
"kalau begitu mulailah berburu, dan bawakan daging segar untuk calon cucu terbaikku," perintah dari pria sepuh itu.
"tentu pak," jawab Azam yang langsung pergi keluar rumah
Doni pulang membawa tiga wadah darah segar, yang satu dia berikan pada istrinya, dan yang dua di berikan pada Niken.
karena wanita itu butuh setidaknya butuh darah paling banyak, karena sedang hamil bayi kembar.
di tambah dengan bayi yang di kandung memiliki kekuatan yang sangat kuat.
Bu Broto mendatangi Niken dan membangunkan menantunya itu, "minum dulu nak, ini nutrisi untuk mu,"
"iya Bu," jawab wanita itu.
Niken yang setengah sadar pun langsung minum dengan lahap, perlahan tubuhnya sudah mulai kembali berisi.
"sekarang kita turun yuk nak," ajak Bu Broto.
"baiklah Bu, mari," jawab Niken tersenyum.
ki item yang berada di rumahnya merasakan ada aura yang tak bisa sudah beberapa hari ini.
dia juga tak bisa mengatakan dan melaporkan kejadian itu pada Arkan, karena pria itu belum pulang dari negara istrinya.
"ah... aku harus lapor pada siapa? Faraz tak mungkin, apalagi Aryan, ya semoga Arkan cepat pulang," gumam ki item.
Niken turun dengan perlahan, perutnya begitu besar, bahkan seakan tak imbang antara perut dan tubuhnya.
Fera dan Sesa tak terkejut melihat itu, setidaknya mereka lebih beruntung di banding dini.
wanita itu juga hamil tapi juga tak normal, karena dia manusia biasa, tapi Niken berbeda.
karena gadis itu sangat kuat, Azam datang dengan membawa seekor babi hutan yang sudah di kuliti.
"pak bisa bantu aku untuk memanggangnya?" kata Azam.
__ADS_1
"itu daging apa?" tanya Niken yang melihat binatang yang masih merah di meja makan.
"ini kambing, Kenapa sayang biarkan aku dan bapak memanggangnya," kata Azam.
"bolehkah setengah matang saja, aku sudah sangat lapar," kata Niken yang sudah lapar.
"baiklah," jawab Azam.
mereka pun memasak sesuai keinginan dari Niken, bahkan wanita itu begitu lahap saat makan.
Azam tertawa melihatnya, setidaknya dia akan jadi ayah dari anak yang kuat dan hebat nantinya.
ayu pun berhasil membujuk Aris, dan disinilah mereka sekarang, di rumah keluarga Rakasa.
saat Ayu ingin mengetuk pintu, tak sengaja Aluna dan Anand sedang berlari keluar bersama Nayla.
"loh Tante, dan om, selamat datang, sapa Nayla dengan sopan.
"ah iya, bisakah berbicara dengan mertua mu nak, karena kami ada urusan penting," kata Ayu.
"siap mbak," jawab bocah itu.
Aluna langsung menuju ke area belakang rumah, sedang Anand duduk melihat kedua orang itu.
"itu om jahat yang menghina Lily," tunjuk Anand pada Aris.
"apa? siapa yang menghina Lily," tanya Nayla.
"kakek jahat itu, dia bilang jika Lily anak setan dan anak wanita ******, aku mendengarnya meski tak tau apa artinya," jawab Anand.
"Allahuakbar, om menghina Putri mas Arkan, padahal dia menyelamatkan putrimu, karena jika satu tahun saja benda itu tak di keluarkan maka Niken akan mati," jawab Nayla yang masih tak habis pikir.
"sudahlah nak, oh ya bawa putra mu pergi, karena tak baik jika Anand tetap disini, karena putra mu itu memiliki kemampuan perekam yang sangat pintar," kata Wulan yang datang bersama Raka.
"baiklah Amma, ayo Anand kita beli cemilan, Husna, Aluna juga ikut yuk," ajak Nayla yang tak ingin mereka mendengar percakapan yang mungkin akan sangat penuh emosi.
__ADS_1
"wah ada apa ini, juragan Aris datang ke sini, apa ingin memohon sesuatu?" tanya Raka yang tersenyum penuh arti.
"jika bukan karena putriku, aku tak akan Sudi," kata Aris dingin
"bisakah kita berhenti bertengkar, jika terus seperti ini, bagaimana bisa saling bantu," kata Wulan.
"iya itu benar, saya datang bersama suami memang ingin meminta tolong pada keluarga mbak," kata ayu.
"apa itu, jika memang bisa, pasti saya akan bantu?"
"tolong temukan Niken, karena dia sudah hilang tanpa jejak, ustadz Arifin bilang jika dia berada di alam ghaib tapi beliau tidak bisa menembusnya," jawab Ayu.
"wah sepertinya akan butuh waktu lama, karena pria yang bisa menembus tempat itu sedang tak ada disini," kata Faraz yang baru pulang.
"tapi kata ustadz Arifin kamu juga bisa," jawab Aris.
"bisa tapi hanya sampai di kerajaan Ki item, untuk mengelilinginya aku tak sekuat itu, terlebih ilmu ku tak sebanding dengan Arkan," jawab Faraz.
dia pun langsung pergi kedalam rumah, "sudah ku katakan,kalian seharusnya melindungi anak-anak kalian dengan agama yang kuat, kenapa malah meninggalkan sholat," ketus Raka.
"memang aku harus bilang saat beribadah, itu adalah urusan ku dengan Tuhan," jawab Aris kesal.
"terserah kamu, kalau sudah seperti ini jangan bingung minta bantuan, ini karena kalian sendiri yang salah," jawab Raka tak kalah ketus.
"sudah ku katakan percuma kita datang kesini, karena mereka tak mungkin akan mau membantu," jawab Aris yang sangat marah.
"ho-ho-ho kalau bukan kami yang menolong, tunggu saja anak mu mati karena jadi inang dari menantu mu yang orang ghaib itu, terlebih sekarang dia sedang hamil anak pria itu, padahal arkan sudah mewanti-wanti, setelah kejadian kemarin, tapi juragan Aris dengan kejam malah menghina putrinya," kata Aryan yang baru datang.
"terserah kau saja, karena itu nyatanya," kata Aris marah.
"ya terserah anda saja, toh sekarang putri anda sedang hamil anak genderuwo, ha-ha-ha," jawab Aryan yang tak peduli juga, toh Aris yang terlalu angkuh sangat menyebalkan.
Raka dan Wulan tak mengira jika Aryan bisa mengucapkan hal seperti itu pada Aris yang notabene lebih tua.
padahal dulu keluarga mereka sangat dekat, tapi setelah kejadian buruk itu, keluarga Aris perlahan menjauh.
__ADS_1