Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
102 Kecelakaan


__ADS_3

Dengan cepat Andre menutup teleponnya lalu menghubungi Sakti, sambil kembali berganti pakaian dengan cepat lalu mengambil dompet dan kunci mobil. Tanpa pikir panjang Andre berlari keluar, pikirannya kalut dia takut istrinya benar-benar pergi dari rumah dan meninggalkannya. Andre memijit tombol lift dengan tak sabar, "sial! kenapa lama sekali sih!"


"halo,,,"


"Sak, periksa penerbangan ke Jakarta yang paling cepat, sekarang!"


"apa?" Sakti yang masih dalam mode setengah tidur tak mengerti apa yang dikatakan Andre, dia bahkan tak tahu siapa yang meneleponnya.


"sial! lu gak denger gue ngomong, hah?" Andre berteriak di teleponnya berharap Sakti tersadar.


"anjir! sial! lu mau bikin gue tuli, hah?"


Andre berlari menuju parkiran mobil setelah lift terbuka.


"periksa penerbangan ke Jakarta paling cepat!" Andre masuk ke dalam mobil menyalakan dan mulai melaju.


"tunggu, Ndre! lu baru dateng ke Singapura terus mau balik lagi?!"


"jangan banyak tanya! lakuin yang gue minta! atau lu gue pecat!" nada suara Andre mulai naik.


"ok! ok! kalem, Ndre, gue search sekarang"


Andre tak memutuskan panggilannya, dia berharap dapat penerbangan secepatnya.


"oke gue dapet, paling cepet jam empat!"


"jam empat? masih tiga jam lagi? cari lagi! maskapai apapun! kelas apapun! gue harus balik sekarang!" Suara Andre terdengar tak sabar.


"ok! ok! gue cari, gue cari,,, "


Tiiiiiinnnnnnn....


Sakti terkejut saat tiba-tiba suara klakson memekakan telinganya.


Ckiiiitttttt....


Brak! bruk!


tiiiiiinnnnnnn....

__ADS_1


"halo! halo! Ndre! Andre!!!!!!"


Tak ada suara dari sebrang sana.


"sial! Andre! jangan sampe terjadi sesuatu sama lu," Sakti berdiri dari tempat duduknya dia meremas rambutnya lalu mondar-mandir tak tahu apa yang harus dia lakukan.


"gue harus apa? sial!" Sakti bingung apa yang harus dia lakukan, awalnya dia ingin menghubungi Ana tapi keadaan di sana belum jelas, dia takut akan membuat Ana khawatir. Jika dia menghubungi Weni sekarang dia bahkan tak tahu di mana posisi Andre saat ini, jika memberi tahu Weni justru malah akan membuat ricuh. Sakti duduk dengan kedua tangan dirapatkan di tengkuknya, lalu kembali berdiri dan berjalan bulak-balik. Dia mencari penerbangan yang paling cepat tapi masih empat jam lagi.


"ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, ayolah,,," Sakti kembali melihat ponselnya, berharap seseorang menghubunginya.


Sekitar tiga jam kemudian akhirnya seseorang menghubungi Sakti dengan memakai nomor Andre. Benar saja yang dia kira, Andre mengalami kecelakaan dia masuk ke rumah sakit dan harus segera di operasi. Pihak rumah sakit meminta perwakilan keluarga pasien untuk menandatangani persetujuan tindak operasi. Dengan cepat dia menelepon Weni,


"Apa? bagaimana bisa? bukannya mas Andre sedang istirahat?"


"dengar Weni, aku di jalan mau ke bandara sekarang, baru tiga jam setengah lagi aku sampai di sana, Andre harus di operasi sekarang, aku kirim alamat rumah sakit sekarang, kamu datang ke sana, sekarang!" Sakti berbicara dengan penuh tekanan, dia mematikan teleponnya setelah memastikan Weni mengerti.


"halo,,," suara serak khas bangun tidur dari seorang perempuan di seberang sana.


"Ana! Andre kecelakaan,"


"apa????" Ana terkejut dalam kesadaran yang masih belum sempurna, dia lalu menutup mulutnya dan berpaling melihat Salma yang tidur di sebelahnya. Malam ini dia tidur di rumah teh Lia dan menemani Salma.


