Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Misi Gagal


__ADS_3

'astaga! apa yang aku lakukan?! ini terlalu agresif kan?? apa yang akan dia pikirkan tentangku?! tenang Ana! anggap dia Stela!' sejenak Ana berpikir kembali 'gak biasa! dia bukan Stela!' Ana melonggarkan pelukannya, dengan cepat dia mencoba menarik kembali tangan yang memeluk Andre tapi tangan Andre sudah lebih cepat menangkap tangannya, dia memegang tangan Ana agar tak melepaskan pelukannya. 'ugh! bagaimana ini?' malu dan takut bercampur membuat dia bingung harus melakukan apa.


'heh! sudah seperti ini dan kau ingin melepaskannya begitu saja, jangan harap!' batin Andre, dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ana yang menyadari Andre membuang nafasnya dengan kasar menciutkan dirinya 'pasti dia marah!' batin Ana. Ana mencoba menarik tangannya kembali, tapi Andre masih tak melepaskannya. 'Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?! bego! bego! Ana bego!' Ana mengeratkan pejaman matanya.


'sial! aku ingin memakannya sekarang!' Adik kecilnya sudah tegak berdiri meminta haknya segera dipenuhi, membuat kabut hasrat mulai menguasai pikiran dan hatinya. Tanpa sadar Andre meremas tangan Ana kasar.


"ssstttt,,, sakit!" Ana mendesis merasakan panas dan sakit secara bersamaan pada tangannya.


Deg!


Mata Andre membesar, suara Ana menarik kembali kesadarannya secara paksa dia lalu mencoba mengendalikan kabut hasratnya yang mulai tak bisa dia kembalikan.


'apa yang aku lakukan? jika aku menginginkannya aku harus membuat hatinya menjadi milikku lebih dulu, aku tak bisa membuatnya membenciku!'


Andre melepaskan genggaman tangannya.


Secara otomatis Ana menarik tangannya. 'sepertinya dia benar-benar marah' batin Ana, dia mengira Andre marah karena Andre meremas tangannya dengan kasar. Sementara setelah lepas dari pelukan Ana dengan sepenuhnya, Andre bangkit dari tempat tidurnya dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tak lama suara shower terdengar, Andre mengguyur tubuhnya dengan air dingin tanpa membuka baju. Rasa dingin yang menusuk berharap bisa mendinginkan kepalanya dan tentunya menidurkan kembali adik kecilnya dengan cepat.


Ana yang masih di tempat tidur, menggulung dirinya dengan selimut. Rasa sesalnya membuat dia tak berani bertemu dengan suaminya. 'sepertinya dia memang gak akan biasa menganggap aku sebagai temannya, apa aku benar-benar tak bisa memberinya kenyamanan sebagai teman dekatnya, apa yang harus aku lakukan sekarang?! hiks! sepertinya misiku gagal! bisakah aku mengembalikan jati dirinya sebagai laki-laki?! batin Ana, matanya mulai terasa perih, rasa sesak di dadanya membuat air matanya meluncur tanpa sadar.


'astaga! ternyata Bandung sedingin ini!' Andre merasakan dingin yang menusuk segera memakai baju piamanya lalu masuk kedalam selimut. Sekilas dia melihat Ana yang menggulung dirinya dengan selimut. Ingin rasanya dia memeluk Ana untuk sekedar menghangatkan tubuhnya setelah mandi air dingin. Tapi dia urungkan, dia lebih takut si kecilnya lebih berontak dan tak bisa diatasi lagi olehnya dari pada tidur kedinginan.


'ada apa denganku? kenapa setiap melihat dan bersentuhan dengannya aku tak bisa menahan diri!' Andre mencoba mengingat lagi, dia sering melihat tubuh perempuan apalagi dia dibesarkan diluar negeri, sudah biasa baginya melihat area sensitif lawan jenisnya yang terbuka. Tapi tak ada rangsangan yang berlebihan pada adik kecilnya. 'atau karena bersentuhan makanya aku tak bisa menahan diri? benar! aku hampir tak pernah bersentuhan dengan perempuan kecuali Weni dan sekarang Ana.' Andre menggulung dirinya dengan selimut berusaha menghilangkan dingin yang sejak tadi masih sangat terasa ditubuhnya.


'tunggu! waktu itu Weni sempat menekankan daerah sensitifnya padaku,' Andre mulai berpikir lagi, memang beberapa kali Weni sempat menekan daerah sensitifnya pada tubuhnya dan tak ada perasaan atau rangsangan apa-apa pada tubuhnya juga adik kecilnya, selain perasaan risih.

