
Faraz sampai di rumah, dan benar saja keempat bocah itu sudah menunggunya, karena ini jadwal cemilan mereka dari Faraz.
Faraz menaruh semua di meja dan siapapun boleh mengambilnya, sedang dia sendiri masih tak habis pikir kenapa bisa melihat wanita yang begitu mirip dengan Nia.
bukankah wanita itu sudah mati saat kekacauan itu terjadi, jadi mustahil jika wanita itu kembali hidup.
melihat saudaranya yang nampak termenung, arkan mengejutkan Faraz, "hei memikirkan apa bung,"
"tidak memikirkan apa-apa, kalian nikmati saja cemilannya, aku mau masuk kedalam rumah dulu," kata Faraz.
"tunggu nak, nanti malam ustadz Yunus ingin meminta bantuan mu dan Arkan melakukan penjelajahan lagi," kata Wulan.
"baik Amma, aku mengerti dan aku siap menemani pria itu, dan Arjan jangan membuat ulah nanti," pesan Faraz.
"baiklah bang, jangan ketus begitu sih,kayak cewek pms saja," kata Arkan.
Anastasya memukul paha Arkan hingga pria itu kesakitan, pasalnya pukulan Anastasya terasa begitu panas.
Faraz hanya tersenyum dan kemudian masuk kedalam kamarnya.
dia pun memilih untuk tidur, karena tiba-tiba dia merasa begitu lelah dan capek.
Aryan dan Nayla berkumpul di rumah, mereka langsung mengambil cemilan yang di beli oleh Faraz.
pasalnya setiap Jum'at sore, keluarga mereka akan selalu berkumpul di rumah Raka.
ya setidaknya hanya untuk berbincang sebentar, agar tetap akrab satu sama lain.
sedang di pondok pesantren, Anna sedang bersedih, pasalnya cintanya pada Adi di tolak sang Abi.
karena bagi ustadz Arifin, sosok Adi terlalu tua, dan lagi karena pekerjaan pria itu yang tak bisa menetap di sebuah wilayah.
dan itulah yang menjadi alasan dari ustadz Arifin, pasalnya pria itu juga seorang duda dengan satu anak.
tapi Anna terlanjur mencintai pria itu, tapi dia berusaha menghilangkan nama Adi dari hatinya tapi sangat sulit di lakukan.
dia saja bisa menebak siapa pria yang di jodohkan dengannya, itu pasti adalah Faraz yang masih sepupu dengan Adi.
tapi Anna tak memiliki perasaan sedikit pun pada pria itu, meski Faraz sering menegurnya atau kadang mengungkapkan rasa suka yang dia ketahui hanya sekedar bercanda.
Faraz berjalan di sebuah jalanan sawah yang kosong, dia melihat ada dua orang yang ada di ujung jalan sambil berpegangan tangan.
__ADS_1
"bunda ... ayah.." panggilnya.
keduanya menoleh, mereka hanya tersenyum kearah Faraz dan mengulurkan tangannya.
Faraz berlari dan memeluknya, setelah itu keduanya menghilang, tapi Faraz malah melihat yang lain.
dia pun tersenyum saja saat melihatnya, tapi sayangnya saat dia berbalik badan sebuah keris menusuk jantungnya.
dia melihat siapa yang menusuknya, ternyata ada sosok Nia yang sedang menyeringai kejam.
"pria bodoh, kamu sudah bertemu dengan ku tapi kenapa kamu tak membunuh ku, jika kamu tak melakukannya aku akan membunuh mu beserta keluargamu itu, hahaha, tawa wanita itu menggelegar.
Faraz pun terbangun dan langsung memeluk Wulan yang duduk di sampingnya.
"astaghfirullah Faraz, kamu kenapa sampai berteriak tadi," kata Wulan.
"aku mimpi buruk Amma, aku mimpi Nia datang menuntut balas pada keluarga kita," jawab Faraz.
"ya Allah le, kamu belum bisa melupakannya, bagaimana jika kita melamar Anna saja, bukankah kamu menaruh hati padanya, karena ayah mu mendapat tawaran ta'aruf dari ustadz Arifin," tanya Wulan.
