
Apartemen
"wow! gede ternyata apartemennya, udah lengkap gening?!" Ana berjalan mengelilingi setiap sudut apartemen, membuka setiap ruangan.
"gening itu apa?"
"emma,,, apa ya?!" Ana berlagak berpikir masih sambil berjalan di sekitar mini bar.
"ck! kamu ini!" Andre melipat tangannya lalu menyandarkan diri ke dinding dengan menggunakan lengannya sambil memperhatikan tingkah istrinya.
"kalo kamu gak suka kita bisa cari apartemen yang lain"
"aku suka," jawabnya cepat. Apartemen mewah juga lengkap, kemungkinan harganya di atas satu milyar, siapa yang gak suka? pikirnya.
"apartemen ini milik temanku, dia menjual dengan isinya, jadi semua yang ada disini bekas, kalo kamu gak suka bisa ganti semua, atau cari apartemen yang baru,"
"gak usah, deh! ini juga udah bagus, bekas juga masih bagus semua, pasti harganya malah!," Ana masih berjalan mengelilingi dan menilik setiap pajangan juga barang-barangnya. Andre tersenyum,
"gimana? ada yang mau diganti?" Andre mendekati istrinya dan mulai memeluknya dari belakang, meletakan dagu di bahunya.
"apartemen bagus gini, view nya juga bagus, apalagi kalo malem, kenapa dijual?" Ana masih menilik pajang di mini bar.
"mereka bercerai, setelah itu dia menjual semua aset yang pernah digunakan istrinya, termasuk apartemen ini!"
"sakit hati sampe segitunya," Ana membalikan tubuhnya dalam pelukan Andre.
"wajarlah, istrinya selingkuh!"
"hah?"
"hm,,," Andre mengeratkan pelukannya, dia mulai mengecup bibir istrinya.
"gimana sih, cowoknya bener malah disia-siain,"
"yah, siapa yang tau," Andre kembali mencium bibir istrinya, Ana membalas ciuman suaminya.
Andre tersenyum,
__ADS_1
"apaan sih," Ana malu saat melihat suaminya tersenyum. Andre tak menjawabnya dia kembali *****4* bibir istrinya dengan rakus, "umh!" Ana mencoba menghentikan suaminya, dia ingat mereka ke sana hanya untuk melihat-lihat lalu melanjutkan jalan-jalannya. Ana masih mencoba melepaskan pagutannya. "A," bisiknya, Andre tak menghiraukan istrinya, dia masih terus mengecup bibir istrinya berkali-kali membuat Ana sulit bicara lalu kembali melum4tnya memperdalam ciumannya, Ana melepaskan kalungan tangannya di leher Andre dia berusaha mendorong tubuh suaminya, dia ingin bicara. Andre yang tak sabar peralahan mendesak tubuh istrinya merapa ke dinding tanpa melepas ciumannya menekan kedua tangannya ke atas dan menggunakan sebelah tangannya yang bebas untuk menjelajahi tubuh istrinya. Saat dia menurunkan ciumannya ke leher Ana, dia mulai melepaskan tangan Ana dan membuka satu persatu kancing bajunya juga masih menciumi leher Ana dengan ganas, "a-aku, ma-u, ja-lan," bisik Ana disela nafasnya yang mulai memburu.
"sebentar aja," bisik Andre perlahan dengan suara berat dan serak lalu kembali mencium bibir Ana tanpa menghentikan aktivitas tangannya. Dia menggendong istrinya merebahkannya di atas sofa lalu menindihnya dan mulai kembali menciumi tubuh istrinya dengan rakus, melepas bajunya dengan tak sabar. Ana akhirnya pasrah karena tak bisa menghentikan keinginan suaminya, dia mulai mendesah diantara nafasnya yang memburu.
Kedua tangannya meremas bahu Andre saat daerah intinya sekali lagi merasakan perih.
"ugh!"
"masih sakit?"