__ADS_1


'sial! perasaan apa sebenarnya ini, apa aku menyukainya atau aku hanya menginginkan tubuhnya saja!'


hachiwww,,,


srooottttt,,,


'bagaimana bisa reaksinya secepat ini, ah! sialan!'


Ana yang memang belum benar-benar tidur kaget mendengar suara bersin Andre. Dia membuka selimutnya melihat Andre yang seperti menggigil kedinginan.


"Om, kenapa?" Ana bingung melihat Andre yang tiba-tiba menggigil kedinginan


"kamu gak liat aku kedinginan!"


"aku tau, maksudku kenapa bisa tiba-tiba kedinginan?"


"astaga! hahaaaaaa,,," Ana tertawa tanpa ditahan. Andre mendelik melihat Ana menertawakannya.


"Om kita ini lagi di Lembang, siang aja airnya dingin, apalagi malem! ini malah mandi tengah malem pake air dingin, hadeuuh, dasar aneh!" Ana bangun dari tempat tidur berjalan menuju meja rias tempat dia menyimpan tasnya.


"lagian gak ada kerjaan banget sih tengah malem mandi, pake air dingin lagi, buat apa ada water heater?! ckckck, saking marahnya otak jadi ikutan konslet, kalo marah bilang aja! gak usah pake acara mandi air dingin tengah malam, gak sekalian pake bunga?" Ana terkekeh geli.


'ck! senang sekali kau tertawa! jika bukan karena kau, buat apa aku mandi malem, pake air dingin pula, sial!'


"sini, buka bajunya!" Ana mendekati Andre dan membuka selimut yang membalut tubuhnya.


"kau, kau mau apa?" Andre beringsut menjauh setelah merebut selimut yang sempat ditarik Ana. Ana terkekeh melihat reaksi Andre. 'sepertinya hubungan kita benar-benar akan menjadi jauh' Ana tersenyum hambar.

__ADS_1


"aku cuma mau balurin pake kayu putih, biar gak terlalu dingin" Ana mengacungkan kayu putih yang dia ambil di tasnya tadi.


"kalo dibiarin nanti kena flu, lagi" lanjut Ana. Andre kembali beringsut mendekat pada Ana, membuka bajunya dengan pasrah membiarkan Ana membaluri tubuhnya dengan minyak kayu putih.


"astaga! badannya dingin banget, Om!"


"udah kamu gak usah banyak komentar, cepetan! aku ngantuk!" Ana langsung diam mendengar ucapan Andre, jantungnya berdebar perlahan, tiba-tiba rasa sedih mulai merasuki hatinya membuat dadanya terasa berat.


'aku harus menjauh darinya sebisa mungkin, huft! jangan sampai adik kecilku kembali terbangun, bisa mati kedinginan aku kalo harus menidurkannya dengan air dingin seperti ini,'


Andre merasakan telapak tangan Ana yang hangat mulai mengusap punggungnya perlahan, rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. 'tidak bisa! aku benar-benar tidak bisa berada dekat dengannya terlalu lama' batin Andre yang mulai merasa nyaman dengan sentuhan Ana.


Ana menghentikan kegiatannya setelah dirasa membalurnya dengan merata. "nih! Om bisa membaluri bagian depannya sendiri!" Ana menyodorkan minyak kayu putih.


"tidak perlu! kamu tidurlah! aku keluar dulu, ada urusan yang harus ku selesaikan" Andre memakai baju piamanya, dilapis dengan kimono tidur lalu keluar dari kamar hotel setelah mengambil ponselnya.


'sial! apa yang aku pikirkan?! sembilan puluh persen otakku pindah kebawah saat berada dekat dengannya! aku harus menjauh darinya!' Andre berjalan keluar, menyusuri koridor yang tampak lengang karena jam sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari. Hanya beberapa petugas hotel terlihat masih berjaga. Andre terus berjalan sampai ke lobi hotel, dia lalu mengambil ponsel dari sakunya.


Setelah beberapa kali deringan, telepon akhirnya diangkat. Andre bicara pada seseorang beberapa saat, lalu dia menutup teleponnya. Tak lama seorang petugas hotel menghampirinya.


"selamat malam pak, ada yang bisa kami bantu?"


"tidak perlu, saya hanya menunggu teman saya"


"baik, jika ada yang bisa dibantu bapak bisa mencari kami, selamat malam" petugas itu menundukkan kepalanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Andre kemudian dia berlalu.


Sementara di kamar hotel.

__ADS_1


Ana terdiam masih di posisi semula. 'dia membenciku,' Ana menundukkan kepalanya, 'dia menghindariku, urusan apa yang perlu dia selesaikan di tengah malam seperti ini' dadanya mulai terasa sesak, matanya perih mulai mengeluarkan cairan bening, meleleh perlahan melalu garis wajahnya.


__ADS_2