
"Na, kamu yakin mau nungguin mereka disini..."
"yakin lah, Mas, emangnya kenapa?"
"kalo suamimu berhasil dirayu lagi sama c Weni gimana?"
"walaupun tak bisa dipungkiri aku sedikit khawatir, tapi justru ini waktu yang tepat untuk menguji kesetiannya, iyakan?!"
"iya juga sih, kalo sampe si Andre termakan hasutan si Weni, biar aku habisi dia,"
"kikikik..." Ana terkekeh mendengar Sakti bicara dengan sedikit kesal lebih banyak kesalnya.
"kenapa? ada yang salah?"
"gak, aku cuma seneng aja, masih ada yang mau ngebelain aku," Ana tersenyum, sementara Sakti hanya terdiam dengan rasa bersalahnya karena dia sempat meragukan Ana, dia benar-benar tak menyangka orang yang selama ini sangat dekat dengan mereka dan sangat mereka percayai berani melakukan sesuatu yang diluar batas, Sakti menghela nafasnya.
"ehem... Na, em, sebenarnya aku juga sempet salah paham sama kamu, itu karena aku beberapa kali melihat kamu berduaan sama si Dimas itu, apalagi setau aku, kalian pernah pacaran,"
"hah, siapa yang bilang aku pernah pacaran sama Dimas?"
"siapa lagi kalo bukan suamimu," Ana menghela nafasnya, sudah berkali-kali Ana mengatakan bahwa dia tak pernah berpacaran dengan Dimas tapi suaminya itu masih saja tak percaya.
"aku gak pernah pacaran sama Dimas, kalo saling suka mungkin iya, tapi kalo pacaran gak pernah,"
"kalian pernah saling suka, apa bedanya dengan pacaran," Sepertinya pemikiran Sakti dan Andre memang tak jauh berbeda, itulah mengapa mereka bisa sangat mengerti satu sama lain dan bisa kompak sebagai atasan dan bawahan.
"hehehe... ya udahlah gak apa-apa, dulu juga aku pernah salah paham sama Mas Sakti,"
"hah? salah paham apa?"
"aku pernah berpikir kalau Mas Sakti sama a Andre itu pasangan..." Ana berhenti sesaat dengan wajah yang melihat ke kiri dan ke kanan, lalu mendekatkan wajahnya pada Sakti untuk berbisik "gay" sambungnya.
__ADS_1
Sekarang Sakti yang menghela nafas, bukannya dia tak tahu, Andre pernah menceritakan padanya tentang itu, pertama dia sangat syok saat mendengar itu.
"ya, Andre pernah menceritakan itu, aku cuma gak habis pikir, bisa-bisanya kamu berpikir kayak gitu?" Sakti menggelengkan kepalanya.
"hehe... namanya juga salah paham, maaf," Ana nyengir kuda sambil mengangkat kedua bahunya, disambut dengan gelengan kepala Sakti tanda tak mengerti dengan jalan pikiran istri sahabatnya itu.
"sayang..." Ana dan Sakti seketika langsung menoleh ke asal suara. Andre yang sudah keluar dari ruangannya menatap ke arah mereka yang sedang bercanda dengan dingin.
"eh, udah selesai A?" Ana tersenyum melihat suaminya berjalan ke arahnya.
"kapan kamu datang? kenapa gak masuk?" Andre menarik tangan Sakti untuk menjauh dari istrinya.
Sakti terkejut tapi setelah Andre tiba-tiba masuk di antaranya sambil merangkul lengan Ana, barulah sakti mengerti dan membuatnya menghela nafasnya.
"ck! gitu aja sewot, sana ambil bini lu, gue gak gak minat berebut sama lu, gue udah punya Maria," sungut Sakti melihat Andre yang sangat over protektif pada istrinya, Ana merangkul tangan suaminya manja. Andre melihat ke arah istrinya mengabaikan ucapan Sakti.
"ada apa? kenapa gak nelepon dulu?" hanya itu yang dikatakan Andre membuat Ana sedikit kecewa, sejujurnya saat inj Ana lebih ingin suaminya mengatakan tentang Weni yang tiba-tiba datang dan berada di ruangannya.
