Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
94


__ADS_3

"Ana?" Mia terkejut melihat Ana yang memakai kaca mata hitam masuk dalam kelas, lalu duduk disampingnya. Ana menghela nafas berat.


"jangan banyak nanya!" Ana langsung membungkam Mia, saat terlihat dia ingin membuka mulutnya untuk mengajukan pertanyaan.


"baiklah, tapi yakin tuh kacamata gak bakalan bikin lu disemprot sama profesor kita yang baik hati ini,"


"ck!" Ana berdecak, jelas dia tahu, apa yang dia lakukan tidaklah sopan.


"yakin gak dibuka?"


Akhirnya Ana membuka kacamata, terlihatlah matanya bengkak. Mia terkejut, dia sebenarnya sudah sempat menebak kemungkinan sahabatnya itu habis menangis jadi menggunakan kacamata untuk menutupinya, tapi dia tak berpikir akan separah itu.


Mia menghela nafasnya, sepertinya sahabatnya itu menangis semalaman bahkan tak sempat tidur.


Kantin


"ya udah lu makan yang banyak sekarang biar punya tenaga buat nangis lagi, cepetan!"


"lu jangan nyindir gue"


"gue gak nyindir lu, diliat sekilas juga orang udah pada tau kali, lu abis nangis semalaman,"


Ana melipat tangannya di atas meja untuk digunakan sebagai bantalan kepalanya. Air matanya kembali mengalir dibalik kacamata hitamnya yang dia kenakan kembali setelah kelas selesai.


"mending makan dulu deh, Na"


"gue gak nafsu makan, Mi,,," jawabnya lemas dengan suara parau.


Mia mengusap punggung Ana mencoba menguatkan walaupun dia belum tahu masalah apa yang sedang dihadapi sahabatnya itu.


"kalo lu gak kuat, lu boleh cerita sama gue,"


Hening, hanya Isak tangis Ana yang terdengar, juga suara beberapa motor yang melintas depan mereka.


"Mi, apa yang bakalan lu lakuin kalo suami lu selingkuh?"


Uhuk,,, uhuk,,,


Mia hampir saja menyemburkan minumannya saat mendengar ucapan Ana, lalu mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.


"lu tau dari mana kalo suami lu selingkuh?"


Ana menegakkan kepalanya yang sempat dia sandarkan di lipatan tangannya dengan enggan.


"perempuan itu memposting semua foto mesra mereka di Instagram nya,"


"wah? lu yakin?"


Ana mengutak-atik ponselnya lalu diberikan pada Mia.

__ADS_1


"lu, liat?" Mia mengambil ponsel Ana, dia melihat foto yang Ana maksud, lalu memperbesarnya dan kembali memiliknya.


"diblur?"


"iya, tapi gue yakin itu laki gue!"


"lu serius? ck! Ana wajahnya diblur tapi lu udah seyakin itu, itu laki lu,"


"Mi, gue gak akan mungkin bilang gitu, kalo gue gak yakin, foto ini diambil di kamar gue sama laki gue di apartemen, dekorasi kamar ini gue yang ngatur," dada Ana kembali terasa sesak, dia sudah hampir kembali menangis.


"ayo, ngomongnya jangan disini, terlalu banyak orang," Mia mengambil ranselnya lalu menarik tangan Ana keluar dari kantin.


Setelah sampai di sebuah taman, mereka duduk berdampingan di sebuah kursi, di depannya sebuah rumput berwarna hijau dengan beberapa bunga di tengahnya


Mia kembali melihat foto-foto dalam Instagram Ana, lalu men-scroll nya semakin bawah.


"lu kenal sama cewek ini?" Ana menekuk lutut lalu memeluknya.


"tentu aja, cewek itu adik angkatnya,"


"hah? kok bisa?" Mia memalingkan wajahnya menatap Ana.


"justru karena itu, cewek yang dia sebut adik angkatnya itu, gue pernah beberapa kali mergokin mereka dalam kamar yang sama," Mia kembali memperhatikan beberapa foto.


"ini sih gak keliatan kaya ade-abang, lebih keliatan kaya lagi pacaran,"


"iyakan?! liat tanggalnya,,," Mia mengikuti instruksi Ana.


