
Ana membersihkan hidung Andre yang berdarah menggunakan tisu.
"hei, bangun! bersihin di kamar mandi gih!" Ana menggoyang-goyangkan tubuh Andre yang terasa sangat berat.
"Oooom!" Ana berteriak di telinga Andre.
"hm" Andre mengernyit lalu menutup telinganya dengan kedua tangannya dan memiringkan badannya memunggungi Ana. Ana menghela nafasnya.
"om! ayo donk, ini sisa darahnya gak bisa dibersihin pake tisu!" Ana kembali menggoyangkan lengan Andre.
"Ana, aku masih ngantuk"
"terus gimana donk!"
toktoktok
"teh, teteh,,, teh Lia mau pamit," Dini tiba-tiba kembali dan mengetuk pintu dengan perlahan kali ini.
"aduh aku lupa, teh Lia mau balik ke Depok,"
Ana bergumam.
"iya Din ntar teteh turun," Ana beranjak turun dari tempat tidurnya lalu mengambil tisu basah, untuk membersihkan sisa darah di hidung Andre.
"hm," Andre menjauhkan wajahnya saat Ana menyentuh hidungnya dengan menggunakan tisu basah.
"apa itu? dingin!" lanjut Andre.
"ini tisu basah, udah diem! bonganna dititah ka kamar mandi embung! (salah sendiri disuruh ke kamar mandi, gak mau!) aku turun dulu, mau nemuin teh Lia dulu, ga?"
"salam aja," jawab Andre singkat, setengah sadar.
"ya udah," Ana beranjak meninggalkan Andre yang kembali tertidur setelah hidungnya bersih.
******
"Teh, A, maaf ya a Andre masih tidur, capek katanya, salam aja we cenah!"
"waalaikumsalam, iya ga apa-apa, karunya cape-eun," Ana menyalimi teh Lia dan a Andi juga mencium pipi Salma yang digendong teh Lia karena masih tidur.
"kesian ini putri tidur, diculik,"
"kalo nungguin dia bangun mah mau pergi jam berapa, dibangunin ngamuk gera, riweuh di jalan kalo ngamuk teh"
"Iyah, ati-ati ya teh, a, tong rusuh, kabaran mama kalo udah nyampe, yah," teh Lia mencium pipi kanan dan kiri mama Meti, lalu Salim ke ayah Agus. A Andi yang sudah naik mobil duluan di ikuti teh Lia.
"ya udah atuh, mah, yah, Lia sama Andi berangkat ya, udah terlalu siang, assalamualaikum,,," pamit teh Lia dan a Andi yang mulai menjalankan mobilnya setelah sapaannya dijawab, mereka saling melambaikan tangan.
Setelah teh Lia pamit kini giliran ayah Agus yang pamit hendak berangkat kerja.
Barulah sisanya kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Dini ari maneh teu sakola?"(Dini, kamu gak sekolah?)
"ijin, heheee,,,"
"ijin sabaraha poe maneh, ih ges klas tilu tong loba ijin," ( ijin, berapa hari, jangan banyak ijin udah kelas tiga)
"ah da hese diomongan ge, titah tong ijin, meni hayang jadi pager ayu, padahal balik sakola gr bisa ka resepsi mah," (sudah sih diomongin juga, disuruh gak usah jadi pager ayu, kalo mau ke resepsi pulang sekolah juga bisa) mama Meti ikutan sewot.
"neng, kalo a Andre udah bangun, suruh sarapan dulu aja, nanti abis sarapan tidur lagi juga ga apa-apa"
"masih tidur, Mah, biarin ajalah!"
"teh itu a Andre tadi teu nanaon?"
"ari kamu lain kali lamun ka kamar teh, keketok heula!" mama Meti menjawil tangan Dini geregetan.
"ih mama, nyeuri,," Dini beringsut menjauhi mama Meti.
"kamu mah, ngerakeun!"
"te nanaon, cuma idungnya berdarah kejedot kepala Ana."
"euleuh, terus kumaha ayeuna?" Dini merasa bersalah.
"Kamu mah, nya!" mama Meti kembali memukul lengan Dini.
"ih mama ih, kdrt tau!"
"ih si mama kejam pisan ih! nasib anak bungsu! orang mah anak bungsu teh paling disayang, ieu mah anak bungsu yang paling sering kena getah! pasti we kena omel"
"Jang mama mah euweuh anu ngaranna bungsu, euweuh anu ngaranna cikal! salah mah salah we!"