"ck! istri complek dasar!" sungut Sakti lagi yang kembali tak dihiraukan Andre dan Ana.
"Belum, ayo makan," Andre membawa istrinya menjauh dari Sakti menuju kantin, dia tak membawa istrinya masuk karena di sana masih ada Weni, Andre gak mau terjadi sesuatu pada Ana saat bertemu dengan Weni, terlebih karena dia tahu istrinya masih belum mau bertemu dangan Weni.
Ini kali kedua Ana berada di kantin, pertama kali saat Andre sempat salah paham pada hubungannya denagn Dimas dan statusnya masih sebagai istri kontrak, sedangkan sekarang statusnya sudah jelas yaitu sebagai istri sebenarnya dan sudah mengandung benihnya. Kantin tak sepi seperti waktu pertama dia datang, itu karena jam ini masih jam makan siang hanya saja suasananya berubah sedikit tegang saat mereka masuk, semua orang seperti mencuri-curi pandang ke arah mereka. Karena melihat suaminya yang begitu santai Ana pun berusaha mengabaikannya.
"bisa minta ngangetin ini gak sih," Ana bicara dengan sedikit berbisik.
"bisalah, sini" Andre mengambil makanan dan meminta ibu kantin menghangatkan makanannya, hal yang belum pernah terjadi itu membuat ibu kantin terlihat sedikit gugup membuatnya terdiam terpaku sambil menatap pimpinannya saking gugupnya. Andre melambaikan tangannya beberapa kali untuk menyadarkan ibu kantinnya yang akhirnya setelah sadar ibu kantinnya meminta maaf beberapa kali dengan tubuh merengkuh tanda hormat. Andre kembali ke meja setelah yakin ibu kantinnya mendengar apa yang dia katanya. Sepertinya bukan hanya ibu kantin yang merasakan ketegangan disana, semua karyawan tak ada yang berani bicara, membuat Ana menghela nafasnya. Ana merasa seharusnya mereka tak ke sana, mengingat ini waktu istirahat yang seharusnya semua orang bisa bicara dengan santai sekarang berubah menjadi tegang karena tiba-tiba pimpinan mereka ikut makan di kantin.
Ana mempercepat kegiatan makannya membuat Andre mengerutkan keningnya,
"hei, tenanglah, makan perlahan,"
__ADS_1
"ih, Aa gak ngerasa gitu, mereka tiba-tiba jadi kaku setelah kita datang, kayanya sampe nahan nafas juga karena tegang,"
"uhuk!" Andre terbatuk saat mendengar ucapan Ana, dia kemudian tersenyum, dia tak menyangkal apa yang istrinya katakan mungkin karena dia sangat jarang sekali mampir dan makan siang di kantin membuat karyawannya sedikit kurang nyaman saat dia tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka.
"baiklah tapi tak perlu terburu-buru seperti itu,"
"kenapa kita gak makan di ruangan kerja aja," Andre menghentikan aktivitas sejenak.
"ada Weni disana, aku tahu kamu tak ingin bertemu dengannya," Ana menghela nafasnya, akhirnya suaminya mengatakannya, Ana cenderung santai dan tak menghiraukan ucapan suaminya, dia masih terus menyuapkan makannya. Dia tak ingin peduli lagi, dokter bilang berpikir terlalu berat akan berpengaruh pada janin dalam kandungannya. Andre melihat reaksi istrinya yang masih terlihat santai.
"kamu gak marah?" akhirnya Andre angkat bicara.
"untuk apa? aku tak ingin mengambil resiko janinku akan terganggu dengan sesuatu yang tak penting," Ana menyendok makanan lalu menyuapkan ke dalam mulutnya, sekarang makanan itu terasa gambar dalam mulutnya.
"Ana, apa kamu akan marah jika aku memaafkannya?"
""""""""******"""""""
Taqabbalallahu minna waminkum
Mohon maaf lahir dan batin...
Selamat lebaran untuk yang menjalankan...
🙏🙏🙏
Makasih semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,