
Beberapa hari kemudian
Akhir-akhir ini Weni semakin gencar mendekati Andre, dia semakin lebih leluasa melayani, setiap pagi dia akan menyiapkan satu setel pakaian kerja, lalu dia akan menyiapkan sarapan, belum lagi dia juga yang mengatur makan siang Andre sekaligus menemaninya. Setelah pulang kerja saat Andre di kamar mandi dia juga yang akan menyiapkan satu setel baju tidur untuknya. Andre yang sebenarnya merasa risih tapi karena tidak cuma sekali bahkan berkali-kali dia melarang Weni melakukannya tapi Weni tetap bersikeras terus melakukannya akhirnya Andre hanya membiarkannya saja. Hanya saja sekarang saat Andre keluar dari kamar mandi dia tak lagi hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya saja. Tak jarang dia bahkan membawa baju ke kamar mandinya, dan memakainya sebelum keluar. Karena mengingat pengalamannya setelah beberapa kali dia keluar kamar mandi dengan hanya menutupi bagian bawahnya dan tiba-tiba Weni sudah ada di kamarnya, dilihat dalam keadaan seperti itu membuat dia merasa tak nyaman. Walaupun oleh adiknya sendiri, tapi mereka sudah sama-sama dewasa bukan dan itu jelas tidak pantas.
Awalnya Ana tak tahu, tapi pagi ini karena ada satu hal yang ingin dibicarakan dengan suaminya dia mendatangi kamar suaminya.
toktoktok
Cegrek
Pintu kamar dibuka tanpa menunggu jawaban dari yang punya kamar.
Ana sedikit terkejut saat dia melihat Weni yang sedang memilah baju di kamar suaminya. Weni memalingkan wajah ke arah pintu yang terbuka dia tersenyum saat tahu Ana yang membuka pintu. "Hai An, ada apa?" Weni bertanya tanpa menghentikan dirinya memilah jas yang akan Andre kenakan. Bersamaan dengan itu Andre keluar dari kamar mandi, Andre melihat Ana di depan pintu dia juga melihat ke mana arah mata Ana memandang, ternyata Ana melihat Weni yang sedang menyiapkan setelan baju kantornya. Ana kembali dari lamunannya.
"wow, aku pikir aku salah kamar," Ana sedikit menyindir apa yang dilakukan Weni dan suaminya yang pagi-pagi berada dalam satu kamar.
"jangan bercanda, masuklah, ada apa?" Andre bicara sambil berjalan keluar kamar mandi.
"mas bagaimana dengan jas yang ini? kamu sudah lama tak menggunakan warna ini" Weni memantaskan jas ditangannya ke badan Andre.
Ana yang melihat keintiman diantara mereka mengurungkan niatnya untuk masuk.
"aku rasa waktunya tak tepat, sebaiknya kalian selesaikan dulu urusan kalian," Ana kembali menutup pintunya.
__ADS_1
"Ana,,, " Andre memanggil istrinya, tapi tak dihiraukan olah Ana yang kemudian berlari menuruni tangga kembali menuju kamarnya. Ana menutup pintu kamarnya lalu bersandar di baliknya. 'apa yang terjadi, mengapa aku merasa kesal?' Ana meremas baju yang melekat di dadanya.
toktoktok
"Ana,,," lamunan Ana seketika kembali saat mendengar ketukan dari balik pintu.
"jangan masuk! aku lagi ganti baju!"
Ana menepuk jidatnya saat dia sadar apa yang sudah dia katakan. 'sial! apa yang aku katakan! aku udah ganti baju dan siap pergi! masa harus ganti baju lagi! hiks!' Ana merutuki kebodohannya karena panik dia akhirnya memakai alasan yang tak masuk akal. 'ah sudahlah, untuk apa dipikirkan dia juga gak akan mungkin ngeh! sebaiknya aku pergi sekarang!'
