Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
istri tersayang


__ADS_3

Arkan dan putrinya memutuskan naik taksi dari bandara menuju ke rumah mertuanya.


Lily terus melihat keluar mobil, pasalnya gadis itu baru pertama kali ke negara ini.


"papi ... opa tinggal di sini?" tanya gadis kecil itu.


"iya, opa tinggal di sini, ini kita mau ke rumah opa," jawab Arkan.


taksi itu di berhentikan saat akan memasuki kawasan elit itu. "maaf tuan kita tak dapat masuk,"


Arkan membuka kaca mobilnya, "siapa yang berani menghentikan aku," katanya dengan dingin.


sistem keamanan bisa mendeteksi siapa pria itu,"silahkan masuk tuan Arkana, maaf menahan anda," kata para keamanan itu.


taksi pun mengantarkan Arkan masuk, dia tak mengira jika pria itu adalah orang penting hingga dengan mudah bisa masuk ke wilayah perumahan itu.


ya wilayah ini adalah pulau buatan yang di buat khusus oleh pengembang dari perusahaan keluarga Gilbert.


"wah laut," kata Lily senang.


mobil itu pun berhenti di depan rumah besar, arkan turun dan membawa koper miliknya.


dia menekan bel rumah itu, Lily nampak tak percaya, "papi... pagar rumahnya besar, terus seperti istana," kata putri kecilnya itu.


"iya sayang, opa Lily sangat kaya," kata Arkan.


terlihat rombongan dari para pengawal rumah datang berlari menyambut arkan.


mereka membuka gerbang untuk pria itu dan gadis kecil yang ada di gendongan Arkan.


pria yang sudah lima tahun ini pergi dari rumah itu, "selamat datang tuan muda Arkan dan nona muda Lily," sapa semuanya.


"silahkan masuk tuan," kata kepala pelayan rumah.


"terima kasih pak, apa Daddy ada di rumah?" tanya Arkan.


"iya tuan, beliau sedang ada di rumah, karena kebetulan sebentar lagi akan ada acara rapat dengan semua kepala distrik," jawab kepala pelayan itu.


"halo kakek, nama ku Lily," kata Lily yang melihat pria itu.


"iya nona muda, panggil kakek pak Tom ya," kata pria itu yang begitu sopan.


"kakek Tom, apa mami Lily ada di sini? papi bilang mami ada di rumah opa," tanya gadis itu yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan Anastasya.


"Lily, sebelum ketemu mami, Lily harus mandi dan ganti baju, karena ruangan mami sangat steril sayang," kata arkan.

__ADS_1


"iya, Lily akan mandi dengan sangat bersih,biar nanti saat Lily mau cium mami, mami tak marah ya papi..." jawab Lily dengan gembira.


"iya sayang," jawab keduanya yang masih menuju ke rumah dengan mengunakan mobil golf.


sesampainya di depan rumah, terlihat akan sudah berdiri bersama beberapa pelayan wanita.


"itu opa Lily," kata Arkan.


"opa Lily tak sama dengan di ponsel," tanya Lily yang takut.


Arkan tersenyum dan langsung mencium tangan Alan, Lily pun mengikuti dan baru ngeh saat pria itu bicara.


"Lily takut pada opa?" tanya tuan Alan.


"tidak opa," jawab Lily yang langsung mau di peluk oleh pria itu.


Alan bahkan sampai meneteskan air matanya, karena begitu bahagia bisa memeluk cucu tercintanya.


"seharusnya kamu memberitahu Daddy, biar orang Daddy yang menjemput kalian," kata tuan Alan.


"maaf Daddy, aku sengaja ingin kesini karena aku sudah tak bisa lagi menahannya, aku ingin melihat Anastasya," kata Arkan.


"kalau begitu kalian mandi dulu, kita akan menemui Anastasya," jawab tuan Alan


Arkan mandi begitupun dengan Lily yang di mandikan oleh beberapa pelayan wanita.


setelah dapat satu kantong, akan meminta dokter untuk melakukan transfusi darah pada Anastasya.


dia pun bergabung makan sebentar, baru setelah sudah siap mereka masuk kedalam ruangan rawat Anastasya.


"dia tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan Arkan, tapi karena permohonan mu agar tetap menjaganya, aku terus berusaha lima tahun ini," jawab tuan Alan.


