
"Ana, kamu dimana?"
"Aku masih di kampus, kenapa?"
"Emmm,,, aku mau minta tolong, ini masalah Andre,"
"Gak bisa, bentar lagi aku ada kelas,"
"Aku cuma mau minta kamu telepon Andre, sebentar aja, pliiiiiisss,,,"
"Hah? Ngapain? kalo dia mau ngomong kenapa gak suruh dia telepon langsung kesini aja, kenapa aku yang harus nelepon?!"
Sakti menghela nafasnya, ternyata tak semudah yang dia pikirkan. Dia juga tak mungkin mengatakan apa yang dilakukan Andre di kantornya.
"Ana, plisss,,,"
"Kenapa emangnya? Aku harus tahu dulu kenapa aku harus menelepon dia? Karena aku juga gak tau kalo nelepon harus ngomong apa?!"
"Gini aja, anggap aja sekarang ini kamu adalah wonder woman yang harus menyelamatkan dunia, dan hanya kamu yang bisa melakukannya, jadi pliisssss untuk sekarang jangan banyak tanya, kamu telepon aja suamimu sekarang, bicara apapun dan tolong bicaralah yang baik, pliisssss,,,"
"Hah?"
Hahaaaaaa,,,
Terdengar suara tawa lepas dari balik telepon Sakti.
'apaan sih nih orang, bawa-bawa wonder woman segala lagi,' batin Ana.
"Ana pliisssss, tak ada waktu lagi,,,"
"Sebenarnya ada apa sih?"
"Nanti aku jelaskan okeh, aku mohon pliisssss,,, ini bener-bener antar hidup dan mati,"
"Hah? Tunggu si om gak kenapa-kenapa kan?!"
"Tentu saja dia baik-baik saja hanya hatinya yang tak beres!" Gumam Sakti.
__ADS_1
"Apa?"
"Ana aku janji aku akan lakukan apapun yang kamu minta tapi untuk saat ini, pliisssss,,, telepon Andre ya, sebentar aja!"
Ana menghela nafasnya.
'ah! Tunggu! Ana barusan mengkhawatirkan Andre!' setelah berpikir beberapa saat akhirnya Sakti menggunakan penyakit lama Andre untuk membuat Ana sedikit iba.
"Baiklah aku jelaskan, Ini gara-gara dia terlalu banyak kerjaan, dia tak mau istirahat sebelum kerjaannya selesai, tadi pagi gak sarapan dan sekarang dia melewatkan makan siang, kamu tahu sendiri kan Andre punya masalah dengan lambungnya, jika dia sampai sakit aku gak tau apa yang akan terjadi pada proyek penting kami yang sedang berjalan sekarang ini. Jadi biasakan kamu bujuk dia biar mau makan, pliisssss,,," Ana terdiam berpikir sejenak, memang suaminya itu punya penyakit magh kronis. 'lagi-lagi gara-gara kerjaan dia lupa makan, dasar gila kerja!' batin Ana.
"Ya udah aku telepon sekarang,,,"
Tut,tut,tut,,,
'memang suami istri, bahkan kebiasaan menutup telepon sebelum selesai bicara pun sama, sudahlah! Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, sisanya aku serahkan padamu Ana, kita lihat seberapa berartinya kamu dalam hati Andre?!'
Dalam ruangan meeting
Sudah setengah jam waktu berjalan sejak meeting dimulai, berarti sudah sekitar sejam berlalu sejak Sakti menelepon Ana, tapi tidak terlihat tanda-tanda Ana akan menelepon. Andre memperhatikan laporan yang sedang dijelaskan salah satu manager divisi. Semua mata tertuju pada Sakti, pandangan mereka mewakili isi hati mereka. "Heelllppp meeeee,,,?" Kira-kira seperti itulah isi hati mereka.
Sakti mengalihkan pandangan dari setiap orang yang hadir di ruang meeting itu.
Tiba-tiba ponsel Andre yang dia simpan di atas meja menyala. Andre mengalihkan pandangannya pada ponsel. 'Ana?'
