
Acara seluruhnya telah rampung diselesaikan, pihak hotel sangat berterimakasih dan meminta ijin untuk publikasi foto pernikahan mereka sebagai sarana untuk promosinya.
Mami Ambar, langsung terbang ke Solo bersama saudaranya yang lain sesuai rencana awal, sementara papi Steve memilih kembali ke Jakarta dengan menggunakan penerbangan, setelah sampai Jakarta tanpa singgah di kediamannya di Jakarta, ia langsung melakukan penerbangan kembali ke Australia. Karena dia harus segera menyelesaikan pekerjaan yang sempet tertunda selama sepuluh hari ke belakang.
Sedangkan Ana yang seharusnya pergi bersama Sakti dan diantar oleh mang Imam kembali ke rumah barunya bersama sang suami di Jakarta, malah tak mengikuti instruksi yang diberikan suaminya. Dia memilih untuk kembali ke rumahnya bersama keluarganya.
"Neng, kamu teh gimana? masa kamu di sini, suami kamu disana!"
"mama ini kenapa sih, bukannya seneng anaknya pulang ke rumah, ini malah sewot"
"bukan gitu atuh neng, mama mah asa aneh ini teh, kamu teh ada masalah sama a Andre yah?!" mama Meti sewotnya sudah mulai naik level.
"gak ada mah, astagfirullah,,, a Andre nanti jemput Ana juga kok, dia ada masalah urgent yang harus diberesin secepatnya."
"udah atuh mah, kasian Ana, udah malem lagian, suruh istirahat dulu aja, ya?!" ayah Agus mencoba menenangkan mama Meti. Selama ayah Agus menenangkan mama Meti dia terus mengibas-ngibaskan sebelah tangan di punggungnya sebagai isyarat pada Ana agar cepat pergi.
Ana yang cepat tanggap dengan isyarat ayahnya langsung saja kabur menuju kamarnya.
Setelah badai di rumah Ana berlalu.
"lagian Mah, bener kata Ambar, mereka itu gak saling kenal, buat mereka pernikahan ini baru masuk ke fase saling mengenal, saling memahami diri masing-masing, sebelum ini mereka bahkan sempet tak saling sapakan?! justru bakal aneh kalo mereka ujug-ujug langsung akur gitu aja, dengan sifat Ana yang suka berontak gitu, atuh aneh pan?!"
"iya sih Yah, tapi ini teh pernikahan lain main-main, mama mah asa teu enak hate ie teh,"
"geslah tong loba teuing mikir anu aneh-aneh, doakeun we insya Alloh mereka akan cepet saling menerima."
Akhirnya dengan rasa gelisah masih sedikit mengganjal di hatinya, mama Meti mencoba menerima teori yang diiyakan oleh suaminya saat mami Ambar memberi argumen tentang hubungan anak mereka.
Malam hari di Jakarta, kediaman Andre
Mang Imam memarkirkan mobilnya.
'akhirnya sampai juga,' pikir Andre. Dia yang sebenarnya menunggu kedatangan Ana sejak tadi mencoba untuk acuh, dia masih berada di ruang kerjanya dengan laptop yang menyala di depannya tetapi dia bahkan tak tau apa yang ada di hadapannya, pikirannya masih pada Ana. Egonya membuat dia tak mau keluar menemui istrinya.
'mari kita lihat apa yang akan dia lakukan?' batin Andre sambil memainkan mouse.
Waktu berjalan lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Andre yang mulai tak sabar mengerutkan keningnya, 'kenapa sepi sekali?' batinnya yang akhirnya membuat dia bergeming. Andre turun menuju ruang tengah tempat pintu utama berada.
"kenapa sepi?" kerutan kening Andre semakin dalam. Dia lalu berjalan menuju dapur.
"Bi, dimana mang Imam?"
Andre bertanya pada salah satu art yang sedang mencuci piring bekas mang Imam makan malam.
"tadi habis makan langsung ke kamar, mau istirahat katanya tuan." Art yang ditanya oleh Andre berbalik menghadap majikannya sebelum menjawab.
__ADS_1
Andre mengerutkan keningnya 'mang Imam jelas sudah ada,'
"suruh dia menemuiku, Bi," Andre berjalan menuju ruang keluarga, menyalakan tv menunggu mang Imam datang.
"ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"dimana nyonya?"
meng Imam mengerutkan keningnya.