"Suami kamu kecelakaan Ana,"


"apa? apa yang terjadi? bagaimana bisa? kecelakaan dimana? bagaimana keadaannya?" Ana melontarkan banyak pertanyaan dengan tak sabar, dia mulai gelisah, jantungnya berdenyut dengan cepat.


"kamu tenang dulu, aku udah pesan dua tiket, sekarang aku di jalan, kamu siap-siap sekarang, aku jemput kamu, ya,"


"lalu bagaimana keadaannya? dimana dia sekarang?" Ana kembali melontarkan pertanyaan saat tak ada jawaban dari yang dia tanyakan sebelumnya.


"tenanglah!" Sakti bicara dengan sedikit membentak untuk menenangkan Ana.


"dengar Ana,, Weni sedang menuju ke rumah sakit sekarang, aku tak tahu pasti bagaimana keadaannya, yang aku tahu dia harus segera di operasi," Ana meneteskan air matanya, 'Weni?' batin Ana, dia menangis dengan menutup mulutnya lalu berjongkok dan bersandar di dinding luar kamar.


"Ana, Ana,,," Sakti memanggil beberapa kali, yang dia takutkan istri sahabatnya itu akan tiba-tiba pingsan dan itu akan membuatnya repot, apalagi jadwal penerbangan hanya satu jam lagi, dia melihat ke arah ponsel untuk memastikan bahwa ponsel mereka masih tersambung.


"Ana!," Sakti kembali memanggil Ana. Ana menarik nafasnya berat dia berusaha menstabilkan suaranya.


"ah, iya, maaf mas Sakti, mas Sakti bisa pergi tanpa aku, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan,"

__ADS_1


"apa? Ana! urusan apa yang membuatnya lebih penting dari pada hidup suamimu?!" Sakti terkejut dengan jawaban Ana.


tuttuttut


"sial!" Sakti hendak membanting ponselnya, tapi dia ingat dia membutuhkan ponsel itu, takutnya Weni menelepon untuk mengabari keadaan Andre. "Persetan!" Dia memaki lalu membanting stir memutar jalur langsung menuju bandara.


Ana menutup ponselnya begitu saja, dia menangis pecah tanpa suara, dadanya Kembali terasa sakit. Dia sangat tak berdaya sekarang, sejujurnya dia sangat ingin berada di samping suaminya, tapi untuk apa? bukankah sudah ada Weni? dia tak akan dibutuhkan lagi di sana? dia tak ingin mempermalukan diri sendiri dengan datang dan diabaikan.


Beberapa jam kemudian


"Weni gimana keadaanya?"


Sakti langsung bertanya pada Weni setelah dia sampai di depan ruang operasi, Weni langsung menubruk tubuh Sakti, dia menangis sejadi-jadinya. Sakti menghela nafas berat, dia membelai rambut Weni.


"tenanglah, tak akan terjadi apa-apa, bagaimana keadaannya saat masuk ruang operasi?"


Weni tak menjawab dia masih menangis dan terus menangis. Sakti memeluk Weni, menepuk punggungnya perlahan hingga setengah jam berlalu. Weni melepaskan pelukannya, Sakti menangkupkan wajah Weni dengan kedua tangannya lalu menghapus air mata yang tersisa. Weni, dia sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, terlebih Weni sangat manja padanya, bisa dibilang Weni mungkin lebih berani meminta padanya daripada pada Andre yang jelas secara hukum adalah kakaknya.


Hiks


"mas Andre, dia berdarah, mas, berdarah,,," Weni berkata disela sesenggukannya.


Sakti menatap Weni, Sakti mengerutkan keningnya 'apa separah itu? apa yang sebenarnya terjadi?' batin Sakti, Andre tak pernah terlihat sekalut ini, dia bahkan membentaknya dan mengancam memecatnya. 'ada masalah apa sebenarnya?'


"Weni, apa Andre sadar saat masuk ruang operasi?" Weni menggelengkan kepalanya, dia kembali menangis.


"dengar Weni, bisakah kamu ceritakan apa yang terjadi? kenapa Andre tiba-tiba ingin kembali ke Indonesia?"


Weni mengarahkan pandangannya dengan lekat pada Sakti, dia mengerutkan keningnya. 'mas Andre ingin kembali ke Jakarta?' batin Weni. Dilihat dari ekspresi wajah Weni, Sakti tahu bahwa Weni tak mengetahui apa-apa.


"""""''******""""""


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2