
Sebulan kemudian
Andre baru saja kembali ke Jakarta, dalam satu bulan ini dia sudah terbang bulak balik Jakarta Singapura sebanyak empat kali. Setelah berhasil mengakuisisi perusahaan di Singapura Andre jadi semakin sibuk, karena management nya ternyata sangat berantakan membuat Andre bekerja keras untuk membenahinya. Ana pernah ikut sekali dengannya, hasilnya dia malah ditinggal sendirian di apartemen, bahkan di hari Minggu pun suaminya masih bekerja. Karena itulah Ana jadi selalu menolak saat diajak ke Singapura oleh suaminya, lebih baik dia di Jakarta banyak yang bisa dia kerjakan pikir Ana. Walaupun begitu Andre tak pernah absen menghubungi istrinya meskipun kadang dia menghubungi istrinya itu di tengah malam setelah selesai dengan pekerjaannya. Ana kadang kasihan pada suaminya, dia terlihat sangat lelah setiap kali melakukan video call dengannya.
Selesai mandi Andre memakai baju tidur yang disiapkan istrinya.
"A, tidur, istirahatin dulu ya,,," Ana memaksa menyuruh suaminya istirahat, karena suaminya sudah benar-benar terlihat lelah.
"sayang masih ada yang harus aku kerjakan,"
"A,,," Ana menyipitkan mata menatap suaminya tajam, Andre tersenyum lalu menghampiri istrinya dan memeluknya. Andre tahu istrinya sedang menghawatirkannya.
"baiklah aku akan tidur, puas?!" Ana tersenyum dalam pelukan suaminya.
Seminggu kemudian Andre kembali terbang ke Singapura, kali ini Andre sedikit memaksa istrinya untuk ikut, tapi Ana kekeh tak ingin ikut.
"ayolah sayang, paling tidak aku ada teman untuk tidur,"
__ADS_1
"A, kan cuma sebentar, tiga hari dua malam doang, abis itu A Andre pulang kita ketemu lagi," Setelah beberapa argumen yang Ana keluarkan akhirnya Andre menyerah. Akhir-akhir ini karena dia fokus dengan perusahaan barunya di Singapura jadi dia meminta Sakti untuk menghandle urusan di Jakarta, jadi Weni lah yang membantunya di Singapura.
Malam minggu ini Ana kembali sendirian, dia sudah beberapa kali mengirim pesan pada suaminya tapi belum ada balasan, dia sudah menduganya suaminya pasti sibuk. Ana tak menghiraukannya, dia berpikir apa yang akan dia lakukan di hari Minggu besok. Selama sebulan kebelakang setiap dia tak ada kelas atau di hari Minggu bebas biasanya dia akan mampir ke rumah teh Lia atau jalan-jalan dengan Mia dan kawan-kawan atau ikut membantu Dinar yang masih berjualan di pameran-pameran yang di adakan di mall-mall besar. Ana juga tak pernah lupa menelepon mama Meti, lebih sering bertukar pesan dengan Dini, kadang dengan Stela dan teh Tia.
Sudah hampir tengah malam suaminya masih tak menghubunginya, Ana sempat meneleponnya tapi tetap tak ada jawaban. Dia sedikit gelisah karena akhir-akhir ini suaminya itu terlihat sangat kelelahan, Ana mulai tak tenang. Akhirnya dia mencoba menghubungi Weni, ternyata sama, Weni pun tak bisa dihubungi. Ana semakin gelisah tapi bagaimanapun dia menghubungi suaminya masih tak juga diangkat. Ana hanya yakin kalau suaminya pasti akan menghubunginya, setiap Andre pergi dia tak pernah absen menelepon Ana saat sebelum tidur.
Ana mencoba membunuh rasa gelisahnya dengan membuka beberapa sosial media, saat membuka notif di Instagram nya dia melihat ada nama tak asing yang meng-add nya, 'Weni?' Ana tersenyum, dia langsung menerima permintaan pertemanannya. Ana mulai menstalking Instagram adik iparnya itu. Foto pertama yang dia lihat adalah foto selfi Weni di sebuah kamar dia sedang duduk di pinggiran kasur di belakangnya nampak seorang pria terbaring, sayangnya wajahnya diblur.
"wah gak nyangka, Weni berani juga berada berdua di kamar sama cowoknya." Ana membaca beberapa komen teratas.
'wah, tinggal nunggu undangan, nih" salah satu komentar.
"ini pacarnya Weni ternyata, ckckck, udah berani tidur sekamar, A Andre tau gak ya," Ana mencebikan bibirnya tanda tak peduli, dia kembali men-scroll karena penasaran ingin tahu mungkin saja ada foto pacarnya disana. Hingga dia men-scroll ke bawah banyak sekali foto Weni bersama Andre. Ana teringat saat dulu dia makan bersama berempat, dia, Stela, Andre dan Weni. Weni sempat berbicara panjang lebar bahwa Andre sering sekali mengajaknya jalan terutama di saat weekend. Ana sedikit panas saat melihatnya, Andre lebih terlihat seperti pacarnya dari pada kakaknya. Terlebih caption nya, seperti menegaskan bahwa yang sedang bersamanya adalah orang spesial untuknya.
"apa-apaan ini, emang pacarnya gak akan marah apa?" Ana men-scroll bulak balik kadang memperbesar beberapa foto untuk melihat lebih detil. "benar-benar, hampir semua foto A Andre," Ana menghembuskan nafasnya kasar, "dia benar-benar penggemar berat A Andre," Ana semakin panas saat di setiap komen yang mengatakan bahwa Andre adalah pacarnya Weni, dan Weni tak pernah menampik, dia juga tak mengatakan bahwa Andre adalah kakaknya.
Hingga sampailah Ana disebuah foto, di dalamnya ada dua tangan yang saling bertumpang, bisa dilihat dari perbedaan ukurannya itu pasti tangan laki-laki dan perempuan. Tangan si perempuan berada di atas dan menautkan jarinya ke tangan laki-laki, saat Ana memperbesar fotonya, matanya membelalakkan seketika.
__ADS_1
Deg,,,
Jantung Ana berdenyut keras, lalu dia kembali men-scroll foto pertama yang dia lihat, dia terus memperhatikan laki-laki di balik foto itu walaupun wajahnya diblur dia akan mengenali bentuk tubuhnya terlebih jika itu bentuk tubuh suaminya sendiri. Ana terkejut saat sadar ternyata foto itu diambil di dalam kamarnya dan Andre di apartemen yang berada di Singapura. Dia sangat mengenal kamar itu, karena dia yang merubah tata letak barang-barangnya juga foto dengan frame berukuran kecil yang dia sengaja taruh di atas nakas. Foto itu adalah foto dia dan Andre, dan saat Ana memperbesarnya dia melihat frame foto itu tak lagi berdiri seperti biasanya melainkan ditangkupkan di atas nakas. Dan foto itu diambil seminggu yang lalu, saat Ana mengingat saat itu benar suaminya dan Weni sedang berada di Singapura.
Jantung Ana berdenyut kencang, Ana masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia kembali memperbesar foto kedua tangan yang bertaut, seharusnya dia tak salah lihat di jari tangan laki-laki itu ada cincin nikah milik suaminya. Ana memiliknya dengan cermat lalu membandingkan dengan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak, tangannya bergetar tak terkendali.
"gak mungkin, astagfirullah,,, gak mungkin!" gumam Ana, tangannya meremas baju yang menempel di dadanya, terasa sakit dan sesak, air matanya mulai menetes tak tertahan. Dia kembali menghubungi suaminya, namun masih tak ada jawaban.
*******
Makasih reader semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,