
Dua hari kemudian
Andre mengerutkan keningnya saat samar-samar terdengar orang berbicara, lama kelamaan suara itu terdengar jelas, dia berusaha membuka matanya walau terasa berat. Akhirnya Andre berhasil membuka matanya sedikit, yang dia lihat pertama adalah warna putih dan lampu terang yang membuat matanya terasa sakit.
"mas Andre,,," Weni dengan sigap menghampiri Andre saat melihat Andre mencoba membuka matanya.
"mami, mas Andre sadar,,,"
"panggil dokter," Dengan cepat Weni memijit bel yang tersambung ke ruang nurse.
Andre melihat sekeliling, dia di rumah sakit, pikirnya, dia ingat dia hampir tabrakan tapi dengan cepat dia membanting stirnya yang membuat mobilnya menabrak trotoar dan berakhir menabrak pohon.
"Ana,,," Suara Andre terlalu lemah di antara keributan keluarganya, dia melihat ada mami Ambar di sana bahkan ada ayah Agus dan mama Meti. Tak lama dokter datang, mengecek keadaannya, mengecek penglihatan dan daya ingatnya juga fungsi gerak tangan dan kakinya.
"how doc?" mami Ambar bertanya dengan tak sabar.
"So far so good, just need to heal the leg and hand injuries, but we will continue to observe, say if you feel dizzy or want to vomit, ok," dokter menjelaskan kondisi Andre setelah selesai mengecek.
"ok, thank you, doc,"
"you're welcome, get well soon, ok!" dokter menepuk pelan pundak Andre dan menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar.
"syukurlah,,,"
"kumaha cenah, Mbar?" Mama Meti yang tak mengerti bahasa Inggris bertanya ingin tahu.
"gak apa-apa katanya, tinggal nyembuhin cedera tangan sama kakinya doank,"
"oohhh,,, Alhamdulillah atuh ya,,,"
Mama Meti menatap ke arah Andre dengan perasaan lega.
"udah-udah pada duduk sana, kasian masa dirempugin kayak gini, anak gue, hahaaaa" Mami Ambar menyuruh ke dua sahabatnya duduk kembali.
"Weni, Andre baik-baik saja, kamu dengarkan tadi dokter bilang apa, sekarang kamu istirahat ya,,," mami Ambar mengelus rambut putri angkatnya, Weni hanya tersenyum.
__ADS_1
Andre melihat ke arah Weni, wajahnya pucat dengan mata sembab.
"lihat adikmu ini, Ndre, saking sayang sama kakaknya sampe gak inget makan, gak mau istirahat,"
Andre hanya terdiam, 'dimana Ana?' pikirnya, 'apa tak seberharga itu aku di depannya, sampai seperti ini pun dia tak mau melihatku,' batin Andre getir.
Mami Ambar memaksa Weni untuk pulang ke apartemen dan beristirahat, awalnya dia menolak, tapi kerena terus dipaksa akhirnya diapun bersedia pulang ke apartemen.
"Mam, Ana dimana?"
Mami Ambar menghela nafasnya.
"aku rasa kamu lebih tau kenapa dia tak datang,"
Deg
Walaupun Andre tahu Ana tak akan datang, tapi saat mami Ambar mengatakannya dengan lugas, hatinya tetap saja terasa sakit.
"sekarang kamu istirahat dulu aja, setelah kamu pulih kita bicarakan baik-baik, mami juga perlu tahu apa yang terjadi,"
"Ana bilang, selama tiga bulan pernikahan kalian, kamu dan Ana gak pernah akur, bahkan kamar kalian terpisah,"
Deg
Andre tak percaya dengan apa yang dia dengar, matanya melebar spontan. Lalu apa yang terjadi antara mereka selama ini Ana menganggapnya sebagai apa?! Sakit yang tak bisa diungkapkan itu membuat setetes air mata lolos melewati ujung luar mata Andre, dan pemandangan itu masih tertangkap oleh penglihatan mata mami Ambar yang membuatnya merasa ada sesuatu yang janggal. Andre tak mungkin terlihat sesedih ini jika tak terjadi apa-apa antara mereka, pikir mami Ambar, dan Ana pun tak mungkin sampai menolak untuk datang ke Singapura, jika memang hanya tak akur saja hubungan mereka. Paling tidak mami Ambar tahu jika Andre tak akan memilih sesuatu jika dia tak suka, artinya dia tak mungkin mau menikah dengan Ana jika hanya sebatas itu hubungan mereka.
