Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Resepsi hari 2 part 1


__ADS_3

Pagi hari


Ana terbangun dia lalu melihat ke samping tempat Andre tidur. Semalam Ana mencoba menunggu Andre kembali, dia ingin meminta maaf padanya, hingga dia tertidur Andre masih belum kembali.


'dia tak kembali' Ana mengucek matanya sedangkan tangan satunya menggapai meja disamping tempat tidur mencari ponselnya. 'masih jam setengah tujuh pagi' Dia berjalan gontai menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi Ana memutuskan untuk menelepon Andre, dia hanya ingin meminta maaf, memperbaiki semuanya. Dia akan berhenti melanjutkan misinya jika itu bisa membuat Andre tak membencinya. Dia mengambil Betadine dan plester yang masih dalam kresek di meja riasnya, walaupun mereka tak jadi makan malam bersama, tapi Andre tak lupa membelikan apa yang Ana minta. Ana tersenyum saat memakai plester di tumitnya.


truuurrrrtttttt,,, truuurrrrtttttt,,,


"halo,,,"


'suara wanita?' batin Ana.


"halo Ana, ini aku, Weni"


"Weni?" 'ah, ya! suara Weni' batin Ana.


"Ya, kamu mau bicara sama mas Andre? dia masih mandi, nanti kalo sudah selesai aku kasih tau dia kamu meneleponnya."


"oke! makasih, Wen"


"syukurlah ternyata dia bersama, Weni! kenapa dia tak bersama Sakti ya? Apa mungkin saat ini yang bisa membuatnya nyaman itu Weni?!" Ana lalu berjalan keluar kamar hotel. 'walaupun Weni tidak menyukaiku, tapi Andre merasa nyaman di dekatnya. 'Seandainya misi untuk mengembalikan jati diri Andre ini diberikan pada Weni, mungkin tingkat kesuksesannya akan lebih tinggi' Ana berjalan menuju restoran, 'bukankah mereka juga dekat, dan tak perlu menjadi istrinya dulu untuk membantunya mengembalikan jati dirinya.' batin Ana.

__ADS_1


Ana menghembuskan nafasnya perlahan, walaupun teori yang dia pikirkan mungkin benar, tapi entah kenapa itu membuat dadanya terasa sesak, ada sedikit rasa tak rela diantaranya.


Setelah sampai di restoran Ana berkeliling melihat beberapa stand menu sarapan jika dia sarapan yang manis dengan susu murni asli Lembang akan lebih meningkatkan semangatnya pikir Ana. Dia berhenti di stand pancake, lalu meminta pramu saji membuatkannya pancake dengan toping buah dan saus madu. Setelah selesai dengan pancakenya Ana berjalan menuju stand minuman mengambil segelas susu murni hangat kemudian berjalan menuju meja kosong di smoking area.


Dia hanya sarapan sendiri, jika di dalam ruangan akan terasa membosankan jadi dia memutuskan duduk di meja luar ruangan dengan view kolam renang dan taman yang masih didekorasi untuk resepsi pernikahannya yang akan berlangsung sampai hari esok.


Ana tersenyum hambar, dia mengingat lagi apa yang terjadi tadi malam. Seandainya dia tidak memaksa mendekati Andre,,, pikiran itu masih terus menetap di kepalanya.


'semangat Ana! semangaaaattt!!!!' Ana menepuk kedua pipinya berusaha menyemangati dirinya sendiri. Ana lalu menyantap sarapan paginya. Andre yang melihat kelakuan Ana tersenyum sendiri.


"samperin sana! kasian cewek secantik itu dibiarin sarapan sendiri!" Sakti melengos meninggalkan Andre yang masih menatap Ana. Setelah dia mengambil sarapan, lalu berjalan mendekati meja tempat Ana sarapan.


Uhuk!


"dasar anak kecil! makan aja bisa sampai kesedak!" Setelah batuknya reda, Ana yang sejak awal berencana ingin minta maaf kini malah jadi diam saja, dia bahkan sudah menyiapkan kata-kata maafnya agar tak ada yang salah dan malah jadi salah paham. Namun yang terjadi saat ini dia hanya melanjutkan sarapannya tanpa bicara.


Andre yang merasakan ada yang aneh dengan kelakuan Ana, mencoba membuka suara.


"ada apa? apa ada yang tak nyaman?" Andre menempelkan tangannya di dahi Ana, mengecek suhu tubuhnya.


