Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
99


__ADS_3

Bruk


"Nyonya,,," Bi Mirna yang sedang berjalan menuju dapur setelah selesai membereskan kamar majikannya di atas, tiba-tiba melihat Ana terjatuh di depan pintu kamarnya. Dia meninggalkan vaccum cleaner yang dijinjing lalu berlari menghampiri majikan mudanya yang tergeletak di lantai.


"Sitiiiii,,,," Bi Mirna berteriak memanggil temannya, mengangkat kepala Ana dan diletakan di pangkuannya.


"Nyonya, bangun nyonya,,,"


"ada apa teh, astagfirullah,,, nyonya kenapa?" Siti terkejut saat melihat nyonya mudanya berbaring di lantai dengan kepala di atas pangkuan Bi Mirna.


"Siti, panggil mang Imam, cepetan!"


Siti mengangguk lalu berlari keluar rumah mencari mang Imam, tak lama mereka kembali.


"Astagfirullah,,,," mang Imam ikut panik saat melihat Ana pingsang.


"Mang, tolong angkat nyonya ke kamar, Siti hubungi tuan,,,"


"iya teh," Siti menjawab sambil mengangguk lalu, berlari menuju letak telepon rumah berada.


"nyonya maaf, darurat ini mah," ijin mang Imam sebelum mengangkat tubuh nyonya mudanya.


"titip nyonya Mang, aku ambil minyak angin dulu," Mang Imam menganggu lalu berjalan dengan tertatih menuju kamar Ana, lalu merebahkan tubuh nyonya mudanya dengan perlahan, Bi Mirna masuk kamar dengan setengah berlari. Dia mendekati Ana lalu mengoleskan minyak angin di antara hidung dan bibirnya.


"teh, tuan gak ngangkat telepon nya, gimana atuh?!"


"hubungi terus, sampe tersambung, Siti!"


"iya, teh," Siti kembali ke tempat telepon rumah berada.


"Mang, siapin mobil,"


"geus siap mobil mah tatadi ge, pan erek nganteur nyonya ka kampus," (mobil udah siap dari tadi, soalnya tadinya mau nganterin nyonya ke kampus), Bu Mirna mengangguk sambil terus berusaha membangunkan nyonyanya. Tak lama kepala Ana bergerak, keningnya mengernyit.


"nyonya, nyonya,,," Bu Mirna menepuk pipi majikannya perlahan.


"ini teh manisnya, gimana, Mir?" Tanya Mbok Sum yang sempat diminta Mirna untuk membuat teh manis saat dia mengambil minta angin.


"ugh!" Ana melenguh memaksa membuka matanya, kepalanya terasa sangat pusing, sesaat dia membuka matanya tapi pandangannya seperti memutar hingga ia kembali menutup matanya.

__ADS_1


"nyonya, gimana? apa yang dirasa? kita ke dokter sekarang ya?" Bi Mirna khawatir melihat keadaan nyonya mudanya dengan wajah pucat pasi.


"aku gak apa-apa, Bi, cuma pusing doang, mungkin masuk angin,"


"tapi nyonya,,,"


"Mir, teh manisnya," Mbok Sum mengingatkan Bi Mirna agar nyonya mudanya disuruh minum teh manis dahulu sebelum dibawa ke rumah sakit.


"nyonya saya bantu bangun ya, minum dulu teh manisnya"


"aku gak bisa buka mata, Bi, asa muter titingalian teh," (keliatannya kayak muter)


"gak apa-apa nyonya gak usah buka mata, biar saya bantu," Mirna dengan sigap membantu nyonyanya untuk duduk, Mbok Sum menyodorkan segelas teh manis agar Bi Mirna mudah memberikan pada nyonyanya. Setelah minum teh manis badan Ana terasa lebih hangat, dia merebahkan tubuhnya dan mulai mencoba membuka matanya perlahan.


"nyonya sebaiknya kita ke dokter,"


"teh, tuan masih gak ngangkat teleponnya," Siti sedikit berteriak dari depan pintu, Ana tersenyum getir mendengarnya.


"tak apa-apa, tuan sibuk, gak usah dihubungi lagi," Semua art yang ada di situ merasa prihatin dengan keadaan nyonya mudanya, bukan mereka tak menyadari apa yang terjadi, hanya saja mereka terbiasa bungkam dengan apapun yang terjadi dengan majikannya.