"nyonya muda, tuan?"
"iya, istriku!" jawab Andre tak sabar.
"maaf tuan, nyonya muda sudah saya antar kembali ke rumahnya di Bandung."
Jedeeerrrr
"apaaaaaaaaaa????" suara Andre meninggi setelah mendengar laporan dari supir pribadinya.
"siapa yang menyuruhmu mengantarkan istriku kembali ke rumahnya?"
"ma-maaf tuan, nyonya muda bilang, tuan yang menyuruh saya untuk mengantarkan nyonya muda kembali ke rumahnya."
"astaga!" Andre berdiri kedua tangannya mengusap rambutnya ke belakang.
"lalu apa ayah dan mama mertuaku ada mengatakan sesuatu?"
"ti-tidak tuan, mereka sepertinya mengerti." Mang Imam yang tak pernah melihat tuannya marah merundukkan tubuhnya, tangannya saling meremas menahan gemetar.
Andre mengerutkan keningnya 'kenapa mama tidak menyuruh Ana untuk kembali ke Jakarta bersama Imam? bukannya tadi siang udah aku jelaskan Ana akan kembali dengan mang Imam'
"sial! apa yang dia katakan pada mama sama ayah sampe mereka diam saja?!"
"mami? tidak! tidak mungkin mami tahu, jika dia tahu, aku yakin dia akan marah besar!" Andre bergumam sambil terus berjalan mondar-mandir.
Gelisnya semakin jadi, dia takut ayah dan mama mertuanya akan salah paham padanya, karena meninggalkan Ana demi pekerjaan yang sebenarnya hanya palsu belaka. Dia merasa marah atas apa yang dia dengar dibalik pintu ruang istirahat itu, membuat dia tak sadar sudah mengambil keputusan yang salah.
"sial! bahkan si Sakti pun tau kapan dia harus menghilang,"
Andre terus menghubungi ponsel Ana yang tak kunjung diangkat oleh yang punyanya.
"setan kecil itu sudah berani membalasku?!"
'apa yang harus aku lakukan? jika menelepon rumah Bandung, ini sudah terlalu malam, mereka pasti sudah istirahat. tenang Andre, tenang...' Andre mengambil nafas lalu membuangnya perlahan.
__ADS_1
"maaf tuan, apa masih ada yang bisa saya bantu?" Andre terkejut saat tahu mang Imam ternyata masih di situ.
"makasih mang Imam," Andre melambaikan tangannya menyuruh mang Imam pergi. Mang Imam mengelus dadanya merasa lega setelah terintimidasi oleh tuannya selama hampir satu jam.
"mas, kamu belum tidur?" Andre yang sedang menenangkan diri, terlonjak kaget saat Weni menyapa.
"eh, maaf mas, aku gak maksud ngagetin kamu," Weni tersenyum canggung.
"gak apa-apa Weni, aku yang sedang melamun,"
"kenapa belum tidur mas, ada masalah?"
"bukan masalah, oh, kenapa kamu belum tidur?"
"aku haus, mau ngambil minum, oh ya, apa Ana sudah sampai?"
Andre menghela nafasnya
"Ana di Bandung,"
"loh? Ana gak ikut mang Imam pulang?'
"gak" jawab Andre tak bertenaga.
"kenapa?"
"mungkin dia marah karena aku meninggalkannya,"
"astaga, manja banget sih!"
"memang aku yang salah, sudahlah kamu tidur aja Wen, sudah malam"
"biarin ajalah mas gak usah dipikirin, lagian dia di rumahnya inikan, gak mungkin kenapa-kenapa," Weni berbicara sambil melengos ke dapur mengambil minum lalu kembali dan mengapit tangan Andre memaksanya kembali ke kamar untuk tidur dan tak lagi memikirkan istrinya.
"yah kamu benar, sebaiknya aku tidur," Andre mengikuti Weni dengan pasrah menuju kamar tidur, Weni menyelimuti Andre.
"selamat malam, mas"
"iya selamat malam"
Tek!
ceklek!
Suara saklar lampu juga suara pintu ditutup saling beriringan.
__ADS_1
Tapi matanya masih tak juga mau terpejam.
'seharusnya memang kamu gak perlu datang kemari Ana, tapi jangan khawatir, walaupun kamu datang, aku akan membuat kamu tak betah tinggal lama di rumah ini.' Weni tersenyum licik.