Andre mengangkat tengannya untuk menghentikan penjelasan dari bawahannya. Dia lalu keluar ruangan untuk mengangkat teleponnya.
'akhirnya,,,' Sakti menghela nafasnya.
"Halo,"
"Sibuk?"
"Kenapa?"
"Aku di lobi"
"Hah?"
__ADS_1
Tuttuttut
"Ck! Sejak kapan dia punya kebiasaan memutuskan telepon seenaknya! Tunggu! Dia bilang di lobi, lobi mana?"
Tring
Andre membuka pesan yang dikirimkan istrinya. Mata Andre terbelalak saat dia melihat foto yang Ana kirim padanya. Hanya foto sebuah keresek yang diletakan di meja resepsionis dengan latar belakang sebuah tulisan "Mega Food" yang menandakan bahwa Ana sedang berada di lobi perusahaannya. Terlebih caption dan emojinya membuat Andre tersenyum.
"Makan, yuk! Laper🤤"
Ehem,,, Andre berdehem sendiri menenangkan hatinya yang meluap karena bahagia. Dia harus bersikap seperti biasa, pikirnya. Dia lalu kembali keruangan meeting.
Suasana meeting kembali tenang.
"Meeting ditunda, silahkan kalian perbaikan laporan yang perlu diperbaiki, kita akan melanjutkan meeting setelah laporan revisi selesai dibuat," setelah bicara Andre langsung keluar ruangan dia masih berusaha untuk bersikap tenang, hingga setelah benar-benar keluar dari ruangan, dia mempercepat jalannya. Andre sudah tak sabar untuk segera menemui Ana, ini yang pertama kali bagi istrinya datang ke perusahaannya. "Darimana dia tahu aku belum makan?" Gumam Andre disela senyumannya.
Senyumnya semakin melebar saat sampai dalam lift, karena kebetulan dalam lift hanya dia sendiri.
Saat lift terbuka menandakan dia sudah sampai di lantai yang dia tuju, yaitu lantai satu tempat lobi berada. Andre berjalan cepat, namun sesampainya di sana, dia tak menemukan istrinya. Hanya keresek yang dia bawa masih ada di meja resepsionis.
"Siang Pak," sapa seorang resepsionis setelah melihat big bosnya tiba-tiba berjalan menghampirinya.
"Dimana orang yang membawa keresek ini,"
"Oh, mereka tadi keluar, Pak," jawab salah satunya.
"Mereka? Apa lebih dari satu orang,"
"Ah tidak, awalnya hanya seorang wanita yang datang, lalu tiba-tiba Pak Dimas muncul dan mengajaknya keluar untuk berbicara,"
Andre membelalak matanya tak percaya.
"Dimas?!"gumam Andre.
"Ke arah mana mereka pergi?"
"Sepertinya belok ke arah kanan, Pak,"
__ADS_1
"ke arah kanan? ada kafe disamping gedung ini" gumam Andre, dia hanya berharap apa yang ada dipikirannya tak terjadi. Apa dia datang kemari sebenarnya bukan untuknya? Mengapa mereka tiba-tiba bertemu? Apa Ana berpikir untuk kembali bersamanya? Semakin Andre mempercepat langkahnya semakin banyak pertanyaan dalam benaknya. Akhirnya dia sampai di sebuah kafe yang dia perkirakan istrinya berada di sana bersama laki-laki lain. Andre masuk melewati Glassdoor yang seperti sengaja dibuka sebelahnya. Akhirnya dia mendapatkan apa yang dia cari lalu memperlambat jalannya, hatinya mencelos saat dia melihat istrinya sedang berbicara dengan laki-laki lain terlebih laki-laki itu adalah sosok yang pernah ada atau bahkan selalu ada di hati istrinya. Apa semuanya akan berakhir disini? tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dia bahkan melihat mereka berpegangan tangan, tubuhnya bergetar kedua tangannya mengepal erat.