"sepertinya mereka sudah punya hubungan sejak setahun yang lalu,"


"kalo mereka emang punya hubungan, kenapa harus nikahin elu? kenapa gak nikahin ceweknya aja,"


"itu yang gue gak ngerti," suara Ana kembali menjadi berat.


"gila sih, fotonya setengah telanjang gini,"


"Menurut lu, laki-perempuan dalam kamar dengan setengah telanjang, mereka ngapain?"


Ana kembali terisak.


"sebenarnya sih, Na, menurut gue lu mending tanya laki lu langsung, deh, minta dia jujur,"


"gue udah tanya, jawabnya gak jelas, gue bingung, Mi," Ana menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.


"sebenarnya gue takut, gue takut, gimana kalo tiba-tiba dia bilang iya, apa yang harus gue lakuin, Mi?"


"apa mungkin ini editan?" Ana menggeleng kepalanya, tanda tak setuju dengan pendapat sahabatnya.


"cewek itu gak akan ngepost foto itu kalo itu gak bener, Instagram itu sosmed yang bisa dilihat banyak orang,"

__ADS_1


"iya juga,"


"kemungkinan laki gue juga tau tentang foto-foto itu," Ana meneruskan.


hiks,,, dia kembali menangis, Mia merangkul Ana yang menenggelamkan wajahnya dalam lututnya.


"sebaiknya lu pastiin dulu, Na? mungkin ini hanya salah paham"


Ana menangis semakin parah, dia tahu pasti apa yang terjadi, dan apa yang sahabatnya katakan hanya untuk membuatnya merasa tidak terlalu buruk. Mia bingung harus bagaimana, dia takut salah bicara, terlebih hubungan sahabatnya itu adalah hubungan keluarga bukan hanya pacaran biasa.


"pantesan aja, pantesan aja sebelum-sebelumnya mereka selalu terlihat intim, cewek itu bahkan sering nyiapin baju kerja laki gue, nyiapin sarapan, bahkan nyiapin baju tidur."


huhuhuhu,,,


"Mia,,," Ana memeluk Mia, Mia membalas pelukan Ana, dia merasa kasihan pada sahabatnya itu. Mereka menikah belum sampai tiga bulan, dan baru sebulan lebih yang lalu mereka mulai saling menerima sekarang malah jadi seperti ini.


Keesokan harinya


Saat subuh, Ana membuka matanya yang terasa berat, kepalanya terasa pusing. Saat dia membuka matanya dengan sempurna wajah suaminya adalah yang pertama dia lihat, ternyata dia tidur dalam pelukan suaminya. Hati Ana terasa perih, biasanya dia akan sangat bahagia ketika dia melihat suaminya saat bangun tidur. Tapi sekarang wajah tampan suaminya justru mengingatkan dia tentang foto mesra mereka. Ana bangun, dia menepis tangan Andre yang melingkar di pinggangnya dengan keras membuat Andre terbangun.


"udah bangun?" Andre melihat Ana duduk di pinggir tempat tidur. Ana tak menghiraukan ucapan suaminya, dia berjalan menuju kamar mandi. Hatinya masih terasa sakit, foto terakhir yang Weni posting sudah cukup membuat Ana merasa dia adalah orang ketiga diantara mereka.


"Ana, ayo kita bicara," Andre menghampiri Ana yang tengah membereskan beberapa buku.


Deg


"aku harus pergi," Ana berjalan melewati suaminya, Ana meraih tangan Ana.


"ini baru setengah tujuh, kamu mau kemana?"


Ana menundukan kepalanya tak ingin melihat wajah suaminya.


"Ana," Andre berusaha meraih dagu Ana, dia ingin Ana melihat kearahnya tapi Ana menepisnya dengan keras. Andre terkejut dengan apa yang Ana lakukan, selama ini walaupun dia marah dia tak pernah bersikap kasar seperti ini.


"ada yang harus aku kerjakan," Ana berjalan menjauh dari suaminya, menghilang di balik pintu.


Bukan Ana tak ingin bicara dengan suaminya, dia hanya belum siap dengan apa yang akan suaminya katakan. Dia masih berpikir apa yang harus dia katakan pada keluarganya, pernikahannya hanya sampai tiga bulan saja. Ana menyeka air matanya dia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


****"""****


Happy Sunday, siapa yang anaknya masih PTS besok????


Yey,,, kita sama😭


Tapi tetep ya, masih selalu tak lupa baca novelku donk, heheee,,,


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2