
matahari pagi mulai merayap, semburan jingga merebak membelah langit,,, masih terasa dingin, Ana menggeliatkan tubuhnya di rasa tempat tidur, selepas subuh dia baringkan kembali tubuhnya.
'kenapa belum ada chat lagi ya?!' Ana beberapa kali membuka aplikasi chat yang sedang booming itu, beberapa kali menghela nafasnya.
ceklek,,, suara pintu dibuka, Ana mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu.
"astaghfirullah,,, ini anak perawan jam segini ngagoler kneh wae, gugah atuh neng." ( astaghfirullah,,, ini anak perawan jam segini masih tiduran, bangun atuh neng) mama Meti menerobos masuk ke kamar Ana, membuka jendela kamar yang gordennya sudah terbuka.
"masih pagi mah, tiris!" (tiris\= dingin) "mah Ana kasih apa ya buat anaknya A Hasan,"
"kemaren mama mah nyecep we, da pas nyampe sana udah Sagala Aya, mama juga bingung." mama Meti menghampiri Ana yang sudah bersandar di kepala ranjang.
"apa Ana juga nyecep aja gitu, asa ribet kalo harus ngirim barang ke Jogja, pengen Ana sih Dateng kesana."
"ya kalo mau Dateng mah Dateng we atuh, abis Dini ujian ajakin dia, karunya udah lama pengen ke Jogja." (karunya\=kasian)
" iya juga ya, ntar deh Ana ngobrol sama Dini"
Hening sejenak...
"neng, kumaha A Andre teh,,," mama Meti sebenarnya dari awal Ana datang ke Bandung sudah ingin membicarakan tentang ini, tapi karena Ana terlihat cuek aja jadi mama Meti sama ayah Agus bingung mau mulai dari mana.
"eeemmmm,, menurut mama gimana?"
"ya mama mah terserah neng aja, tapi kalo sampe neng jadi nikah sama A Andre mama sama ayah pasti senang."
__ADS_1
'keliatannya mama sama ayah emang gak tau masalah kepribadian om andre.' huuuuuuuuhhhhhh Ana menghela nafas panjang.
"oh iya mah, dulu waktu itu mama pernah bilang katanya gak enak nolak permintaan Tante Ambar karena dulu kakek pernah ditolong sama keluarganya Tante Ambar. Ceritanya gimana sih mah?"
"oh itu,,, iya jadi dulu itu kakek kamukan tinggal di desa, kerjanya hanya bertani dan bercocok tanam, hasilnya dijual ke tengkulak untuk mereka jual ke kota, jadi pas musim wabah hampir seluruh para petani merugi, bukan cuma kakek kamu dari ayah, tapi seluruh keluarga di desa, termasuk keluarga mama juga sama, dari kelurahan juga sudah berusaha meminta bantuan dari pemerintahan, tapi ternyata masih gak cukup, soalnya hampir satu kecamatan, jadi si wabahnya itu dari satu desa udah abis, pindah ke desa sebelah, gitu terus. kecamatan sebelah juga kena. karena stok hasil panen sudah hampir habis, akhirnya kakek memutuskan untuk membatalkan pergi haji, jadi dia bilang katanya mau diambil aja uangnya buat bekal keluarga sampai musim wabah bisa ditangani, itu termasuk wabah terbesar dan terpanjang selama 30 tahun terakhir"
Ana menyimak penjelasan mama Meti dengan seksama, karena itu akan menjadi pertimbangan selanjutnya untuk kelangsungan hubungan dirinya dan Andre.
"tapi kayanya bakalan rugi mah, kalo uangnya diambil."
"memang, sesuai ketentuan uang yang akan kembali hanya 75% aja itupun masih banyak syarat-syarat lainnya, tapi kakek kamu bersikeras untuk mengambilnya kembali, eh ternyata pas menghubungi orang bironya, malah gak bisa dihubungi, sampai akhirnya ada kabar bahwa ternyata itu biro abal-abal,"
"maksudnya?" perasaan Ana mulai tak enak mendengar cerita Mama Meti.
"kakek kamu ternyata ditipu, bukan cuma kakek kamu, 3 orang lainnya dari desa kami juga kena tipu sama, jadi hajinya memang jelas gak jadi, dan uangnya melayang."
"jadi keluarga Tante Ambar yang ngasih solusi memberikan pinjaman?" Ana mencoba menerka apa yang terjadi.