"hm,,,"
Andre mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
"ah,,,"
Ana menutupi tubuhnya dengan kemeja yang tergeletak di lantai, Andre menyadari itu kemudian dia menggendong istrinya dan berjalan ke kamar utama. Setelah merebahkan istrinya diapun ikut berbaring dan menyelimuti, dia mengangkat kepala istrinya meletakkan dilengan untuk dijadikan bantal. Ana melingkarkan tangan di pinggang Suaminya.
"Om, kenapa apartemennya bersih banget, baru ditinggalin ya?!"
"kamu itu, kadang manggil Aa, kadang panggil Om, gimana, sih?!"
"sekarang aku merasa benar-benar jadi Om-om yang nidurin Ana SMA di hotel,"
Hahaha,,, Ana tertawa lepas saat mendengar ucapan suaminya. Ana menengadahkan kepalanya melihat wajah suaminya, Andre pun melakukan hal yang sama, menundukan pandangannya menatap istrinya.
"apa aku keliatan kaya anak SMA?"
"ya, wajah sama tingkah kamu gak menunjukan seorang perempuan berusia dua puh tiga tahun," Andre mencubit hidung Ana pelan.
"benarkah?" Ana menepisnya lembut.
"seharusnya kamu sudah harus mulai dewasa, udah punya suami, bentar lagi punya anak, jangan terlalu pecicilan,"
"punya anak?" Ana berpikir keras saat, dia memikirkan nasib kuliahnya jika dia punya anak sekarang.
"hm,,, kenapa?"
__ADS_1
"yah, kalo aku hamil sekarang, kuliahku gimana? kalo harus cuti, aku takut jadi males nerusinya," Ana menekuk wajahnya dia tak berani menatap suaminya. Andre mengangkat dagu istrinya agar kembali menatapnya, Andre sedikit tak menyangka kalau pikiran dia dan Ana berbeda dalam masalah memiliki keturunan. Namun Andre tak ingin memaksakan keinginannya, istrinya punya hak untuk memutuskan.
"lagi pula belum tahu kamu akan hamil kapan kan?"
"tapi,,,,"
"udah! gak usah mikirin itu dulu, tadi kamu nanya apa? apartemennya bersih?"
Ana tahu sebenarnya itu adalah cara suaminya untuk mengalihkan pembicaraan, dia juga mengerti jika suaminya ingin segera punya anak, mungkin berhubungan dengan usianya memang tak muda lagi. Tapi untuk saat ini dia juga tak ingin membicarakan hal ini.
"iya, baru ditinggal gitu?"
"bukan, apartemen ini udah ditinggal sekitar setahunan lah, tapi memang masih ada yang bersiin setiap seminggu dua kali."
"oh! pantesan,"
"lagian aku udah buat persiapan sebelum kamu datang kesini,"
"yang bersiinnya siapa?"
"art, tapi dia gak tinggal disini, dia cuma bertugas bersiin doang! selama kita gak disini pun akan seperti itu,"
"digaji dong!"
"ya iyalah, mana ada yang gratis, neng! kamu ini!" Andre kembali mencubit pelan hidung istrinya.
"hehehe,,," Andre menatap istrinya, dia tersenyum lalu mengecup bibir istrinya. Ana yang sudah memiliki firasat buruk mencoba melepaskan diri, sayangnya sebelah tangan Andre meraih tengkuk Ana hingga dia tak bisa berpaling. Akhirnya dia tak bisa berbuat apa-apa, di bawah tubuh suaminya, dia hanya bisa pasrah. Tambuah Ciek!
Ana memejamkan matanya, tubuhnya yang masih terasa pegal karena semalam malah semakin tak bertenaga sekarang. Andre yang baru keluar dari kamar mandi hendak memakai pakaiannya menolah ke arah Ana yang memejamkan matanya kemudian menghampirinya.
"kok tidur! katanya mau jalan?!"
Ana menghembuskan nafasnya, dia kemudian menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepala.
"boro-boro mau jalan, yang ada pengen tidur, capek!" Ana bicara dari balik selimut.
"baiklah kalo gitu, aku temenin kamu tidur,"
__ADS_1
Andre lalu beranjak naik ke atas tempat tidur, menyibakan selimut lalu masuk dan mulai menggoda istrinya.
"aaaahhhhh!!!! gak mauuuuu!!!!"