Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
73


__ADS_3

Kantin,


Ana dan Andre makan sambil bercanda, sebenarnya ini bukan hal yang tak pernah mereka lakukan, tapi suasananya jadi sedikit berbeda saat mereka sudah saling menerima. Ana malah yang lebih terlihat canggung, biasanya dia yang paling santai. Berkali-kali wajahnya memerah saat Andre menggodanya. Untunglah suasana kantin sudah sepi, tentu saja jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.


"Jadi perjanjiannya hangus ya?!"


"Hem,,, " Ana mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Sebenarnya kenapa sih harus ada perjanjian?"


"Bukannya kamu yang bikin perjanjian?!"


"Hah? Oh iya!" Ana menepuk jidatnya.


"Kenapa coba?"


"Karena Om gay, bukankah Om mau dijodohkan juga karena mau menutup aib sebagai seorang gay!"


Uhuk uhuk uhuk Andre tersedak saat mendengar jawaban Ana.


"Minum, minum," Ana menyodorkan es teh manis untuk diminum suaminya.


"Ana, uhuk, aku rasa kamu lebih cocok jadi penulis novel!"


"Hah?"


"Mana ada yang kaya gitu, ckckck, istriku ini daya khayalan sungguh tinggi, walaupun kadang aga telat mikir."


Ana menyipitkan matanya menatap suaminya.


"Siapa yang kamu bilang telat mikir?"


Andre mengalihkan pandangannya.


"Bukan gitu maksudnya, kamu pintar tapi kadang suka berkhayal."


Ana semakin menyipitkan matanya,


"Sayang, cobain, sotonya enak,,,"


Andre menyodorkan sesuap kuah soto beserta potongan daging di dalamnya, berharap istrinya mau melupakan yang dia ucapkan secara tidak sengaja itu.


Ana menatap sendok di depan mulutnya.


"Aaaa" akhirnya Ana membuka mulutnya mengikuti komando suaminya.


"Em, enak ternyata, kurang pedes doang," Andre menghembuskan nafasnya lega, tadinya dia pikir urusannya akan panjang.


"Oiya Om, jadi dulu kenapa mau dijodohkan?"


"Ah, itu,,," Andre terdiam dia berpikir sejenak, jika dia mengatakannya dia takut istrinya akan marah, bukankah mereka baru saja baikan.

__ADS_1


"Kenapa sih?"


"Nanti malem aku cerita, sekarang habisin dulu makannya," Andre tak menghiraukan rengekan Ana yang memintanya untuk bercerita, Andre bukan tak ingin cerita, tapi jika dia cerita sekarang dan ternyata terjadi sesuatu pada hubungannya, akan sulit untuk membujuknya karena ini masih di lingkungan kantor, jadi dia memilih untuk menceritakannya di rumah dan dia akan memilih kata-kata yang tepat untuk tidak menyinggung istrinya.


"Ana tumben kamu mau datang ke kantor, bawain makanan pula,"


"Oh itu karena,,, astaga! Makananku???"


Ana menepuk jidatnya, dia lupa makanan yang dia tinggalkan di resepsionis.


"Sudahlah, makannya udah dingin kok, mungkin udah dibuangin juga sama si mbak resepsionisnya."


"Yah,,, ya sudahlah,"


"Jadi kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa kamu mau dateng kesini, bawa makanan pula,"


"Oh, mas Sakti yang telepon, dia bilang Om gak mau makan jadi aku diminta datang, biar bisa bujuk Om makan,"


"Ah, pantesan, ternyata Sakti yang minta,"


Tentu saja dia tidak benar-benar berpikir kalau istrinya memang berinisiatif untuk datang padanya dan membawakan makanan, tapi saat itu keluar dari mulut istrinya sendiri, Andre sedikit kecewa.


"Baiklah, kuliahmu?


"Baiklah kita langsung pulang, setalah kita makan,"


"Emang Om udah gak ada kerjaan?"


"Ada, biar Sakti tangani, kalo ada yang urgent dia akan bawakan berkasnya ke rumah,"


"Hm,,,"


"Mau jalan?"


"Hah?"


"Jam empat lebih,,," Andre melihat sekilas jam tangannya.