"a-aku, baik-baik saja" Ana mencoba menepis tangan Andre secara halus. Andre mengerutkan keningnya. 'ada apa dengannya? si bawel ini tiba-tiba jadi pendiam? ah!' akhirnya Andre terpikirkan sesuatu.


"maaf, tadi malam aku ketiduran setelah menyelesaikan urusan kantor, jadi..."

__ADS_1


"Gak apa-apa! Gak perlu dijelaskan" Ana memotong ucapan Andre. 'apa dia marah?' batin Andre.


'kenapa aku jadi gugup gini, ternyata susah jika kita ingin masuk dalam kehidupan seseorang dengan maksud untuk merubah kebiasaan yang sudah menjadi zona nyaman baginya. Aku rasa aku tak perlu meneruskan misi ini.' Ana terdiam dengan seribu bahasa dalam pikirannya, dia masih memakan sarapannya dengan perlahan. 'biarkan semuanya mengalir apa adanya, aku tak ingin memaksa dia untuk berubah, bukankah ini sudah menjadi keputusanku sejak awal, lalu apalagi yang aku ragukan, lakukan dalam diam, biar waktu berlalu dan memisahkan kita dengan damai.' Wajah Ana terlihat murung.


"aku duluan," Ana berdiri lalu berjalan bermaksud kembali ke kamarnya


"tunggu! kita kembali bersama," Ana menjawabnya dengan anggukan. Selama perjalanan kembali ke hotel Ana hanya diam, begitupun dengan Andre, walau ada beribu pertanyaan dalam benaknya, tapi dia memilih diam dan mengamati. Semakin dia mengamati semakin merasa banyak kejanggalan pada Ana. Bukan hanya diam, tapi juga menghindari interaksi dalam durasi yang lama dengannya.


'apa dia marah? apa karena tadi malam aku tak kembali? Bukannya barusan aku sudah berusaha menjelaskannya' batin Andre.


******


Acara resepsi pernikahan sudah di mulai sejak satu jam lalu, Ana yang biasanya mengikuti Andre untuk menyapa beberapa tamannya, hari ini dia hanya duduk di pelaminan sambil memainkan ponselnya. Alasan kakinya masih sakit membuat Andre mengijinkannya tak ikut menyambut tamu. Acara ini kini terasa membosankan menurut Ana. Walaupun Ana hanya mengikuti Andre dan tak banyak bicara tapi itu lebih menyenangkan daripada dia harus duduk sendiri di pelaminan.


'ada apa denganku? ini hanya misi untuk mengembalikan kepribadiannya, jika tak bisa itu bukan salahku kan?! kenapa aku harus sedih?? iya bener! ngapain dipikirin!' Ana mencoba menenangkan hatinya yang terus gelisah. Dia mencoba mencari jawaban atas kegelisahannya saat ini. Bukan tak menemukan jawaban, tapi lebih ke tidak bisa atau tidak ingin menerima kenyataan dari jawaban itu.


Andre yang ditemani Weni dan Sakti berkeliling menyapa tamu, walau dia mengobrol tapi beberapa kali Andre sempatkan melihat ke arah Ana yang sedang memainkan ponselnya, kadang dia terlihat berbicara dengan mama Meti atau bercanda dengan Dini dan teman sebayanya yang sama-sama menjadi pagar ayu dan pagar bagus.


'sepertinya perlakuan dinginnya hanya dia tujukan padaku, dia hanya mengindari aku' Andre mengeratkan kepal tangannya, kabut gelap mulai terlihat di mata Andre. Sakti yang menyadari tatapan dingin Andre mulai menerka apa yang terjadi.


Sakti mengikuti arah pandang Andre, benar saja apa yang dia terka. Siapa lagi yang bisa dengan mudah mengubah mood sahabatnya itu jika bukan istri kecilnya itu. 'dilihat dari tatapannya, sepertinya sedang ada perang dingin' batin Sakti. 'pantas saja tadi malam dia tiba-tiba ingin mengurusi masalah kantor, tengah malem dia minta proposal akuisisi PT SFI, ckckck!'


Sakti menggelengkan kepalanya teringat yang terjadi tadi malam, yang membuat dia harus merevisi proposal saat itu juga, di tengah malam saat orang tidur terlelap bahkan saat dia sudah mendapatkan acc cuti. Yang hasilnya membuat mereka hanya tidur selama tiga jam, jam enam mereka sudah harus kembali karena Andre tak ingin mami nya tahu kalo dia tidur di luar tadi malam. Sementara hasil revisi masih mengambang.

__ADS_1


__ADS_2