Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Resepsi Day One part 2


__ADS_3

Suara yang begitu dia kenal, membuat Ana berdiri secara refleks lalu berbalik melihat ke arah orang yang memanggilnya.


"Dimas"


Ana memanggil namanya pelan, masih ada sedikit perih di hatinya.


Andre menatap Ana yang tiba-tiba terlihat sedikit tegang.


"Pak Andre selamat atas pernikahannya, Pak Sakti, Mbak Weni,"


Dimas menyapa big bos nya, lalu mengulurkan tangan, Andre berdiri untuk menyambut uluran tangan Dimas. Dimas menganggukan kepalanya tanda hormat pada Sakti dan Weni.


Sekilas Andre menatap Ana yang menundukkan kepalanya.


"terimakasih" jawab Andre singkat.


Setelah menyalami Andre, Dimas beralih kepada Ana "Ana, selamat ya"


Dimas mengulurkan tangan, Ana menyambut uluran tangan Dimas, sesaat tatapan mata mereka bertemu, tatapan sendu yang Ana rindukan yang sudah harus dia lepaskan seutuhnya. Ana tersenyum tipis.


"makasih" Ana melepas tautan tangan mereka lalu menundukkan kepalanya tak berani lagi menatap Dimas, jantungnya berdetak cepat, kakinya terasa lemas.


Suasana hening seketika, Andre menyadari ada sesuatu antara mereka, dia menatap tajam ke arah Dimas yang masih tak melepaskan tatapannya dari Ana.


"ah pak Dimas, ya?!" Sakti memecah suasana.


"benar pak Sakti, saya dari bagian SDM"


"oh, kenal Ana?"


"ah, ya, saya teman kuliahnya"


"oh"


'ckckck! saingan muncul terlalu cepat' batin Sakti.

__ADS_1


"a-aku, ke ruang istirahat sebentar" Ana menutupi rasa gugupnya dia melangkahkan kakinya menjauh, walau kakinya masih terasa sakit, dia masih berusaha mempercepat langkahnya.


'cih! saat bertemu dengan mantannya dia bahkan berjalan cepat tanpa takut kakinya sakit!' Batin Andre tak suka.


"kalau begitu saya permisi, Pak, Mbak" Dimas akhirnya mudur diri tak ingin membuat suasana semakin canggung. 'Semoga kamu bahagia, Ana' batin Dimas, dia memang sudah melepaskan Ana sejak Ana memutuskan untuk menikah, tapi saat bertemu langsung di pernikahannya, sakit itu tak bisa dia sembunyikan. Dadanya terasa sesak, Ana yang terlihat begitu cantik dengan balutan baju pengantin, sayangnya bukan dia yang menjadi mempelai pria nya.


"Ndre!" Andre yang hendak mengejar Ana ke ruangan istirahat langkahnya dihentikan oleh Sakti.


"biarkan dia sendiri dulu" Andre mengeratkan kepalan tangannya, lalu berbalik berlawanan arah.


'cih!' Batin Andre, panas di hatinya membuat langkahnya menjadi cepat tanpa dia sadari, dia bahkan tak tau kemana tujuannya.


'aku tak menyangka ternyata mantannya berada satu atap denganku'


"ckckck! akhirnya pohon kelapa seribu tahun tak berbuah ini mulai berbunga!" Sakti tersenyum menatap kepergian Andre.


Weni yang sejak tadi memperhatikan, dia menyadari perasaan Andre pada Ana, dia mengepalkan tangannya tanda tak suka.


"ah! Weni, aku sedikit lapar, kamu mau ikut aku mengambil beberapa cemilan"


"tidak!" jawab Weni ketus, sambil berpaling berjalan menjauhi Sakti.


Dalam ruangan istirahat, Ana duduk berjongkok di sudut ruangan, kepalanya ditekuk diantara lututnya menyembunyikan wajah dengan tangannya. Tubuhnya bergetar menahan tangis, dia kira dia sudah melepaskan Dimas setelah lama tak bertemu. Tak disangka apa yang dia kira sudah hilang, begitu melihatnya semua perasaan kembali dalam sekejap.


Dia terisak tanpa peduli dengan keadaannya yang sudah berantakan. Untunglah ruangan istirahat itu tak ada orang. Jam menunjukan waktu Ashar telah tiba, Ana memutuskan menenangkan diri dengan bersembahyang, lalu meminta MUA memperbaiki riasannya.


