
Malam hari di kamar hotel
Tak ada yang bicara, Ana yang sudah pasrah dengan nasibnya, tak berpikir untuk melakukan sesuatu yang teh Tia dan Stela sarankan lagi, terlebih dia sudah lelah dengan aktingnya yang harus menjadi orang lain untuk membuat Andre merasa nyaman dengannya. Ana bukan orang yang bisa berinisiatif dalam sebuah hubungan, dia cenderung pasif dan pemalu, tapi dengan adanya misi yang mengharuskan dia menguji kepribadian Andre mau tak mau dia harus jadi orang yang berinisiatif dan cenderung agresif.
Begitupun dengan Andre, saat dia menyadari perubahan sikap Ana padanya kembali cuek dan pasif membuat apa yang dipikirkan sebelumnya menjadi beku. Awalnya dia mengira Ana sudah menerima kehadirannya, dia hanya tinggal menaklukan hatinya untuk menjadikannya istri yang sesungguhnya.
Dengan sikap Ana hari ini membuat Andre berpikir bahwa sebenarnya Ana belum bisa menerima pernikahan mereka. Jika Andre memaksa bicara pada Ana dia takut kejadian yang lalu akan terulang dan itu cukup menyakiti hati dan menggangu pikirannya. Setiap berdebat dengannya, Ana pasti mengingatkan dia bahwa pernikahannya hanya sebatas perjanjian dan akan berakhir dengan perpisahan.
Malam ini, setelah makan malam Andre tak langsung kembali ke kamar, dia hanya bilang ada urusan dan akan kembali larut. Ana yang sudah tau Andre tak akan kembali ke kamarnya memutuskan tidur di awal, dia ingin merebahkan badannya yang terasa lelah dan juga hatinya yang masih tak bisa menerima kalo kini Andre sedang menghindarinya. Ana memejamkan matanya berharap esok lebih baik.
Sementara Andre kini masih berada di hotel tempat Sakti menginap.
"Ndre, lu gak balik ke hotel?"
"hm!" Andre yang masih fokus pada laptopnya tak terlalu menghiraukan Sakti.
'Akhirnya gue juga yang jadi korban! Meraka yang berantem gue yang babak belur! Tanda-tandanya gak akan bisa tidur lagi malam ini, ck! Nasib, nasib!' Batin Sakti, dia memutar otaknya mencoba menerka apa yang terjadi diantara mereka, dia ingin mencoba mencari solusinya, jika tidak maka hari tenangnya sudah berakhir. 'gue harus cari tahu apa yang terjadi dengan mereka, gue harus bikin nih pohon kelapa balik ke habitatnya'
"Ehem, Ndre!"
"hm"
"Lu gak kasian sama Ana, mungkin dia lagi nungguin lu!"
"Ck! Cewek itu mana peduli sama gue, apalagi ningguin, gak mungkin!" jawab Andre tak peduli dan kembali mengecek beberapa data. 'Haih, bukannya kemaren udah akur, kenapa jadi gini lagi?'
__ADS_1
"Gue kira lu jadi ngejar Ana"
"Hei! Lu kalo gak bisa diem mending keluar deh!"
"Apa? Yang bener aja, Ndre! Ini kamar gue! yang ada juga elu yang harus keluar!"
"Siapa bilang ini kamar lu?! Ini kamar hotel dan yang booking gue, yang bayar juga gue!"
Sakti berpikir sejenak. "Iya juga, sih, ya udah deh gue pindah kamar aja, tukeran ama kamar lu, boleh gak?" Sakti nyengir kuda dengan alis yang dinaik turunkan berkali-kali.
"Lu cari mati, ya!" Andre menatap Sakti dengan tajam.
"Bercanda bro! Sensi amat, eh, Ndre, gue bingung deh, di kamar lu ada cewek cantik, udah halal lagi, lu malah betah di kamar gue, jangan-jangan lu suka sama gue ya?!"
Andre kembali menatap Sakti dengan tajam.
