Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
125. Waktunya Pulang


__ADS_3

"gak ada, walaupun aku tinggal di sana udah hampir sepuluh tahun, tapi yang pernah tinggal di sana cuma aku sama Sakti beberapa kali, juga mang Imam, art paling dateng pagi buat bersih-bersih doank," Andre menjelaskan panjang lebar.


"jadi A Andre sejak kapan tinggal di rumah utama?"


"sejak Weni dateng," jawabnya Andre jujur. Ana terlihat menimang.


"kamu lihat dulu aja lokasinya, kalo cocok kita tinggal disana ya, kalo gak cocok kita bisa cari apartemen lain," bujuk Andre.


Mobil akhirnya berhenti di gang tempat kontrakan Ana, mang Imam dengan sigap membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya. Andre menyodorkan tangannya untuk tumpuan Ana keluar dari mobil, dengan senang hati Ana menyambutnya, dia merangkulkan tangan ke lengan Andre saat berjalan.


"kakinya masih sakit gak?"


"kadang sedikit ngilu, tapi gak terlalu parah,"


"Minggu depan kontrol lagi ya,"


"iya, kamu gimana perutnya enakan gak?"


"he-em, baik-baik aja sih gak ada berasa apa-apa,"


"baguslah, baik-baik ya, nak,,," Andre mengusap perut Ana.


"kok aneh ya, teh Tia muntah-muntah lho pas hamil muda, kenapa aku gak ya?" Ana teringat saat teh Tia bercerita sebelum dia tahu bahwa sedang mengandung, di pagi hari dia sering memuntahkan makan yang dia makan, dia hampir tak bisa pergi kerja jika tak memaksakan. Dia mengira karena masuk angin, tapi setelah beberapa kali minum tolak angin, muntahnya tetap tak mereda, akhirnya dia mulai ingat jika dia belum datang bulan dalam beberapa waktu.


"sebaiknya jangan, nanti susah makan kalo muntah terus, bisa kurang gizi lho,"


Ana melihat sebuah motor parkir di depan kontrakannya, juga pintunya terbuka sedikit.


Ana tahu Dimas yang datang, mungkin teh Tia yang memintanya datang karena dia tiba-tiba tak ada di kamar.


"assalamualaikum..."


"waalaikumsalam..." Dimas dan teh Tia menjawab bersamaan.


"Na, kamu darimana?" Ana tak langsung menjawab pertanyaan teh Tia, dia malah cengengesan melihat wajah khawatir Teh Tia.


"gak apa-apa Teh, aku baik-baik aja sekarang, maaf ya, ponsel aku ketinggalan, heheee jadi gak sempet ngabarin,"


Andre mengantarkan Ana ke kamarnya, lalu keluar kamar membiarkan dia bicara dengan teh Tia.

__ADS_1


"Pak, ada apa dengan Ana? kenapa tiba-tiba pergi malam-malam?"


"kamu perhatian sekali sama istriku" tak menjawab pertanyaan Dimas, Andre malah menyindir perhatiannya.


"wajar aku khawatir, masih bisa dibilang Ana adalah temanku," jawab Dimas dengan tenang, Andre tersenyum mengejek.


"tenang aja, aku tahu dimana posisiku, kalian sudah menikah, aku tak punya niat jadi peminor," ucap Dimas dengan tatapan tajam, Andre membalas tatapan mata Dimas tak kalah tajam.


"baguslah," jawab Andre mulai menurunkan waspadanya. "tadi malem perut Ana tiba-tiba sakit, ternyata dia hamil, dan tak boleh kecapean," jawab Andre tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya, tak etis menurutnya jika harus mengatakan Ana hampir keguguran karena dia menyemburkan sp3rm2nya di dalam.


'Ana, hamil? benar, mereka sudah menikah, begonya aku percaya isu seperti itu, jelas-jelas pak Andre tak terlihat seperti seorang gay,' batin Dimas


*******


Weni kini berada di dalam rumah utamanya di Jakarta. Asisten rumah tangga di sana mengatakan jika sudah lebih dari seminggu Andre tak tidur di sana, hanya sesekali saja datang untuk mengambil beberapa berkas atau baju lalu pergi lagi.


