Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
106. Apa Hubungan Mereka?


__ADS_3

"Sebaiknya kalian bercerai,,,"


Uhuk, uhuk, uhuk,,, Andre tersedak saat tiba-tiba maminya mengatakan masalah perceraian.


"kamu ini,,, " mami Ambar mengambil gelas yang disodorkan Weni padanya lalu diberikan pada Andre untuk meredakan tenggorokannya.


"walaupun itu akan berpengaruh pada hubungan persahabatan kami, tapi itu lebih baik daripada membiarkan putri mereka tak memiliki kehidupan normal,,,"


"Andre gak mau cerai, Mam," Jawab Andre tegas.


Hhhhhhh,,, mami Ambar menghela nafasnya.


"lalu, kamu mau apa? kamu gak mau bercerai tapi kamu juga gak bisa menjaganya?"


"semua memang salahku, aku akan memperbaikinya,"


"apa yang ingin kamu perbaiki? kalian bahkan tidak pernah tidur di kamar yang sama, apa itu menunjukan hubungan rumah tangga kalian masih bisa diperbaiki?"


Andre memijit keningnya, dia tahu Ana menyangkal hubungan mereka karena dia tak ingin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. 'entah dia tak ingin membuat aku dan Weni bermasalah atau dia yang tak mau ikut campur lagi dalam hidupku, Ana apa yang harus aku lakukan, sial!,' batin Andre.


"entah apa yang Ana katakan pada kalian, tapi aku tak ingin pisah," mami Ambar kembali menghela nafasnya, dia lalu berdiri.


"untuk masalah perpisahan sebaiknya kamu bicara dengan istrimu, mami dengar dia sedang menyiapkan pengacara untuk menyiapkan surat cerainya." Andre membelalakan matanya tak percaya, hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan mami Ambar mengenai Ana yang sudah siap bercerai dengannya.


"baiklah, mami akan kasih kamu kesempatan, kalo sampai kamu tak bisa membuat Ana kembali padamu, mami sendiri yang akan membuat kalian bercerai,"


Jakarta


Sakti menghela nafasnya, dia bener-bener ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera terbang ke Singapura, dia masih ingin melihat keadaan sahabatnya. Tapi sekarang dia malah terjebak dengan klien yang masih belum memberikan kepastian untuk kerja sama mereka, mereka ingin langsung bertemu dengan Andre. Bagaimanapun Sakti menjelaskan mereka tetap mengundur waktu untuk menandatangani kontrak perjanjian kerjasama kedua perusahaan itu.


Sakti ingat kalau orang yang bertanggung jawab atas proyek itu adalah seorang perempuan yang sempat menggoda Andre, dia bahkan tahu Andre sudah punya istri tapi masih ingin menggodanya.


"Boro-boro si Andre gue aja ogah, cewek murahan gitu,,," Sakti duduk dengan tak sabar dia sebuah kafe yang ditunjuk oleh kliennya yang belum juga datang walau sudah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan.


Kriiiinnngggg,,,


Sakti melihat layar ponselnya.


"halo, Ay,,,"


"kamu bener-bener ya, cewek mana lagi sih yang udah bikin kamu gak mau dateng ketemu aku?" Sakti menghela nafasnya, dan mulai memijit keningnya yang sudah pening sejak awal sekarang dia harus menghadapi kekasihnya yang memintanya datang ke Paris untuk menemuinya.


"Ay, selama Andre belum pulih, aku gak bisa nyusul kamu ke sana,"


"jadi Andre lebih penting daripada aku?"


Sakti kembali menghela nafasnya.


"lalu kalo Andre lebih penting dari pada aku sebaiknya kamu pacaran aja sama dia, kamu gak perlu pusing-pusing,,,," seperti biasa kekasihnya akan mengomel saat dia tak bisa mengikuti apa yang dia mau, tapi tiba-tiba dia melihat dua sosok orang yang sangat dia kenali, lalu mulai menyipitkan matanya untuk memastikan.

__ADS_1


"Ana?"


"apa? Yang kamu gak dengerin aku?" Maria naik pitam saat merasa kekasihnya tak mendengar apa yang dia katakan.


"tunggu, Ay, aku lihat Ana,"


"Ana? istri Andre?


"Dimas??" Sakti memberlalakan matanya, dia mengepalkan tangannya dengan erat.


'mereka bertemu dengan tenang saat suaminya masih di rumah sakit, brengsek!' Sakti memaki dalam hatinya.


"halo, Yang, kamu dimana ini?"


"Ay, nanti aku telepon kamu lagi," Sakti langsung menutup teleponnya lalu berdiri hendak mendekati kursi tempat Ana dan Dimas duduk, dia ingin mencari tahu mengapa mereka bertemu berdua.


"Pak Sakti," tiba-tiba seorang perempuan memanggilnya, Sakti menoleh ke arah suara, ternyata itu adalah kliennya yang sudah dia tunggu lebih dari setengah jam.


"Selamat Malam, Pak Sakti,"


Sakti memutar badannya untuk berhadapan langsung dengan kliennya lalu menyambut uluran tangannya.


"selamat malam, Bu Karin, Pak,,," Sakti berhenti bermaksud menanyakan namanya dengan secara tidak langsung.


