
mbak Utami menyapa para pria yang sedang pos ronda, dia pun tak memiliki pikiran buruk pad mereka.
"lihat tuh, janda seger, wah... bisa di nikmatin itu, pasti rasanya kayak perawan karena tak pernah di pakai lama," kata salah satu pria.
"jangan macem-macem dia itu saudaranya juragan Raka, kalian kan tau siapa pria itu?" saut yang lain.
"aku mah gak peduli, yang penting bisa nikmatin jangan dengan bahenol itu, kamu gak ngiler lihatnya, meski hampir kepala empat, tubuhnya masih bagus gitu, aku tebak rasanya pasti enak tuh," kata pria yang berpenampilan preman itu.
mbak Utami pun akhirnya sampai ke rumahnya, beberapa pria tetangganya itu pun sudah matang merencanakan sesuatu untuk wanita yang tinggal sendirian itu.
bagaimana tidak, wanita itu sudah seminggu tinggal di rumah juragan Arkan.
mereka pun memiliki niatan buruk untuk wanita itu, tapi ada sosok yang di minta Arkan untuk menjaga mbak Utami.
sodok itu bahkan memberitahu jika ada beberapa orang yang terus melihat ke rumah mbak Utami.
pukul dua dini hari, Arkan sudah bangun dan kebetulan tuan Alan juga sudah bangun karena kebelet tadi.
"wah tumben daddy bangun jam segini?" tanya Arkan melihat mertuanya.
"iya tadi kebelet, kamu mau kemana kok pagi-pagi buta begini sudah rapi?" tanya pria itu.
"ini mau ke pasar sama anak papi, dia bilang ingin beli beberapa macam unggas, jadi aku antar saja biar bisa milih sendiri," kata Arkan.
"baiklah kamu begitu hati-hati, biar Daddy yang jaga anak-anak di rumah,"
keduanya pun berangkat menuju ke pasar yang menjual berbagai macam unggas.
mulai dari Syam, bebek, mentok, hingga angsa, bahkan kadangkala ada kalkun juga.
hari ini Tasya ingin membeli angsa dan juga burung dara, entahlah dia ingin makan jenis burung itu tiba-tiba.
"kamu ngidam sayang?" tanya Arkan menggoda istrinya.
"kamu nglantur mas, ya kali baru di bulan aku sudah hamil lagi, masih sakit atuh bekas sesarnya," kata Tasya kesal.
"habis kata orang dulu, banyak anak banyak rezeki," jawab arkan.
"yang bener itu banyak anak, banyak tagihan, sudah ayo bantu aku membeli angsa untuk di masak," ajak Tasya.
tapi akhirnya mereka malah membeli banyak jenis unggas, setelah selesai Arkan menunggu di atas motornya.
sedang Tasya masih membeli nasi uduk untuk mereka bertiga, kan lapar kalau pagi gini.
setelah itu mereka pun memutuskan untuk pulang, Arkan sengaja memilih jalan memutar cukup jauh hanya demi memantau sesuatu.
ternyata pilihannya itu tepat, di pinggir jalan ada sebuah motor yang ada rengkek untuk jualan sayur.
"mas itu sepeda motor mbak Utami," kata Tasya menepuk bahu suaminya.
Arkan melihat sosok yang di minta untuk mengawasi mbak Utami, dan ada bekas jagung yang di rusak.
"aku memanggil semua makhluk yang dalam kekuasaan ku, datang dan bereskan para pria yang ingin menodai wanita itu," kata arkan.
tiba-tiba suasana berubah mencekam, gerimis turun dan suara anjing melolong bersahutan.
par pria yang masih berusaha menodai mbak Utami pun tiba-tiba bulu kuduknya meremang.
tiba-tiba salah satu dari mereka di tarik ke belakang oleh sebuah tangan berkuku panjang.
tak lama terdengar teriakan-teriakan yang memilukan. tak hanya itu satu per satu pria itu pun di tarik menghilang.
mbak Utami di rasuki oleh sosok yang di kirimkan Arkan, "seharusnya dari tadi kamu melakukannya," marah Arkan.
"maafkan saya tuan," jawab mbak Utami yang sudah dalam pengaruh makhluk itu.