"tidak amma, karena dia jodoh seseorang, dan dia akan sangat terluka jika bersama ku, dan aku yakin si suatu tempat ada seseorang yang memang di takdir kan untuk ku, tapi mungkin kami belum bertemu," jawab Faraz.
"baiklah, sekarang lekas mandi, sudah mau Magrib pamali tidur jam segini," kata Wulan.
selesai mandi, terdengar suara adzan magrib, semua orang pun berangkat ke Mushola di depan rumah.
kali ini Arkan yang menjadi imam, dan seperti biasa suara merdu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an.
setelah sholat Magrib mereka duduk untuk mengaji sebentar, sedang Anastasya pulang bersama Wulan.
dia menerima sebuah pakaian gamis putih yang dulu pernah di kenakan oleh Wulan
meski terlihat seperti gamis biasa, tapi gamis itu sangat istimewa terlebih itu adalah gamis yang selama ini melindungi Wulan saat berjuang bersama Raka.
dan sekarang dia turunkan gamis itu pada Anastasya yang akan menemani aekan berjuang.
setelah sholat isya', Arkan dan Faraz sudah siap berangkat dengan pakaian putih dan juga ikat kepala.
mereka siap pergi, tapi sebuah tangan mengandeng tangan Arkan.
Arkan terkejut melihat istrinya yang mengenakan gamis putih dan juga tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"sayang kamu ikut kami?" tanya Arkan.
"aku akan melindungi kalian berdua, insyaallah dengan semua kekuatan ku," kata Anastasya.
"baiklah, ayo kita berangkat," ajak Faraz.
mereka pun berangkat, Lily melambaikan tangan melihat orang tuanya pergi.
mereka memilih mengendarai mobil karena harus menuju ke sebuah pohon yang ada di gapura desa.
ternyata semua murid dari ustadz Arifin dan ustadz Yunus sudah ada di sana dan mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
ternyata hanya Anastasya yang seorang perempuan, Arkan dan Faraz mengambil posisi mereka.
begitupun dengan ustadz Yunus yang kini sudah mengelilingi pohon tua itu.
tak lupa mereka terhubung dengan sebuah tali yang mereka pegang, Arkan mulai membaca doa untuk masuk kedalam alam ghaib.
akhirnya ketiganya berhasil, ustadz Arifin hanya mengawasi ketiganya, begitupun dengan Anastasya.
melihat ketiganya berhasil, Anastasya memanggil busur pasopati dan mulai membuat pelindung untuk mereka semua.
ustadz Arifin kaget,dia tak mengira jika Wulan mewariskan busur miliknya pada menantunya yang baru saja pulih.
tapi dari segi kekuatan dan fisik, Anastasya memang lebih kuat di banding Nayla, terlebih wanita itu juga sedang hamil.
ternyata benar, puluhan mahluk ghaib turun untuk merebut tiga raga kosong yang sedang di tinggalkan itu
tapi Anastasya menyingkirkan dan menghalau mereka agar tak mendekat.
"itu adalah busur pasopati, minggir... kita bisa mati dan musnah..." kata makhluk-makhluk itu ketakutan.
bahkan ada jenglot yang nekat ingin mendekat, Anastasya hanya menarik tali busur tanpa mengeluarkan anak panah.
itu sudah membuat jenglot itu terpental dan terluka parah, ternyata di tangan Anastasya busur itu lebih membahayakan.
ustadz Arifin tak mengira jika pandangan dari Wulan begitu tajam untuk memilih pewaris dari kekuatannya.
bahkan Arkan dan istri adalah gabungan sempurna, penerus dari Raka dan Wulan.
ustadz Arifin mulai memerintahkan semua muridnya membaca surat ad-jin untuk membantu ketiganya.
__ADS_1
sejara g mereka sampai di sebuah hutan yang paling di benci oleh Arkan, hutan hitam ghaib, hutan yang paling sulit di tembus.
tapi yang aneh, kenapa pohon beringin tua itu malah menuju ke hutan ini, padahal itu bukan jalan masuk yang sesungguhnya.