
Selama makan siang Andre tak mengatakan apapun, dia bingung harus bercerita dari mana, yang akhirnya Ana jugalah yang mencari topik untuk mencairkan d suasana. Hari ini mengajak Ana jalan-jalan dan menonton, dia tak bisa bicara tapi juga tak ingin jauh dari istrinya.
Malam hari
Akhirnya Andre berhasil menceritakan semua yang terjadi padanya saat bertemu Weni juga tentang keputusan yang dia ambil untuk menyelesaikan masalah mereka.
"makasih, makasih udah mau menjelaskan semuanya," Ana masuk ke dalam pelukan suaminya, Andre menyambutnya, dia semakin mendekap istrinya.
"maaf, aku tak langsung menceritakannya karena aku pikir asal aku sudah menyelesaikan masalahnya, maka semuanya akan baik-baik saja, maaf..." Andre mencium kening istrinya berkali-kali, Ana tersenyum dalam pelukan suaminya, memang benar, pemikiran laki-laki memang selalu sesimpel itu. Berbeda dengan perempuan yang harus tahu secara mendetil hingga mereka puas dan merasa tenang barulah masalah dianggap selesai, Ana lalu menengadah menatap wajah suaminya.
"boleh gak aku denger cerita gimana Weni bisa jadi keluarga kalian,"
"keluarga kita," Andre meluruskan, lalu dia mendesah dan sedikit mengkerutkan keningnya.
"ceritanya agak panjang, dimulai saat papi dan masih menghadapi berbagai masalah, waktu itu aku masih belum mengerti tapi sepertinya sekarang aku sudah mulai bisa mengingat nya dan mengerti keadaan saat itu, rumah tangga mereka hampir hancur karena om Nattan sengaja membuat papi seolah dekat dengan perempuan untuk membuat hubungan mereka hancur,"
Ana mengerutkan keningnya,
"jangan dipikirkan terlalu dalam, mereka baik-baik saja," Andre mengelus kerutan di kening istrinya sambil tersenyum.
"itu terjadi beberapa kali,"
"kenapa om Nattan sengaja membuat mami sama papi hancur,"
__ADS_1
"tentu saja untuk lebih mudah mengambil alih perusahaan, mami dan papi adalah sekutu terkuat yang harus ditaklukkan om Nattan sebelum dia bisa menjadi ahli waris perusaan kakek,"
"apa hubungannya dengan Weni?"
"karena kejadian itu, untuk mencegah aku melihat pertengkaran mereka, juga pertengkaran sesama keluarga akhirnya mami memutuskan agar aku tinggal di Solo bersama Mbah Murni, mami gak ingin psikologis ku terganggu,"
"aku rasa aku juga akan melakukan hal yang sama,"
"ya, seperti yang kamu katakan, kamu tak mau mengambil resiko janin kita akan terganggu untuk hal yang tak penting, itu juga yang mami lakukan padaku,"
Andre mulai menerawang menceritakan kisah dia, Teguh Praratno atau Teguh juga Weni.
"Namanya Wening Kasih, saat aku tiba disana mereka memanggilnya Asih,"
"namanya bagus,"
Itu menjadi awal dimana dia kenal dengan Weni dan juga keluarganya, karena ibu dari Weni dan Teguh menjadi asisten rumah tangga di rumah Mbah Murni sehingga mereka menjadi sering bertemu. Teguh atau Mbah Murni memanggilnya dengan sebutan Ratno karena Mbah Murni yang memberinya nama itu jadi dia lebih senang memanggilnya begitu, sementara yang lain lebih suka memanggilnya dengan sebutan Teguh yang menjadi sahabat dekat Andre sejak saat itu. Ketika datang Andre saat itu dia baru menginjak usia sebelas tahun, yaitu kelas lima sekolah dasar. Ibu dari Teguh dan Weni sedang dalam keadaan sakit yang keras, beliau mengidap kanker selaput otak stadium akhir. Andre yang saat itu bahkan belum menguasai bahasa Indonesia apalagi bahasa Jawa dia belum bisa berbaur dengan yang lain, akhirnya, dia lebih memilih main bersama Weni yang saat itu masih belajar berjalan dan tinggal di rumahnya bersama tante dan om nya. Seminggu kemudian ibu dari Teguh dan Weni meninggal, Andre hanya beberapa kali bertemu dengan Teguh, itupun masih dalam suasana berkabung, Weni yang terus menangis saat melihat ibunya yang tak mau bangun untuk menyusuinya membuat Andre merasa kasihan hingga terus menggendong dalam pelukannya, berusaha menenangkannya.