Acara ramah tamah sudah selesai sejak satu jam yang lalu, sebagian tamu sudah kembali ke hotelnya masing-masing dengan menggunakan mobil jemputan pribadi yang disediakan pribadi oleh Andre. Ya, memang semua karyawan MF yang dari cabang luar kota disiapkan hotel secara pribadi oleh keluarga Andre, beberapa hotel di sekitaran sudah di booking hingga acara resepsi selesai. Sudah dua jam berlalu, Andre masih tak melihat Ana di ballroom, dia memutuskan menghampiri Ana ke ruang istirahat.


Andre masuk ke ruang istirahat, dilihatnya Ana sedang tertidur di salah satu sofa.


'ck! menangis sampai tertidur' batin Andre berjalan perlahan mendekati Ana. 'dia bahkan tak mempedulikan kakinya yang lecet'


Andre berjongkok di dekat sofa tempat kaki Ana berselonjor. Dia melihat lecet kaki Ana yang semakin parah dari sebelumnya, dia lalu mengeluarkan plester dari saku jasnya yang sempat dia minta seseorang untuk membelinya, dengan hati-hati dia menempelkannya agar tak membuat Ana terbangun.


Sementara Ana yang tidak tidur terlalu lelap menyadari ada sesuatu di kakinya langsung membuka mata, dengan refleks kakinya menendang-nendang, membuat Andre terjengkang menghindari agar tak tertendang kaki Ana. Ana mengira ada serangga di kakinya.

__ADS_1


"hei! ini aku!" Andre memegang kaki Ana agar tak mengenai wajahnya.


"om?" Andre melepas pegangannya pada kaki Ana setelah melihat Ana tersadar sepenuhnya.


"om kok disini? lagi ngapain?" suara Ana masih terdengar sembab. Andre melihat mata Ana yang memerah 'ck! sulit melepaskan malah nangis di ruang istirahat'


"kenapa aku tak boleh datang?!" jawab Andre dingin, dia berdiri lalu pergi menjauh menuju pintu keluar ruangan.


"bukan gitu, aku pikir masih menyambut tamu" Ana sedikit meninggikan suaranya karena Andre tak menghentikan langkahnya yang semakin menjauh. Andre tak menggubris ucapan Ana, dia terus berjalan keluar.


"ada apa lagi dengannya, sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar dingin, beuh sensitif amat jadi orang!" Ana menggerutu setelah melihat Andre keluar dari ruangan.


'apa aku harus bilang, aku kesini karena menghawatirkan istriku yang menangisi mantannya?! ck! Banyak perempuan yang menginginkan aku menjadi suaminya, tapi istriku sendiri malah menangisi laki-laki lain, heh! miris sekali hidupku ini!' sayangnya kata-kata itu tak bisa langsung dia ucapkan, mau ditaruh dimana muka dia, julukan CEO tampan dengan seribu pesona akan hancur seketika jika ada orang yang tau kalo dia dikalahkan oleh saingan cintanya yang masih bocah ingusan.


Tak berapa lama Andre keluar, Sakti langsung menghampirinya.


"gimana keadaannya?" Sakti mengambil dua gelas minuman saat seorang pramu saji melewatinya.


"menurut lu?!" Andre menerima minuman yang disodorkan Sakti.


"ck! dia itu udah jadi istri lu ,Ndre! apa yang lu takutkan?!"


"lu satu-satunya orang yang tau pasti gimana pernikahan gue sekarang" Andre bicara sedikit berbisik, dia tak ingin ada orang yang tau masalah pribadinya. Dan membuat Sakti mendekat pada Andre agar mendengar lebih jelas apa yang diucapkan Andre.


"makanya lu jangan diam aja! kejar donk! lu taklukkin hatinya, hanya seorang Ana saja, bukan sesuatu yang sulit kan?!" Sakti menimpalinya dengan berbisik juga.


"heh! lihat saja, gue akan membuat dia menyesal meminta bercerai!" Andre tersenyum licik.


"wkwkwkwk, semangat, bro!" Sakti menepuk pundak Andre.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka.


"astaga! kenapa aku pikir mereka sangat serasi, sepertinya om Andre yang lebih dominan, jadi apa Sakti yang berperan jadi perempuan?"


Senyum Ana mengembang begitu dia memikirkan sesuatu yang lebih intim antara Andre dan Sakti.

__ADS_1


"aaaaaahhhhh Sooo sweeeeetttt,,,, (nada manja) eh! astagfirullah, Ana mikir naon maneh?!" Ana menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


'apa aku berdosa memisahkan dua orang yang saling mencintai, hiks'


__ADS_2