Weni terduduk di pinggir tempat tidurnya, masih berpikir untuk mencoba menghubungi ponsel Andre, tapi terakhir kali teleponnya masih tak di angkat oleh Andre. Weni lalu menelepon Sakti, dia mencari tahu keberadaan Andre.


"halo,,,"


"mas, aku di Jakarta, mas Sakti tahu gak mas Andre dimana?"


"mas, kamu kenapa sih akhir-akhir ini kok kaya dingin banget sama aku?"


terdengar helaan nafas panjang dari sebrang sana.


"Weni, kamu mau ngapain ke Jakarta?" tanpa menjawab Sakti kembali menanyakan hal yang sama.


"memangnya aku gak boleh pulang? sebenarnya ada apa sih, kenapa kalian tiba-tiba berubah,"


"sudahlah Wen, jika tak ada yang penting sebaiknya kamu tak perlu mencari Andre,"


"memangnya aku gak bisa ketemu kakakku sendiri jika itu bukan masalah penting, kalian ini aneh banget, sih!" Weni masih bersifat keras tak merasa ada yang salah, dia percaya bahwa tak ada yang tahu masalahnya.


"ya sudah terserah kamu, aku masih banyak kerjaan," Sakti menutup teleponnya.


'sepertinya mereka benar-benar sudah mengetahui sesuatu, aku harus bertemu dengan dengan mas Andre secepatnya, dia sayang sama aku, aku yakin penjelasan ku akan cukup membuat dia memaafkan ku, tapi kemana aku harus mencarinya?' batin Weni. Dia tahu Ana tinggal di sebuah kontrakan kecil tapi dia tidak tahu alamat kontrakannya ada dimana, 'sial kenapa saat itu aku gak tanya dimana kontrakannya, tapi untuk apa juga aku tahu, tidak mungkin mas Andre mau tinggal di kontrakan kecil seperti itu, lalu dimana dia? apa mungkin dia punya tempat tinggal lain' Weni masih berpikir untuk secepatnya menemui Andre.


********

__ADS_1


Kriiiinnngggg....


Andre melihat sekilas layar ponselnya, 'sakti?'


"aku angkat telepon," Andre keluar rumah untuk mengangkat telepon dari Sakti.


"halo,"


"Ndre, Weni pulang ke Jakarta, dia bersikeras ingun ketemu kamu, barusan dia nanya keberadaan mu" Andre menghela nafasnya, dia benar-benar tak ingin bertemu dengan adiknya itu, dia masih belum bisa meredakan amarahnya, jika sampai mereka bertemu dia bahkan tak yakin apa yang akan dia lakukan pada adik angkatnya itu.


"biarkan saja, aku tak mungkin bertemu dengannya saat ini"


Tut


Andre menutup teleponnya begitu saja lalu masuk kembali ke rumah untuk menemui Ana.


"sayang gimana?" Andre berdiri di depan pintu kamar Ana.


"nantilah agak siangan, aku pengen rebahan dulu," Ana menjawab dengan mau tak mau. Dia memang sudah berpikir untuk pindah, benar apa yang suaminya bilang mereka tak bisa terus tinggal di kontrakan kecil ini, terlebih tak hanya mereka berdua yang ada disana, Ana merasa tak enak pada teh Tia.


Andre menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia lalu kembali ke ruang tamu dengan laptop dan beberapa berkas yang sempat diambil dari kamarnya.


"Na, insya Alloh besok teteh pindah, maaf ya ngerepotin kamu terus,"


"hah?"


"Dimas udah dapet kontrakan baru, jadi teteh bsia secepatnya pindah, tadi dia udah bilang ke teteh,"


"jangan teh, sebenarnya A Andre minta aku pulang bersamanya, hhhh...(menghela nafas...) sekarang aku udah hamil, gak bisa terus-terusan egois, kasian juga a Andre dia bela-belain tidur di kontrakan kecil kaya gini demi buat baikan lagi, sebenarnya memang bukan salah dia, jadi udah waktunya aku pulang juga, teteh gak usah pindah ya, sayang masih lama soalnya aku bayar buat setahun waktu itu, lagian pindahan itu capek, apalagi teteh lagi hamil gini,"


""""""*****""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,

__ADS_1


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2