__ADS_1
"sayang bonceng mbak Utami, niat aku yang bawa motornya," kata arkan memberikan arahan pada istrinya itu.
"iya mas," jawab Tasya.
mereka pun saling beriringan sampai menuju ke ruang, kebetulan Arkan memakaikan jaket miliknya pada Tasya, dan jaket Tasya di berikan pada mbak Utami.
bukan apa, Tasya hanya tak mau jaket suaminya di pakai orang lain,. tak lama mereka pun sampai.
tuan Alan kebetulan langsung keluar guna membantu keduanya untuk membawa belanjaan.
tapi dua malah terkejut melihat ada mbak Utami dengan kondisi yang acak-acakan.
"dia kenapa?" kaget tuan Alan.
"bawa masuk dulu Daddy, kita ceritakan di dalam," jawab Arkan.
mereka pun masuk, mbak Utami tetap dalam kondisi di rasuki oleh makhluk.
Tasya membantu mbak Utami untuk mandi dan juga mengantikan bajunya, dan setelah itu makhluk itu pun keluar dari tubuh mbak Utami.
tuan Alan menangkap tubuh wanita itu, dan menidurkannya di kasur lipat.
Arkan mulai menyentuh tangan dari mbak Utami untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Arkan tertarik ke rumah mbak Utami, wanita itu terlihat sedang bersiap-siap ke pasar.
di sudah memakai jaket dan perlengkapan lainnya, bahkan siapa pun tak tau jika wanita itu memakai baju berlapis-lapis.
bukan apa, mbak Utami hany takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan.
setelah itu dia pun berangkat ke pasar, tapi tak terduga beberapa pria sudah mencegat dirinya di tuwangan sawah yang cukup panjang itu.
terlebih tanaman yang sedang musim kali ini adalah jagung dan tebu, jadilah jalan itu sedikit rawan dengan kejahatan.
motor mbak Utami di cegat oleh tiga orang bertopeng, mbak Utami tak mau berhenti tapi dia di kalungi celurit hingga mau tidak mau dia harus berhenti.
"aku tak minat dengan sepeda motor butut mu itu, bawa dia," jawab salah seorang pria yang langsung menarik mbak Utami ke tengah-tengah ladang tebu itu.
dia langsung di dorong dan mereka muli melucuti baju-baju mereka terlebih dahulu.
Arkan merasa jijik melihat kelima pria itu, tapi permainan baru saja di mulai.
saat mereka mulai ingin memperkosa wanita itu, tapi ternyata mbak Utami memakai baju empat lapis.
dan itu membuat mereka semua marah, dan saat detik terakhir, Arkan dan Tasya datang membantu.
"bagaimana Arkan? kamu bisa melihat siapa mereka?" tanya tuan Alan.
"tidak Daddy, wajah mereka di tutupi kupluk, tapi tenang saja nanti pasti ada berita yang mengejutkan satu desa karena semuanya sudah di hukum," kata Arkan.
"tapi bagaimana dengan mbak Utami, pasti di sangat ketakutan saat sadar nanti," kata Tasya sedih.
"tenang biar aku untuk menghilangkan ingin buruk tadi," kata Arkan yang membacakan sesuatu.
"sudah, sekarang dia hanya ingat masih berada di rumah kita selama beberapa hari untuk menemanimu, dan tolong sayang aku kelaparan saat ini," mohon arkan memeluk istrinya manja.
"beh... kamu ini lucu, saat di Singapura mafia saja kalah sama kamu, di sini sayang aku laper siapin... sayang aku ngantuk kelonin, pingin tak jitak tau gak, bikin kesel saja," gerutu tuan Alan.
"idih Daddy cemburu, memang kenapa dia istriku, makannya nikah Sono,"saut arkan.
tuan Alan yang gemas ingin memukul menantunya itu, tapi Tasya memeluknya dan menggeleng, "Daddy mu aku jdi anak durhaka gak papa,"
"huh... awas saja kamu ya Arkan, aku pastikan kamu aku gites nanti," kesal tuan Alan.
sedang arkan hanya tertawa saja melihat ayah mertuanya itu, kini dia dan Tasya makan sebungkus nasi berdua.