"Rian, Pak Rian, beliau asisten saya," Bu Karin memperkenalkan asistennya pada Sakti lalu mereka memulai meeting mereka tentang kerjasamanya. Sambil sesekali Sakti melihat ke arah Ana dan Dimas yang terlihat mengobrol dengan asik, sungguh Sakti merasa kecewa pada Ana. Dia tak tahu apakah ini harus dia laporkan pada Andre, setelah pagi ini Sakti mendapatkan perintah dari Andre untuk mencari keberadaan Ana dan melaporkan setiap kegiatannya sebelum Andre sembuh dan bisa langsung menemuinya.


"iya Bu, tadi ketemu temen dulu, Salma udah tidur?" Ibu Aminah adalah ibu dari a Andi mertuanya teh Lia, usianya lebih tua dari ayah Agus dan mama Meti tapi beliau masih sangat energik, sejak suaminya meninggal dua puluh tahun yang lalu, beliau tinggal di rumah berdua dengan adik bungsunya, yaitu tantenya a Andi yang sampai sekarang masih belum menikah di usianya yang hampir menginjak lima puluh tahun.


"iya, baru aja,,,"


"udah makan belum, ibu siapin makanannya ya,,,"


"gak usah, Bu, Ana udah makan, ibu udah makan?"


"udah, ibu tadi makan sambil nyuapin Salma."


"Ana mandi dulu ya, Bu,"


"iya, ibu ke kamar ya,,,"


"iya, Bu," Ana masuk ke kamar Salma, mengambil baju ganti lalu keluar menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan melakukan salat isya, Ana merebahkan tubuhnya di tempat tidur di samping Salma. Sebelum dia memejamkan matanya dia sempatkan membuka ponselnya, dia mengusap sebuah foto dalam galeri fotonya, sungguh dia merindukan suaminya. Dia mendapatkan kabar dari mama Meti bahwa Andre sudah sadar dan sekarang keadaannya sudah lebih baik. Ana kembali meneteskan air matanya, seharusnya dia tak perlu lagi merindukannya, merindukan orang yang sudah menghianatinya, merindukan orang yang akan segera hilang dari hidupnya. Tapi perasaan itu tak bisa dia hilangkan hanya saat dia menginginkannya, biar waktu yang akan menghapus rasa dan ingatannya.


Keesokan harinya


Awalnya Sakti ingin pergi ke Singapura setelah meeting selesai, apa daya ternyata masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia siapkan sebelum dia pergi. Sejak Andre mengalami kecelakaan dia harus bekerja ekstra dari biasanya. Seperti pagi ini dia masih berkutat dengan berkas-berkas yang harus dia bawa ke Singapura untuk di periksa Andre, terpaksa jadwal penerbangannya dia undur ke siang hari.


Setelah selesai dengan berkas-berkas yang akan dia bawa, Sakti lalu menuju mobil yang sudah ada mang Imam sebagai supir yang akan mengantarkannya ke Bandara.

__ADS_1


Truuurrrrtttttt,,,,


Sakti mencoba menelepon kekasihnya, tapi setelah beberapa kali nada sambung, Mariana masih tak mengangkat teleponnya.


Tring


Maria : aku lagi di lokasi pemotretan, gak usah nelepon.


Sakti : jangan galak-galak dong, Ay, masih marah ya?"


"Mas, Mas Sakti, itu nyonya, Mas,"


"hah? siapa Mang?"


"nyonya,,," Mang Imam menunjuk ke sebuah arah yang memperlihatkan nyonyanya yang sedang berjalan sendiri.


"Ana? Mang, berhenti dulu sebentar," Sakti bersiap turun dari mobil, kali ini dia harus menemui Ana, meminta penjelasan. Sesaat setelah mobil parkir di pinggir jalan, Sakti lalu membuka pintu dan berlari menyebarang jalan untuk segera menemui Ana. Sampai dia akhirnya melihat Ana menghampiri seorang laki-laki yang duduk di motor sport dan menyodorkan sebuah helm padanya Sakti melambatkan larinya hingga dia berjalan lalu berhenti, hanya sisa beberapa meter saja. Sakti terdiam memperhatikannya, sampai akhirnya mereka pergi dan tak terlihat lagi. 'Dimas? sebenarnya ada hubungan apa mereka? apa ini ada hubungannya dengan pertengkaran mereka selama ini?'


Sakti merogoh saku celananya,


"Halo,,,"


"dimana?"


"gue di Bali, kenapa?"


"lu, balik sekarang, gue ada kerjaan buat, lu!"


"kerjaan apa?"


"gue mau lu cari tahu tentang seseorang, gue kirim fotonya, lu balik sekarang juga, gue siapin tiket buat, lu,"


"ok!" sambungan telepon ditutup.


Sesaat setelah Sakti mengirim foto, tiba-tiba teleponnya kembali berdering.


"lu gila, ngapain gue cari tau tentang bini bos?"


"udah, lu, gak usah banyak omong, lu, balik sekarang, gue udah beli tiket pesawat buat lu, penerbangan dua jam lagi, gue kirim e-tiket sekarang."


"""""""******""""""


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2