Ana membuka pintu kamarnya, suaminya berada tepat di depan pintu kamarnya. Dilihat dari apa yang dipakainya Ana menduga Andre langsung mengejarnya hingga dia tak sempat mengganti pakaiannya. Seingat Ana, Andre menggunakan kaos oblong dan celana boxer saat dia keluar dari kamar mandi dan pakaian itulah yang sekarang dipakai saat dia berdiri di hadapannya. Ana menggapai tangan Andre lalu menciumnya dan berlalu begitu saja. Andre yang terkesiap dengan apa yang terjadi mulai menyadari saat Ana semakin jauh berjalan. "Ana, tunggu!" Andre berjalan menghampiri Ana, meraih tangan istrinya itu agar menghentikan langkahnya.
"kamu datang ke kamarku bukannya ada sesuatu yang ingin dikatakan,"
"kamu marah?"
Ana menghentikan langkahnya.
"marah kenapa?"
Ana menjawab tanpa berbalik.
"aku tak akan membiarkan Weni melakukannya lagi,"
__ADS_1
Ana berbalik menghadap suaminya.
"aku rasa itu bukan urusanku, pada waktunya bukankah hubungan kita juga akan berakhir,"
Deg
Sudah lama Andre tak mendengar kata-kata itu dari mulut istrinya. Dan ternyata itu masih menyakitkan baginya. Andre terdiam, dia hanya berdiri mematung menatap langkah Ana yang semakin menjauh. Weni yang mendengar apa yang dikatakan Andre mengepalkan kedua tangannya. 'cih! sok-sokan jadi pasangan romantis, jelas-jelas mereka juga jarang bertemu, bukankah aku yang lebih sering berada di dekat kamu mas?!' batin Weni.
'apa yang kamu katakan Ana? sial! kenapa aku mengatakan semua yang ada di pikiranku?!'
batin Ana terus bergejolak. 'sudahlah dia gak akan peduli juga! ingat Ana! dia itu gak suka perempuan! jangan cari mati sendiri!' Ana merutuki apa yang dia katanya. Dia merasa apa yang dia katakan seperti dia tak rela untuk melepaskan. Sedangkan dia tahu bahwa hubungan antara mereka sudah pasti tak akan berhasil, apalagi dia tahu pasti tentang kepribadian Andre. 'bahkan jika dia bukan seorang gay, dia memiliki orang yang lebih bisa diandalkan daripada aku!' batin Ana miris. Setelah apa yang dia lihat barusan dia tersadar sepertinya Weni lebih mengerti cara melayani seorang suami. Dia akan jadi istri yang baik bagi suaminya, pikir Ana.
Sekilas mang Imam melihat wajah nyonyanya melalui kaca spion. Terlihat tidak sebaik hari-hari sebelumnya,
"Ada apa nyonya? Apa merasa tidak nyaman?" Ana tersadar dari lamunannya.
"Gak, aku cuma laper aja, tadi buru-buru jadi gak sempet sarapan,"
'hah! Aku kelaparan Gara-gara kesal gak jelas, hiks! Sebenarnya apa yang membuat aku kesal?' Ana menghela nafasnya. Sesampainya di kampus Ana langsung mencari minimarket untuk membeli roti dan susu.
Dalam perjalanan ke perusahaan.
'Hah, ada apa sebenarnya? Aku bahkan belum sempat dapat jatah sarapan udah main cabut aja! raut wajahnya benar-benar tidak enak dilihat! semoga saja bukan karena bertengkar dengan istrinya, kalo tidak bisa hancur semua jadwal hari ini,' Sakti yang sejak tadi melihat gelagat Andre yang tak seperti biasanya mulai berargumen dalam hatinya.
__ADS_1
'apa hubungan kami akan kembali ke awal lagi? Ana, katakan, apa yang harus aku lakukan?!' Andre hanya menatap ponsel dalam genggamannya, sedangkan hati dan pikirannya masih terus melayang memikirkan istrinya.