__ADS_1
taun Alan menemani mbak Utami sampai sadar, tapi yang tak terduga adalah Adit ab Lily yang juga bangun.
"makan apa itu papi.." tanya Lily yang msih belum sepenuhnya bangun.
"Adit kemari nak, sini makan dulu dan suapi adik mu, setelah itu kita ke masjid," kata Arkan.
"baik papi..."
Lily pun mulai makan, tapi dapat empat suap gadis kecil itu tidur lagi, jadi Adit yang menghabiskan nasi itu.
"enak manis, terima kasih ..." kata Adit.
"untunglah, sekarang Adit mandi terus ikut papi ya, mami mau masak," kata Tasya yang menuju ke dapur.
tak lama Adit dan Arkan sudah siap ke masjid, kebetulan sudah adzan subuh juga.
Arkan senang sekarang punya temen untuk di ajak jamaah di masjid, pasalnya jika Lily yang di ajak sudah di pastikan gadis itu akan tidur.
setelah sholat subuh, Adit dan Arkan sedang berjalan santai menikmati waktu bersama.
mereka melewati jalan yang masih sepi terlebih bekas gerimis yang cukup deras tadi.
"papi dan mami dari pasar ya, kok tadi beli nasi uduk?"
"iya nak, terus bagaimana kamu tau?" tanya Arkan.
"iya tau, dulu kalau kakek mengajakku menjual hasil keranjang buatannya, pasti ke pasar dan setelah semuanya laku Mbah Nang akan membelikan nasi satu untuk kami bertiga, dan Mbah Nang selalu pesan nasinya yang banyak," kata Adit menjelaskan.
"terus kalian makan sebungkus bertiga?" tanya Arkan.
"iya, tapi Adit senang bisa makan bersama seperti dulu, itulah kenapa Adit suka mengajak Lily berbagi makanan," kata Adit.
"itu bagus nak untuk hubungan persaudaraan kalian, tapi jika Adit mau papi juga bisa kok berbagi dengan mu," kata Arkan tersenyum sambil mengusap kepala putranya itu.
"iya papi, terima kasih sudah jadi orang tua Adit," kata bocah itu yang langsung memeluk arkan.
"baiklah, kamu pagi-pagi sudah bikin papi Melow begini, sudah yuk kita pulang, karena mami katanya mau buat angsa goreng," ajak arkan.
"asik!!!" kata Adit yang langsung berlari sambil melepas sarungnya.
"hei Adit tunggu papi..." kata Arkan yang mengejar putranya itu.
mereka pun dengan senang hati akan sarapan lagi, tapi datangnya saat sampai di rumah, malah kekacauan yang mereka lihat.
Tasya sedang mengurus bayi Linga yang menangis, dan ada Lily yang juga sedang menangis.
serta tuan Alan yang menenangkan mbak Utami, melihat itu Arkan pusing.
"semuanya diam!!!" teriak pria itu frustasi.
akhirnya mereka pun perlahan mulai diam, Adit mengajak Lily untuk bersiap-siap untuk ke sekolah dan menata buku pelajaran.
"mas Adit dasi Lily hilang, terus sabuk juga, jilbabnya...."tangis bocah perempuan itu.
"kamu itu kenapa sih dek, orang mas sudah menyiapkan semuanya di gantungan baju, lihat itu, ada sabuk SD, topi dan dasi dan juga kaos kaki di dalam sepatu, makanya kalau cari itu pakai mata Lily, bukan pakai mulut," kata Adit lembut.
Lily pun berhenti menangis dan mulai memakai perlengkapan sekolah di bantu Adit.
bahkan untuk menguncir rambut Lily pun Adit sudah terbiasa, karena adiknya itu terlalu manja padanya.
mbak Utami juga di luar sudah diam karena Arkan memberikan air yang sudah di doakan.
dan bayi Linga juga sudah tidur di pelukan arkan, sedang Tasya merasa tertolong dengan kedatangan dua pria tercintanya itu.
"sabar ya mami..." bisik Arkan menggoda istrinya itu.
__ADS_1
sedang Tasya hanya melengos saja.