Setelah kepergian Sakti, Andre merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Tubuhnya tiba-tiba merasakan letih yang amat sangat 'Ana' Dia memejamkan matanya mengingat apa yang terjadi sebelum ini. Andre masih mengingat bagaimana bawelnya seorang Ana, bagaimana dia tak pernah bisa menjadi penurut untuknya. Ana yang tiba-tiba menjadi agresif, Ana yang sempat menggodanya dan mukanya yang memerah saat dia malu. Tanpa sadar dia tersenyum, lalu membuka matanya mencoba mengingat apa yang membuat Ana kembali dingin padanya. Dia merasa tak ada yang salah dengannya.
Andre memutuskan kembali ke kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. 'mungkin Ana sudah tidur' pikirnya.
Cklek,
pintu kamar hotel terbuka, Andre masuk dengan hati-hati. Benar saja dugaannya Ana sudah tidur, dia menggulung tubuhnya dengan selimut hanya menyisakan kepalanya yang terlihat. Andre berjalan mendekati perlahan, lalu jongkok tepat disebelah kepala Ana. Suara nafas yang teratur menandakan dia tidur dengan pulas. Andre mengulurkan tangannya, meraih beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya, dia lalu menatap wajah Ana dengan intens.
'wajah yang biasa saja, sudah dewasa tapi kelakuan masih seperti anak kecil juga keras kepala, tak punya kelebihan sama sekali! tapi kenapa dia selalu mengganggu pikiranku?! ck!'
__ADS_1
Andre berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Malam yang begitu damai, tak ada kejadian yang tak terduga seperti malam-malam sebelumnya. Ini malam terakhir mereka tinggal di hotel, besok setelah resepsi berakhir mereka memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta, Andre tidak bisa menunda pekerjaannya yang sudah dia tinggalkan selama tiga hari ini. Eksekusi untuk mengakuisisi sebuah perusahaan kecil di Singapura harus segera dilaksanakan. Rencana untuk membangun pabrik di Singapura maksimal dalam satu tahun ke depan harus sudah bisa terealisasi.
Sebagian dari kerabat dan tamu yang berasal dari luar negeri sudah banyak yang kembali. Begitupun kerabat yang dari solo, mami Ambar memutuskan untuk tinggal di solo selama sepekan sebelum dia kembali ke Australia. Sementara papi Steve dia akan kembali ke Australia setelah acara resepsi selesai.
Acara resepsi hari terakhir yang dikhususkan untuk teman-teman kedua mempelai, acaranya sangat santai dan dilakukan di roop top garden.
Akan ada wedding band di resepsi terakhir ini, sengaja agar acara lebih mendukung untuk anak-anak dari mulai seusia Dini.
*****
Pagi hari
"ugh" Ana melenguh menggeliat meregangkan badannya lalu mengembalikan posisinya ke awal, mencari tempat yang nyaman.
'Apa ini?' tangan Ana meraba sesuatu yang hangat dan kenyal, ini bukan gulingnya pikirnya lalu dia membuka matanya memaksa kesadarannya kembali. Benar saja yang dia paluk sekarang bukanlah guling melainkan tubuh suaminya, yang dia pegang barusan adalah dadanya.
"sudah puas memangnya?"
Ana mendongakkan kepalanya ke arah suara. Andre yang terpaksa terbangun karena aktivitas Ana meregangkan tubuhnya yang masih menempel padanya juga tangannya yang berkeliaran disekitar dadanya membuatnya mau tak mau membuka matanya.
Andre sebenarnya sudah sadar sejak awal ketika Ana memeluknya, tapi karena setelah beberapa kali Andre mencoba melepaskan pelukan tangannya, dia kan segera kembali memeluknya jadi Andre membiarkannya hingga dia tertidur kembali.
Ana yang sudah tersadar menjauhkan diri dari tubuh Andre dengan cepat, dia bahkan langsung berdiri karena terkejut. Saat itulah dia menjadi limbung karena kakinya terserempet selimut yang membuatnya malah terjatuh menimpa tubuh Andre.
"ugh!" Andre melenguh saat daerah terlarangnya tiba-tiba tertimpa tangan Ana.
__ADS_1
"aaaaaaaaaahhhhhhh apa itu?" Ana menjerit sambil menjauhkan tangannya saat dia merasakan sesuatu yang tiba-tiba mengeras di tangannya.
'heh! mulai lagi...' Andre memijit keningnya yang tak terasa pening.