"nyonya, sebaiknya kita rumah sakit dulu," mang Imam bicara mencoba meyakinkan nyonya mudanya, Ana menjawabnya dengan menggeleng.


"teh, Siti bawain sarapan buat nyonya atuh, ya,"


"iya, Sit, tolong bikinin nasi goreng ya, kaya waktu itu, nasi goreng kunyit," Ana menyela sebelum Bu Mirna menjawab.


"oh, iya nyonya, saya bikin ya,,,"


"iya makasih ya, Sit," Siti berlari ke dapur untuk memasak pesanan nyonyanya.


Dulu saat setelah pulang joging Ana melihat Siti sedang membuat nasi goreng kunyit, tapi bukan untuk sarapan majikannya, dia hanya membuat untuk dirinya sendiri, jadi tidak disajikan di meja makan. Ana sarapan dengan nasi goreng kunyit itu bersama Siti di dapur, sampai akhirnya Andre ikut nimbrung makan satu piring berdua dengan Ana, karena Siti hanya membuatnya untuk dua porsi saja.


"Bi, aku gak apa-apa, aku pengen istirahat dulu"


Bi Mirna mengajak Mbok Sum dan mang Imam keluar lalu menutup pintunya.


Sesaat mereka keluar air mata Ana kembali menetes, dia tak bisa mengendalikan perasaannya.


Kriiiinnngggg,,,

__ADS_1


Ana menghapus air mata di kedua pipi menggunakan punggung tangannya, dia mencari ponselnya yang berdering. Ternyata Mia yang menelepon.


"halo,"


"Woi!!!! ini udah mau jam sepuluh, lu mau bolos, hah???" Ana menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Mia terdengar sangat keras.


Ana tak langsung menjawab, dia mengambil nafas perlahan dan berusaha menstabilkan suaranya.


"Na,,, haloooo,,," Setelah beberapa saat tak mendengar suara Ana, Mia kembali berbicara.


"halo, Mi, gue gak masuk nih kayanya, gue sakit," suara Ana terdengar parau, tangannya menutup bibirnya saat tiba-tiba dia mulai kembali terisak. Kini Mia yang terdiam, dia berusaha mendengarkan dengan seksama suara sahabatnya. 'ada yang gak beres, nih!'


toktoktok


"Masuk,,," Ana bicara tanpa menjauhkan ponselnya.


"nyonya ini nasi goreng kunyitnya," Ana tersenyum,


"makasih ya,,," Ana berusaha bangun untuk duduk, Siti dengan sigap membantu.


"nyonya, mending ke rumah sakit, kalo kata Siti mah, bisi makin parah, mukanya nyonya meni pucet pisan," Siti kembali membujuk nyonya mudanya.


"aku gak apa-apa, Sit, masuk angin doang, ini juga udah enakan kok, habis makan pasti sembuh," ucap Ana menenangkan art yang paling usianya paling muda dan paling gesit itu juga paling santai saat diajak bicara. Ana sering menggodanya saat ada waktu senggang. Mia dengan sabar menunggu Ana berbicara, mendengarkan dengan seksama sambil menelisik situasi yang sedang di alami sahabatnya.


"eh, nyonya, tadi subuh teh, Siti liat tuan tidur di depan pintu kamar, Siti meni reuwas, gak sengaja kebangunin ku Siti, sampe molotot teh Mirna, untung tuan gak marah, kenapa tuan tidur di depan pintu ya,?!" (reuwas\=terkejut/kaget), Siti nyeroscos sambil membantu nyonyanya duduk dan menyodorkan sepiring nasi goreng kunyit. Ana mengerutkan keningnya,


"kamar mana?"


"ya kamar nyonya atuh, kamar mana lagi," jawab Siti sambil menyendok nasi hendak disuapkan pada Ana.


"aku aja,,," Ana mengambil alih sendok di tangan Siti. Mia masih setia mendengarkan, ponsel Ana di simpan disampingnya tapi sambungan teleponnya tetap tak terputus, juga Mia memang sengaja tak menutupnya.


*******"""""*******


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,

__ADS_1


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2