"papi, apa dia mami Lily?" tanya gadis kecil itu.


"iya sayang, dia mami Lily, sekarang Lily ikuti perkataan papi ya," kata Arkan yang menidurkan putrinya di samping Anastasya.


"sayang, aku kembali ke sini, lihat putri kita sudah tumbuh cantik seperti dirimu, dia juga sudah melakukan tugasnya, sekarang waktunya kamu bangun," kata Arkan yang mencium kening dari Anastasya.


tiba-tiba semua alat penunjang hidup Anastasya berbunyi dan menunjukkan hal yang positif.


"Lily... baca alfatihah nak, dan kemudian berdoa untuk mami," perintah Arkan.


"iya papi," jawab Lily menurut sambil memeluk tubuh Anastasya.


saat Lily mulai berdoa, Arsana tersenyum menghampiri kakak iparnya yang sedang berada di taman bunga.

__ADS_1


Anastasya berdiri saat melihat dari jauh ada Arkan dan Lily yang datang perlahan untuk menjemputnya.


"waktunya kembali mbak, mereka sudah datang, dan pengorbanan mu demi putrimu juga sudah selesai, sekarang kembalilah dan berbahagialah bersama mereka," kata Arsana.


"terima kasih Arsana, terima kasih..." kata Anastasya yang berlari menuju suami dan putrinya.


Arkan pun terus membisikkan lafadz Allah di telinga Anastasya, tiba-tiba wanita itu terbangun dari tidurnya.


semua orang di ruangan itu kaget, pasalnya orang yang sudah hampir mati, kini bisa hidup lagi.


"Alhamdulillah akhirnya kamu kembali," lirih Arkan melihat istrinya.


"bibi..." kata Anastasya.


Arkan langsung memeluk Anastasya yang masih begitu lemah, dia mencium seluruh wajah istrinya itu.


ketiganya pun berpelukan dengan erat, "dia Lily..." tanyanya dengan lemah.


"iya, seperti pesan mu, aku memberinya nama Lily," jawab Arkan.


"terima kasih, dia begitu mirip dengan mu," kata Anastasya.


"tidak, Lily seperti mami...." jawab gadis kecil itu.


Arkan memberikan kesempatan bagi akan untuk memeluk istrinya, bagaimana pun selama ini akan yang menjaga Anastasya.


"akhirnya kami bangun, Daddy hampir frustasi saat melihat mu terbaring tak berdaya," kata tuan Alan menangis.


"tenang Daddy, putri mu ini wanita kuat," jawab Anastasya.


"mami... akhirnya sekarang Lily bisa peluk mami, padahal papi selalu bilang jika mani jauh, dan Lily cuma bisa berdo'a untuk mami..." lirih Lily begitu senang sampai menangis.


Arkan terus mengusap air matanya, dia tak mengira jika hanya karena Niken, dia dan Anastasya harus terpisah sejauh ini dan selama ini.


"sudah-sudah, kita biarkan dokter dan perawat melepaskan semua alat di tubuh mami, agar mami bisa bergerak leluasa," kata tuan Alan.


Arkan meminta dokter agar tak melepas kantong darah itu, dan infus.


sekarang Anastasya susah kembali ke pelukan suaminya yang makin tampan di usianya.


"aku tidur selama ini, apa tidak ada yang merawat mu?" tanya Anastasya.


"bukan begitu, jika aku potong rambut jadi pendek, putri kita akan kesulitan jika ingin belajar menguncir rambut," jawab Arkan yang merangkul Anastasya.


bahkan dia tak mau melepaskan Anastasya sedikit saja, "begitukah? maaf seharusnya aku ada di samping kalian dan melihat putri kita tumbuh,bukan malah merepotkan semua orang, bahkan meninggalkan kamu membesarkan dia sendirian," kata Anastasya sedih.

__ADS_1


"sudah tak usah sedih, sekarang kita sudah bersama, dan terima kasih atas pengorbanan mu," lirih Arkan mengecup kening Anastasya.


sedang Lily sudah di ajak berkeliling oleh tuan Alan, dia sudah tak sabar untuk memanjakan cucu cantiknya itu, terlebih dia baru tau jika Lily begitu pintar di usianya.


__ADS_2