"tadinya seperti itu dengan cara menggadaikan sebagian lahan tani kakek, sampai akhirnya bapak sama ibunya Tante Ambar kembali ke kampung halamannya yang di Solo, mereka membebaskan kakek kamu dari pinjaman itu, mereka bilang kakek kamu tak perlu membayarnya, akhirnya mereka sepakat walaupun jauh mereka akan menganggap sebagai keluarga besar mereka. Ceritanya kurang lebih seperti itu, secara garis besarnya, kalo mau mendetil tanya sama Ayah kamu. intinya kita bisa kaya gini juga atas campur tangan keluarga Tante Ambar yang menjadi perantara dari Allah." Ana mengangguk-anggukan kepalanya serius, tak lama Dini masuk ke kamarnya, sambil menenteng piring berisi surabi dan bala-bala (bakwan).
"wiiihhhh tau aja kalo lagi laper," Ana langsung menyerobot piring yang dipegang Dini, "lagian orang pada sarapan ini malah mojok di kamar," jawab Dini yang sengaja masuk ke kamar dengan sogokan sepiring bala-bala dan surabi agar bisa mendengar gosip baru seputar daerah kekuasaannya, jika tidak maka dia akan di usir oleh mama Meti 'anak kecil gak usah pipilueun' (ikut-ikutan) pasti gitu ngomongnya.
"emang bisnis keluarga Tante Ambar itu apa mah?" Ana kembali membuka pembicaraan sambil menggigit surabi yang ditangkupkan ke bala-bala agar bisa dimakan bersamaan, diikuti mama Meti dan juga Dini.
"mereka berjualan makanan, memproduksi makanan ringan, dulu sih masih dirumah produksinya home industri gitu, kemasannya masih jauh dari yang sekarang, tapi penjualannya bagus, bukan hanya di desa kita aja tapi udah hampir di semua kota besar produk mereka sudah ada, dan jadilah seperti sekarang, mereka mempunyai pabrik makanan sendiri bukan cuma satu, tapi pabriknya udah tersebar di beberapa kota, walaupun Tante Ambar gak nikah sama bule kaya raya, dia udah kaya dari dulu."
__ADS_1
Ana mengangguk-anggukan kepalanya. Dini mendengarkan dengan seksama,
"wah kalo teteh jadi nikah sama A Andre, berarti teteh bakalan jadi orang kaya donk," Dini berucap dengan mata berbinar.
"eeeuuuuhhhh hejo Kana duit mah!" (eeeuuuuhhhh inget duit langsung matanya ijo!) mama Meti menoyor kepala anak bungsunya yang sudah matre sejak kecil, entah siapa yang mengajarkannya, mungkin karena dulu waktu kecil sering diiming-imingi uang jajan setiap disuruh beli sesuatu atau mengerjakan sesuatu. Mereka melanjutkan acara mengobrol sambil sarapan.
"eh Ari ayah udah sarapan, mah?"
"udah atuh, ayah kalian mah tanginas (rajin) gak kaya kamu, pulang dari mesjid langsung minum kopi sambil sarapan."
"cieeeee,,, pak Agus lover,,," timpal Ana dan Dini barengan. Senyum malu-malu mama Meti disambut dengan teriakan suaminya.
"maaaaaahhhhhh,,,, ooyyyy,,, ada tamu kehormatan Dateng malah pada ngumpet" membuat mama Meti, diikuti Ana dan Dini menoleh ke arah suara, padahal orangnya gak tau dimana.
"tamu kehormatan???" ketiganya berbarengan, kemudian berjalan menuju ruang tamu. Ana mengikuti dari belakang dengan membawa piring yang hampir kosong.
Deg,,,
Jantung Ana tiba-tiba berdetak cepat saat matanya tertuju pada sosok laki-laki tampan yang sedang mengobrol santai dengan ayahnya.
"eeehhhh A Andre, kok gak bilang mau dateng?" mama Meti langsung menyambut kedatangan Andre yang mungkin akan jadi calon menantunya. Andre mencium tangan mama Meti kemudian disambut dengan Dini yang mencium Andre. Ana terdiam menatap Andre tak bergeming,
" eh, Ari kamu malah melamun, Salim atuh!" mama Meti mencolek tangan Ana yang kemudian mengambil tangan Andre dan menciumnya disambut dengan senyuman manis Andre.
"cieeeee,,, pangerannya Dateng,,," bisik Dini disambut dengan mata Ana yang melotot. Andre hanya tersenyum karena sedikitnya dia bisa mendengarkan apa yang dikatakan adik iparnya itu.
__ADS_1
'pantas dia gak chat pagi ini, ternyata dia datang,,,'