
Andre membelalakkan matanya mendengar ucapan istrinya.
"Ana, tidak bisakah kita bicara baik-baik,"
"baik-baik? heh! tidak perlu! aku cukup tau apa yang ingin tuan bicarakan, tidak usah khawatir, surat perceraiannya akan segera diproses, tolong sabar sedikit,"
"tunggu! Ana!" Andre memegang tangan Ana yang terlihat hendak meninggalkannya.
"lepas!" Ana berusaha menarik tangan dari cengkeraman suaminya.
"Ana, aku mohon, sebenarnya ada apa? tolong jelaskan, kenapa kita harus sampai seperti ini?"
Ana menatap tajam pada suaminya yang masih duduk di kursi roda dengan Weni yang memegang kendali di belakangnya.
"Ana, aku mohon biarkan aku menjelaskan kejadian itu, itu tak seperti yang kamu bayangkan, kami tidak..." Weni mengambil alih percakapan, dia takut Ana akan benar-benar menceritakan semua yang terjadi.
"cukup!" Ana bicara sedikit membentak, dan membuat semua orang melihat ke arahnya.
"tidak perlu dijelaskan, silahkan tanda tangani surat perceraiannya setelah berkasnya selesai, aku tak butuh omong kosong kalian!" Ana menepis kuat tangan Andre, tapi baru satu langkah dia berjalan.
"apa kamu, benar-benar ingin bercerai?" Andre bicara dengan nada lemah, Ana berbalik menatap suaminya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"heh! bukankah kau yang sangat menginginkannya? oh? atau? kamu ingin bermain permainan maling teriak maling, baiklah! karena aku orang baik, mari kita bermain," Ana mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya "ya! a-ku sa-ngat i-ngin ber-cerai! seperti itu? apa anda puas, Tuan?!" Ana kembali berdiri lalu menatap tajam Weni dan berbalik.
"ayo Teh, jangan sampai kita merusak acara kencan tuan dan nyonya muda kita," Ana berjalan cepat mendahului teh Tia. Tak jauh Ana kembali menghentikan langkahnya, lalu berbalik.
"jangan lupa dengan kompensasi yang anda janjikan, Tuan," dan melangkah kembali meninggalkan kafe yang tadinya akan menjadi tempat makan siangnya bersama teh Tia. Teh Tia yang melihat apa yang terjadi benar-benar merasa shock, dia tak menyangka Ana akan berkata seperti itu, Ana yang ceria dan cenderung suka mengalah kini berubah menjadi wanita yang dingin dan kejam, tidak, mungkin lebih tepatnya, tangguh! dia sanggup mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Sungguh membuat teh Tia merasa iri, jika dia yang berada dalam posisi Ana saat ini, yang dia lakukan pasti hanya menangis. Seandainya dia bisa setegas Ana, mungkin tak akan berakhir seperti ini, pikirnya.
__ADS_1
"maaf, Pak, saya permisi," teh Tia berdiri lalu berjalan menyusul Ana setelah berpamitan pada mantan big bos nya. Bagaimanapun Andre pernah menjadi atasannya tidak baik jika dia berlaku tidak sopan, apalagi sekarang Dimas masih berada dalam perusahaan yang dipimpin mantan big bosnya itu.
Andre menatap kepergian istrinya, hatinya sakit saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir istrinya.
Weni sedikit lega setelah Ana pergi meninggalkan mereka, dia lalu mulai tersadar semua orang menatap ke arah mereka.
"Mas... sebaiknya kita juga pergi," Andre tak menjawab, perasaannya sangat kacau, dia tak menyangka pertemuan pertama dengan istrinya setelah sekian lama tak bertemu, akan berakhir seperti ini. Tanpa menunggu aba-aba Weni langsung mendorong kursi roda Andre untuk secepatnya keluar dari kafe itu, dia hanya berharap tak ada orang iseng yang akan memposting kejadian itu.
"Na, minum..." teh Tia menyodorkan segelas air putih pada Ana. Sejak kembali dari kafe Ana tak mengatakan sepatah katapun, teh Tia tak mencoba bertanya, dia cukup mengerti apa yang sedang Ana rasakan kali ini. Sejak awal Ana tak pernah menceritakan masalah dalam rumah tangganya, dia hanya berkata bahwa dia akan bercerai dengan suaminya. Setelah teh Tia mendengar pembicaraan Ana tadi, sedikitnya dia mengerti masalahnya apalagi saat Ana menyebutkan tuan dan nyonya muda. Dugaan teh Tia mengarah pada hubungan terlarang antara sepasang kakak beradik itu yang membuat Ana akhirnya memutuskan untuk mengalah dan bercerai. Kurang lebih seperti apa yang terjadi pada dirinya hanya saja posisinya berbeda dengan Ana, dia berdiri pada posisi yang salah yaitu sebagai selingkuhan. Teh Tia mengelus punggung Ana.
"nangis aja, Na, itu gak akan membuat kamu terlihat lemah," Ana mengalihkan pandangannya menatap teh Tia, dia mulai melemahkan pandangannya, menurunkan sikap waspadanya. Apa yang dia lakukan, apa yang dia ucapkan semata sebagai perlindungan pada hatinya yang telah merasakan sakit bertubi-tubi, tapi sepertinya itu tak bekerja, hatinya masih terasa sangat sakit. Pertemuan mereka yang tidak sengaja membuat luka Ana semakin parah.
"apa salahku? kenapa dia menyakitiku terus menerus?" Air mata Ana mulai memburai tak tertahankan, teh Tia merengkuh tubuh Ana ke dalam pelukannya. Ana menangis sejadi-jadinya, dia tak lagi menahan sesak di dadanya.
Setelah kembali Andre mengurung dirinya di dalam kamar, semua ucapan istrinya masih terekam jelas dalam ingatannya, bahkan tatapan mata istrinya yang penuh kebencian menusuk tepat ke ulu hatinya. Berkali-kali Andre meremas rambutnya berharap denyutan di kepala berhenti sejenak.
Truuurrrrtttttt...
"halo,"
"Sak, malam ini atur jadwal, temani aku bertemu, Ana, pastikan keberadaannya,"
"baik!"
Tuttuttut...
Andre berharap akan ada jawaban yang dia inginkan.
__ADS_1
******
Toktoktok
Ana yang sedang melahap hidangan makan malamnya yang terlambat itu mengalihkan pandangan pada arah pintu yang diketuk.
"biar aku yang buka," Ana mengangguk lalu kembali menikmati makan malamnya.
"kenapa kamu disini? dimana istriku?" Andre terkejut saat yang membuka pintu adalah Dimas bukan istrinya.
Ana yang mendengar suara Andre hampir saja tersedak oleh makanan dalam mulutnya, dia lalu meneguk air minum dan bergegas keluar melihat yang terjadi.
Dia mengatur nafasnya sesaat sebelum menemui suaminya.
"oh, ada apa tuan muda datang kemari?" Ana berusaha menyeimbangkan suaranya.
"Ana untuk apa orang ini ada di rumahmu? kamu masih istri Andre! dan kamu berani membawa masuk laki-laki ini ke rumah di malam hari!" Sakti ikut bicara, dia benar-benar marah saat melihat Dimas ada di rumah Ana, dia menunjuk wajah Dimas secara langsung.
""""""*****"""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,