
Hari berikutnya.
Saat suara kumandang adzan mulai terdengar Ana memaksakan tubuhnya bergerak walau tanpa membuka matanya, tangannya menggapai ponsel yang dia letakan di nakas dekat tempat tidurnya. 'Kenapa berat banget?!' Ana lalu memegang perutnya yang terasa berat dan membuat tubuhnya tak bisa bergerak. Saat merabanya, Ana mulai menyadari sebuah lengan kekar membelit di perutnya. Ana menghela nafas saat dia sadar itu lengan suaminya. 'Kenapa lagi dia bisa tidur disini?!' batinnya sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya. Karena usahanya ternyata sia-sia dia akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan suaminya apalagi memang sudah waktunya salat subuh.
Ana menengokkan kepalanya kebelakang. Wajah suaminya tepat dibalakangnya, bahkan dia sekarang mulai tersadar dan bisa mendengar suara dengkuran halusnya. Sangat nyaman dirasakannya, saat bangun ada seseorang di sampingnya dan memeluknya. Itu sudah seperti kebiasaan baginya saat bangun dari tidur ada seseorang di sampingnya padahal hanya baru empat hari saja mereka menikah. Ana menghela nafas berat, kenyataan memang tak seindah bayangan.
"Om! Hei!" Ana menepuk pipi Andre beberapa kali.
"Hhmm,,," Andre hanya bergerak sedikit, lalu merengkuh tubuh Ana lebih dalam hingga bibir nya menyentuh pundak Ana.
"Ugh!" Ana bergerak karena merasa tak nyaman saat terlalu dekat dengan suaminya. Bukan tak nyaman lebih tepatnya dia takut semakin terbiasa dengan semua ilusi itu hingga dia akan sakit saat dia tersadar nanti.
"Ooommm,,, lepasiiiiinnn!" Ana terus bergerak mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Bangun ih! Udah subuh tau!" Lanjutnya lagi.
"Ehm! Jam berapa sekarang?" Andre mengangkat kepalanya saat dia mulai tersadar dan mendengar suara adzan dari ponsel Ana yang belum sempat dia matikan karena sulit bergerak.
__ADS_1
"Lepasin iiiihh,,,"
Andre melepaskan pelukannya yang membuat Ana menjauh. "Subuh ih, tidur jam berapa sih? meni susah dibangunin" Andre mengusap mukanya lalu terduduk. Ana yang sudah bangun lalu meraih ponselnya untuk mematikan suara adzan, dia berjalan ke kamar mandi. Begitupun dengan Andre dia berjalan keluar kamar Ana menuju tangga untuk kembali ke kamarnya, dia sadar kalau sejadah dan alat salatnya ada di kamarnya sendiri jadi jika dia mau salat maka dia harus kembali ke kamarnya.
Flashback on
Sampai di rumah jam sudah menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh menit malam. Andre menghela nafas panjang, hari yang panjang dan melelahkan untuknya. Beberapa pertemuan yang sempat tertunda dijadwalkan kembali di hari ini. Awalnya dia kira tidak akan terlalu banyak memakan waktu tapi ternyata banyak yang tidak sesuai dengan harapannya hingga membuat pertemuan itu terasa alot. Sementara dia sudah menjadwalkan untuk pergi ke Singapura di pekan depan. Rencananya dia ingin menyelesaikan yang sempat tertunda di pekan ini agar dia merasa leluasa saat harus melakukan proses akuisisi di Singapura.
Proses yang dikira bisa dilakukan secepatnya sepertinya tak bisa berjalan sesuai rencananya, lagi-lagi dia menghela nafas berat. Andre berjalan menuju kamarnya diikuti Weni yang dengan setia mendampingi Andre hingga ke kamarnya, Andre yang tak memperhatikan terkejut saat melihat Weni masuk ke dalam kamarnya dengan santei.
"Gak apa-apa, mas. Lagi pula bukan baru kali ini kan?!"