Singkat cerita mereka semakin dekat karena Teguh dan Weni kini tinggal serumah dengannya bahkan tidur di kamar yang sama dengan Andre. Sedangkan Weni diasuh dalam asuhan Tante Andre yang saat itu belum memiliki anak. Sedikit demi sedikit keberadaan Andre mulai mengobati luka mereka, dia ikut mengasuh Weni bersama-sama dengan Teguh, sampai saat mereka menginjak kelas dua sekolah menengah pertama Teguh mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda sepulang sekolah, saat itu barulah mereka menyadari bahwa Teguh pun mengidap penyakit yang sama dengan ibunya, hanya saja masih di stadium awal. Teguh bertahan satu tahun dengan penyakitnya dalam masa pengobatannya hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itulah Andre membuat janji akan menjaga Weni sampai dia dewasa. Saat itu Andre meminta pada maminya untuk menjadikan Weni adik angkatnya yang sah di mata hukum.
"itulah ceritanya, kenapa Weni bisa menjadi bagian dari keluarga kita,"
"jadi sejak itu kalian barengan terus?" Andre menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"saat kelas dua SMA aku dipaksa pulang ke Australia oleh kakekku, dipaksa belajar management untuk mengambil alih perusahaan dengan cepat,"
"hah? kan belum lulus SMA?"
"sebenarnya mami mengirim ku ke Indonesia karena tak ingin membebaniku dengan peliknya masalah perusahaan, tapi tiba-tiba mami dan papi mengalami kecelakaan, jadi aku dipaksa untuk belajar lebih cepat atau perusahaan akan hancur, om Nattan bekerja sama dengan perusahaan lain untuk menjatuhkan perusahaan kakek, aku diberi waktu dua tahun untuk bisa menguasai management perusahaan, selama dua tahun itu kakek menghandlenya dengan baik, untunglah masih banyak dewan direksi yang masih pecaya pada kepemimpinan kakek,"
"dua tahun kemudian A Andre jadi pimpinan disana? mereka gak mungkin langsung nerima gitu aja kan?! mereka meragukan kakek yang udah jelas pernah memegang jabatan sebagai pemimpin," Andre tersenyum mendengar argumen istrinya, memang waktu itu adalah saat-saat yang sangat berat untuknya, bukan dukungan yang dia dapat tapi cercaan dan tatapan tidak percaya dari semua dewan direksi tanpa terkecuali yang mendukung kakeknya. Hingga beberapa tahun terlewati dia sudah memenangkan banyak tander dan sukses dalam menjalankan beberapa proyek besar, hingga dinobatkan sebagai pebisnis termuda yang paling berpengaruh, tapi proses itu membuatnya menjadi seorang yang kaku dan arogan dan tentu saja tak memiliki teman, teman baginya adalah orang yang bisa digunakan, hingga mami Ambar menempatkan Sakti di sisinya. Ana memeluk tubuh suaminya lebih erat, seandainya dia mengenal suaminya lebih awal, Andre merasakan pelukan istrinya semakin erat hingga bibirnya bisa mencium ceruk leher istrinya.
"lalu Weni?"
"Weni sering datang saat dia libur, hingga dia mulai kuliah, dia memutuskan untuk kuliah di Amerika, sejak itu kami sangat jarang bertemu hingga dia selesai S2 mami meminta aku untuk membimbingnya disini," Andre meneruskan ceritanya. Awalnya hanya sesekali saja Andre menciumnya disela-sela dia bercerita, hingga ciumannya menurun ke daerah sensitif istrinya dan mulai membangkitkan gairah keduanya tangannya mulai mencari ujung daster istrinya lalu menyingkapnya. Ana terengah-engah disela bicaranya, Andre sudah memulai pemanasannya dari tadi, saat semakin panas Ana menanyakan sesuatu yang membuat Andre merebahkan tubuhnya dengan lemas.
"yaaaahhhhh gimana sihh?!" Ana merengek saat Andre mengatakan dia lupa membeli pengaman, itu memang hal baru untuknya hingga dia bener-bener melupakannya.
"mau nyoba cara baru?" Andre berbisik di telinga istrinya.
"cara apa?" Ana bertanya dengan kerutan di dahinya dibalas dengan senyum Andre yang penuh arti.
"""""""*****"""""""
Makasih semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
__ADS_1
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,