Flashback Back On
Ana gelisah bahkan saat dia berada dalam kelas, seharusnya sore ini dia terbang ke Singapura jika saja kejadian itu tak ada. Tapi sekarang dia duduk di dalam kelas menatap profesor yang sedang bicara tapi yang ada dipikirannya adalah keadaan suaminya. Ana berharap Sakti akan berbaik hati mengabarinya walaupun dia tak meminta, tapi sampai berakhir jam makan siang pun Ana masih belum mendapatkan kabar dari suaminya. 'benar, untuk apa mengabariku, aku bukan siapa-siapa nya," Ana mulai menitikan air matanya.
Rumah Sakit Jakarta
Kriiiinnngggg,,,
Suara dering ponsel terdengar sangat keras karena suasana ruangan yang hening.
__ADS_1
"mama ih, sorana meni tarik pisan," (mama ih, suaranya kenceng banget)
"eh apan bisi si ayah nelepon te ka kuping, sok riweuh si ayah mah," (eh takutnya si ayah nelepon gak kedengaran).
"Ambar?" dengan hati riang mama Meti menjawab telepon dari sahabatnya juga yang telah jadi besannya sejak hampir tiga bulan lalu.
"assalamualaikum, Mbar, gimana kabarnya?"
"waalaikum salam, Met, kamu dimana?"
"hah? di rumah sakit, kenapa gitu?"
"syukurlah, gimana keadaan Andre, tolong jelaskan lebih detil, apa Ana disitu, biar aku bicara dengannya,"
"hah? Andre? Andre kenapa?" mama Meti tak lagi mendengar suara sahabatnya.
"halo, Mbar,,"
"kamu bukan di rumah sakit tempat Andre di rawat?"
"hah? Andre di rawat? kenapa? sakit apa? dari kapan?"
"jadi kamu di rumah sakit mana?"
"aku di rumah sakit di Jakarta, Lia pendarahan jadi masuk rumah sakit, ada sebenarnya, Mbar?"
Mami Ambar terdiam sejenak, 'apa Ana belum memberitahunya?' batin mami Ambar yang sekarang berada di dalam ruang tunggu di bandar udara Melbourne.
"halo, Mbar," suara mama Meti terdengar tak sabar dia khawatir keadaan menantunya.
"Ana dimana?"
"Ana di Jakarta juga, dia di kampus, nanti aku telepon biar dia langsung ke Singapura sekarang," mami Ambar berpikir sejenak, 'bagaimana bisa Ana tidak tahu, bukankah kejadiannya tadi malam, bahkan Sakti sudah di sana'
"Met, Andre kecelakaan tadi malam waktu Singapura, Sakti bilang kejadiannya sekitar jam satu dini hari waktu di Jakarta itu artinya sekitar jam dua dini hari di Singapura, aku sekarang sedang di bandara mau ke Singapura, apa Ana tak memberitahumu?" Ada rasa kesal dalam nada suaranya, dia tahu seperti apa Sakti dia tak mungkin tak memberi kabar pada Ana sebagai istri Andre, apa karena Sakti panik jadi dia lupa memberitahu Ana?! mami Ambar mencoba mencari jawaban dalam benaknya. 'tidak! Sakti sudah menjadi asisten Andre lebih dari tujuh tahun, dia sudah terlatih untuk tidak panik dalam keadaan apapun agar dia dapat berpikir dengan kepala dingin, dia tak mungkin sepanik itu sampai tak memberitahu Ana?' semakin dipikirkan semakin banyak pertanyaan yang tak terjawab.
__ADS_1