"
"hahaha,,, masak apa sih? wangi amat?"
"seblak," jawab mama Meti singkat.
"seblak?"
"nih, cobain, maknyos pokonya, bentar ya aku kasihin ini ke Lia dulu," mama Meti masuk ke dalam dengan menenteng semangkuk seblak ceker untuk teh Lia.
"enak gak?"
"enak, tapi pedes banget" mami Ambar ngos-ngosan menahan panas dan pedas bersamaan.
"namanya juga seblak kudu pedes atuh" mama Meti mengikuti mami Ambar memakan seblak.
*******
Siang hari di kantor Andre
__ADS_1
Toktoktok
"masuk,"
Seorang tim sekertaris masuk membawa beberapa berkas dan beberapa surat.
"ada berkas yang urgent, Ran?"
"gak ada, Pak, tapi tadi resepsionis ngasih ini,"
Rania salah satu tim sekertaris menyodorkan sebuah surat, Andre mengerutkan keningnya. Matanya melebar saat dia melihat surat itu dikirim dari pengadilan agama, Andre langsung merebut surat itu lalu membukanya dengan tak sabar. Benar saja, itu adalah surat gugatan cerai yang Ana katakan. Tiba-tiba dadanya terasa sakit nafasnya sesak, beberapa kali dia memukul-mukul dadanya agar nafasnya sedikit lancar tapi tak berhasil.
"Pak, Pak Andre kenapa? ya Allah... tolong!" Rania berlari keluar ruangan mencari bantuan, dia kalut melihat keadaan Andre, untunglah Weni berada tak jauh dari ruangan Andre, dia dengan sigap meminta beberapa laki-laki membatu Andre dan menelepon ambulan.
Setelah beberapa saat akhirnya ambulan datang, Andre masih tak sadarkan diri walau sudah dipicu dengan wewangian.
******
"apa yang akan kamu lakukan?" mama Meti melanjutkan berbincang dengan mami Ambar setelah seblak mereka hampir habis.
"aku masih belum tau, aku yakin Weni yang melakukannya, tapi aku tak punya bukti apa-apa, jika aku menyalahkannya tanpa bukti, dia akan gampang mengelak, bodohnya karena sayangnya Andre sangat mempercayainya, aku tak tahu seberapa lukanya dia jika tahu adik kesayangannya yang membuat dia kehilangan istri tercintanya," mami Ambar merasa kesal sendiri.
"sebenarnya aku juga gak tega sama Ana, tapi yah aku mah terserah kalian we selama Ana baik-baik aja mah."
"tenang aja, aku pastikan dia baik-baik aja, aku yakin Andre juga tak mau bercerai, jika ya dia sudah melakukannya dari dulu,"
"baru diomongin, panjang umur dia,"
"halo, Wen, ada apa?"
"mami, mas Andre pingsan di kantor, aku sedang dalam di perjalanan ke rumah sakit sekarang," terdengar suara Weni sangat cemas.
"baiklah, mami nyusul ke sana sekarang,"
"ada apa?" mama Meti langsung menyerobot ketika melihat wajah mami Ambar yang terlihat cemas.
"Andre pingsan di kantor,"
"Naha bisa?"
"sebenarnya kalo mau dibilang dia memang lagi sakit tapi gak dirasa, Met aku pergi ya, aku kabari kalo ada apa-apa,"
"iya, hati-hati nya,,,"
******
"Maaf, Mbak Weni saya juga gak tau Pak Andre kenapa, dia tiba-tiba seperti itu setelah menerima surat, sepertinya dari pengadilan agama," Weni mencoba menanyakan apa yang terjadi pada Rania setelah keadaan Andre mulai stabil. 'pengadilan agama? apa surat perceraian?' batin Weni seraya menghela nafas lega, akhirmya yang dia tunggu sudah tiba.
__ADS_1
"kamu kembalilah,"
"baik, Mbak," Weni berjalan memasuki ruang rawat tempat Andre bersamaan dengan itu mama Ambar yang sejak tadi alberada di dalam mendapat telepon.
"mami titip Andre ya, mami terima telepon dulu" Weni mengangguk, dia berjalan mendekati ranjang tempat Andre berbaring, lalu duduk di kursi dekatnya.
"mas, maafkan aku, kamu gak usah khawatir, aku pasti akan mengobati luka hatimu, aku akan selalu ada bersama mu, tak ada yang lebih mencintaimu selain aku, aku janji," Weni menggenggam tangan lelaki yang sejak lama dia cintai dengan penuh kasih, lalu menempelkan telapak tangannya di pipinya.
Ceklek
Dengan cepat Weni mengembalikan tangan Andre ke posisinya.
"Wen, pulanglah biar mami yang jaga Andre,"
"gak apa-apa, Mam, aku ingin disini..."
"baiklah terserah kamu,"
Menjelang magrib
"Weni pulang lah, istrirahat yang baik, biar mami yang jaga malam ini, kamu terlihat pucat, jika kamu sakit siapa yang berganti menjaga Andre disini," Setelah menimang akhirnya Weni mengikuti saran mami Ambar setelah dibujuk dengan janji akan mengabarinya kapanpun Andre sadar.
Setelah Weni pergi mami Ambar mendapat telepon dari suaminya.
"Honey, you'd rather be with your child than your husband, I'm such a pathetic husband," (sayang, kau lebih suka bersama anakmu dari pada suamimu, aku memang suami yang menyedihkan,)
"Stop bullshit, don't you want to know our son's condition?" (berhentilah omong kosong, apa kau tak mau tahu keadaan putra kita?)
"For what? He has grabbed my wife's attention to the point of not wanting to go home," (untuk apa? dia sudah merebut perhatian istriku sampai tak mau pulang)
"Okay, don't sulk anymore, I miss you too" (baiklah, jangan merajuk lagi, aku juga merindukanmu)
"I know," (aku tahu)
tuttuttut...
Mami Ambar tersenyum, dia tahu apa yang akan dilakukan suaminya jika kata rindu keluar dari mulutnya.
"""""""******"""""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,