"Mau ngedate ceritanya? Em, boleh,,," Ana menjawab sambil tersenyum, dia merasa geli mendengarnya, sekaligus membuat jantungnya berdetak sedikit cepat dan perasaan ini dia menyukainya karena sekarang dia tak perlu menahan apapun dalam pikirannya, termasuk perasaan sukanya pada suaminya.


"Kenapa?"


"Gak ada," Ana menundukkan pandangannya sambil menahan senyum.


Andre tersenyum melihat tingkah Ana, perasaaan hangat yang selalu dinantikannya bukan lagi sebuah harapan kosong.


Malam hari

__ADS_1


Ana tertidur dalam mobil, dia terlalu lelah untuk membuka matanya. Andre tak membangunkannya hingga mobil sampai terparkir tepat di depan pintu utama rumahnya. Andre bergegas keluar dari mobil untuk menggendong Ana membawanya masuk.


"Mas, kamu baru pulang?"


"Weni, sedang apa kamu disini?"


"Aku khawatir karena kamu belum pulang, mas."


"Kau menungguku di luar sejak tadi?"


"Itu,,,"


"Lain kali tak perlu kamu lakukan lagi, masuklah sudah malam,"


Andre tak menghiraukan Weni, dia menggendong Ana membawanya masuk ke dalam rumah.


Mang Imam dengan sigap mengambil alih mobil untuk di parkirkan ke dalam garasi. Sedangkan beberapa art sudah siap membantu membawa barang-barang majikannya ke dalam rumah serta membukakan pintunya.


"Tuan, mau disiapkan makan malam?"


"Tidak perlu kami sudah makan malam, bawakan teh hangat saja,"


"Baik tuan," seorang art berjalan ke dapur sementara yang satunya lagi sudah siap di depan pintu kamar Ana membukakan pintunya, dan setelah kedua majikannya masuk dia menyusul untuk menyimpan tas keduanya lalu keluar kamar dan menutup pintunya. Weni yang melihat apa yang di lakukan Andre pada Ana merasa geram. 'sialan! Sepertinya mulai malam ini, mereka benar-benar akan satu kamar, aaargggg! Bagaimana ini?! Apa yang harus aku lakukan?' Weni berjalan mondar-mandir di depan kamar Ana yang juga ada Andre di dalamnya. Weni memang tak tahu bahwa sejak awal Andre dan Ana memang sudah tidur di kamar yang sama. Tiba-tiba seorang art yang membuatkan teh hangat untuk Andre datang.


"Mbak Weni, ada yang bisa saya bantu?" Karena pintu kamar terhalang oleh Weni, akhirnya art itu buka suara.


"Itu teh, buat mas Andre?"


"Benar, Mbak,"


"Biar aku yang bawa masuk, kamu kembalilah ke dapur," Weni mengambil nampan dari art, dia lalu masuk ke kamar Ana.


"Mas, aku bawakan teh hangatnya, mau aku bawain ke kamar kamu?"


"Kenapa kamu, dimana bi Mirna?" Andre yang sudah siap membuka baju dia urungkan karena tiba-tiba Weni masuk tanpa mengetuk pintu.


"Mbak Mirna ada yang harus dikerjakan, jadi aku yang bawa tehnya, aku antar ke atas ya?" Andre mengerutkan keningnya.


"Simpan saja disitu, kamu boleh keluar sekarang," Weni terdiam.


"Kenapa? Ada yang mau kamu katakan?"


"Mas, baju tidur kamu sudah aku siapkan di kamar kamu?"


"Terimakasih, lain kali kamu tak perlu repot-repot lagi, aku mau tidur, sebaiknya kamu juga tidur sudah malam."


Akhirnya mau tak mau Weni harus keluar kamar. Dia akhirnya tak berhasil membuat Andre kembali ke kamarnya.


'sial, aku gak berhasil, bagaimana ini? Jika mereka terus di kamar yang sama, cepat atau lambat akan terjadi sesuatu antara mereka.' Weni berjalan sambil berpikir.


'ah! Kenapa harus khawatir, bahkan jika sesuatu benar-benar terjadi diantara mereka, bukan tak mungkin juga buat mereka untuk bercerai,' sekilas senyum sumringah terlihat di wajah Weni.

__ADS_1


'Ana, kamu boleh bahagia sekarang, kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan di samping mas Andre, karena pada akhirnya hanya aku yang akan berdiri disampingnya,' Weni berjalan menuju kamar tidurnya dengan sedikit perasaan yang lebih tenang.


__ADS_2