"Tah nya panjang urusan," Ana melengos meninggalkan mama Meti dan Dini menuju dapur, perutnya sudah mulai berbunyi minta diisi.
Adu argumen mama Meti dan Dini berlanjut ke meja makan, merembet ke masalah pelajaran dan nilai rapot Dini, mulai melebar ke cara membereskan kamar tidur lalu berakhir diucian baju.
********
Jakarta, kediaman Andre
Sakti yang tadi malam dipaksa menjadi pembawa acara dadakan samapi hampir tiga jam, tapi hari ini tetap memaksa bangun pagi untuk kembali ngantor, pekerjaan bosnya sudah menumpuk karena ditinggalkan selama empat hari, hingga semua jadwal dimundurkan ke pekan ini.
Seperti biasa setiap pagi Sakti akan menjemput Andre dan Weni sekalian numpang sarapan di rumah mereka, maklum masih lajang.
Weni yang setiap pagi membuat sarapan untuk Andre dan juga Sakti sudah siap dengan dua buah cangkir kopinya serta segelas jus yang dia siapkan untuk dirinya sendiri.
"Andre mana?" Sakti duduk di meja makan mengambil sepotong sandwich dan menggigitnya.
"bentar aku panggil dulu," Weni eranjak dari tempat duduknya setelah meminum seteguk jus sayurannya.
"tumben, biasanya walaupun bergadang dia gak akan telat bangun, apalagi tau jadwalnya padat gini,"
__ADS_1
"emang mas Andre bergadang malem?" Weni sempat melontarkan pertanyaan sebelum dia berlalu dari ruang makan.
Sakti menghela nafasnya yang berat. Dia sungguh sangat bahagia karena sahabatnya akhirnya jatuh cinta, bahkan sudah menikah mendahuluinya, tapi kalo tiap mereka berantem atau galau harus dia yang kena sial, repot juga.
Sakti mengenang kembali apa yang terjadi tadi malam, bahkan Maria kekasinya masih tak mau mengangkat teleponnya gara-gara kejadian tadi malam.
hiks!
"Bi,,,, Bi,,,," Weni tergesa-gesa turun dari tangga sambil memanggil asisten rumah tangga.
"iya mbak, m" Sorang asisten menghampiri Weni yang tengah berjalan terburu-buru menuju ruang makan menemui Sakti.
"liat mas Andre gak?"
Bi Mirna, salah satu asisten rumah tangga mengerutkan kening.
"belum, mbak, saya pikir masih di kamarnya." Kini giliran Weni yang mengerutkan keningnya. "kenapa?" Sakti bertanya saat melihat Weni menuju ke arahnya sambil menelepon.
"mas Andre gak ada, mas Sakti! aku cari di kamar mandi gak ada, aku liat di balkon gak ada tanda-tanda dia kesana."
Sakti mengerutkan keningnya.
"aku telepon gak di angkat-angkat lagi," Weni gelisah karena setelah beberapa kali menelepon ponsel Andre, tapi tak kunjung di angkat, begitupun dengan Sakti berkali-kali dia menghubungi Andre, masih tak ada jawaban.
'kemana kira-kira, nih, orang?' Sakti mencoba berpikir.
*******
Setelah sarapan Ana memutuskan kembali ke kamar melihat keadaan suaminya.
Saat Ana masuk ke kamarnya, seperti yang sudah diduga, suaminya masih tidur menggulung dalam selimut.
dddrrrrrrrttttt,,,, dddrrrrrrrttttt,,,,
Suara getar ponsel di atas nakas, 'suara ponsel berisik gini, sampe gak kedengeran' Ana mengambil ponsel Andre di atas nakas.
'Sakti? deuh pacarnya nelepon!'
"om, mas Sakti nelepon, nih!" Ana berbisik di telinga Andre yang hanya menggoyangkan badan setelahnya.
"beuh!"
Telepon mati, Ana melihat ada delapan belas panggilan tak terjawab dari Sakti dan Weni. Ana mengerutkan keningnya, 'urgent gitu?' batin Ana lalu mulai menggoyangkan badan Andre mencoba membangunkannya kembali.
"om! panggilan tak terjawab dari mas Sakti sama Weni banyak banget nih, penting deh kayanya." Ana masih mencoba membangunkan Andre, tiba-tiba ponsel Andre kembali berdering.
"Sakti," akhirnya karena orang yang punya ponsel masih tak bergeming, Ana terpaksa mengangkat teleponnya.
"halo,,,"
Hening,,,,
__ADS_1