Weni bahkan dia tak membiarkan art melakukannya dia menggantung jas dan tas kerja Andre. Andre hanya mematung melihat aktifitas Weni yang seperti sudah terbiasa melayaninya.
"Mas kalo kamu butuh bantuan, kamu bilang aja. Aku bahkan dengan sengaja mengambil jurusan bisnis hanya untuk membantumu mengembangkan perusahan."
"Terimakasih Wen, lain kali kamu tak perlu melakukan ini," Andre merasa akhir-akhir ini Weni bersikap terlalu berani. Dia sebenarnya merasa risih dan juga sudah sempat beberapa kali menegurnya, tapi dia bilang itu adalah kewajiban seorang adik untuk membantu kakaknya menyiapkan keperluannya. "Maaaaassss, aku ini adikmu, sudah,,, "
__ADS_1
"Wen, kamu bikinkan aku kopi, bawakan ke ruang kerja." Andre sengaja memotong kata-kata Weni, dia sudah malas mendengar alasan itu. Weni keluar dari kamar Andre dengan muka cemberut, dia tahu kalo Andre memintanya membuatkan kopi itu hanya alasan untuk mengusirnya. 'tidak apa-apa, tapi paling tidak aku tahu kalo antara mas Andre dan Ana tak pernah terjadi apa-apa, mereka bahkan pisah kamar, aku akan membuat mas Andre lebih terbiasa dilayani olehku dari pada sama istrinya sendiri, jika seperti itu! Akan mudah bagiku mengusir Ana,' batin Weni sambil berjalan menuruni anak tangga hendak menuju dapur untuk membuat kopi.
Selepas Weni pergi Andre langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia membiarkan air dingin membasuh seluruh tubuhnya berharap menghilangkan rasa lelahnya. Malam ini dia masih harus memeriksa beberapa berkas yang akan di meeting kan besok pagi. Selesai ritual mandinya Andre kaos oblong dan celana pendek, lalu berjalan memasuki ruang kerjanya yang terletak disamping kamarnya.
"Mas, kopinya aku simpan di sini ya," Weni tersenyum ketika melihat Andre memasuki ruang kerjanya.
"Terimakasih Wen, kau boleh kembali ke kamarmu,"
"Mas aku bisa bantu kamu, aku juga,,,"
"Wen,,," Andre menajamkan pandangannya pada Weni. Weni menundukan pandangannya lalu berbalik berjalan keluar ruang kerja Andre. Andre memijit keningnya yang terasa berat.
Tak lama Andre kembali larut diantara berkas-berkas perkerjaannya. Sebenarnya sejak dia melangkah masuk rumah dia merasa ada sesuatu yang dia lupakan, hanya saja dia tak ingat apa itu, hingga saat setelah dia kembali ke kamar tidurnya merebahkan tubuhnya dia mencoba memejamkan matanya tapi tetap tak bisa membuatnya tidur. Seberapa lelah dan ngantuknyapun dia masih tidak bisa membuat dia tertidur.
Saat dia tak sengaja meraba bantal di sampingnya barulah dia mengingatkan tak ada istrinya disana. "ah ya, aku sudah punya istri tapi dia tidur di kamarnya sendiri" gumam Andre. Beberapa saat kemudian dia duduk lalu turun dari tempat tidurnya setelah mengambil ponselnya, dia berjalan menuruni tangga hingga sampailah dia di kamar tamu, kamar tidur Ana sekarang. Perlahan dia mendekatkan telinganya, tas aja suara apapun, pikirnya. lalu dia melihat jam di ponselnya, 'setengah satu, dia pasti sudah tidur,' Andre membuka pintu kamar Ana dengan perlahan. Lampu sudah mati menandakan Ana sudah tidur. Dia berjalan mengendap-endap, mengangkat selimut yang dipakai Ana lalu berbaring di sampingnya. 'ah! Aku seperti pencuri di rumahku sendiri. jangan salahkan aku?! Bukankah memang sewajarnya jika suami istri tidur di kamar yang sama.' tak butuh waktu lama, Andre mulai terlelap dalam tidurnya.
Flashback off
__ADS_1