
Anastasya langsung masuk kedalam rumah, dia pun memilih untuk berada di kamar bersama putrinya.
Arkan pun hanya berdiri diam, "tenang, besok saat kalian bertarung, Amma dan ayah akan mengantar mereka berdua pulang," kata Wulan yang menikmati teh buatan menantunya.
"apa maksud Amma," tanya Arkan.
"karena aku tak bisa melihatnya sedih, terlebih aku akan minta maaf pada besan karena putraku sudah tak bisa menjaga istrinya lagi," jawab Wulan enteng.
"Amma tolong jangan lakukan itu, dan do'akan agar kami kembali dan bisa bersama istri-istri kami,"mohon Arkan.
"untuk apa, kalian bertiga bahkan sudah tak menurut kepada kami," tambah Raka.
kini ketiganya pun terdiam,terlebih semua keluarga menentang, karena memang luka yang di akibatkan terakhir kali terlalu parah.
sedang di restoran milik Arkan, gadis baru bernama Sasa itu sedikit aneh.
dia terlihat begitu lesu, "ada apa Sasa?" tanya Lina melihat pegawai baru itu.
"tidak apa-apa mbak, aku hanya kurang darah," jawab gadis itu.
"mending kamu libur dulu, toh restoran juga sudah banyak yang hendel, dan lagi besok Bu bos juga datang ke restoran," kata Lina yang terlihat sedih.
"gak papa mbak? tapi mbak yakin pak bos dah nikah?" tanya Sasa tak percaya.
"ya mending begitu, itu kenapa pak bos begitu dingin pada semua wanita,"terang Lina
Sasa merasa kesal, pasalnya dia tak suka pria incarannya sudah menikah,karena jika dia jadi istri Arkan.
setidaknya dia tak akan kesulitan menemukan korban, terlebih pria itu sering berburu malam.
Sasa pun pamit pulang, dia harus mencari seseorang untuk menambah darah.
dia pun buru-buru pergi dan langsung menceburkan diri ke sungai dari atas jembatan.
sore itu, suasana terasa sangat dingin di rumah keluarga Rakasa, bahkan makan malam saja tak enak di mulut.
Nayla dan Anastasya memiliki makan sambal geprek berdua, bahkan aroma cabe itu begitu menusuk.
"ya Allah bunda, kamu kenapa makan sambal sepedes itu, kasihan perut mu," tegur Aryan.
"kenapa, aku juga tak akan mati hanya karena makan sambal ini," jawab Nayla ketus.
"tau ayah protes Mulu," bela Anand.
__ADS_1
Aryan pun hanya bisa menghela nafas, pasalnya dia tak bisa melarang istrinya itu, padahal istrinya itu sedang hamil.
wajah Anastasya sudah menjadi merah karena rasa pedas itu, jika Aryan hanya bicara.
Arkan tanpa kata langsung menarik Anastasya dan membawanya ke belakang.
"lepas papi..." kata Anastasya.
"cuci tangan dan segera minum yogurt, kamu bisa sakit," kata Arkan tegas.
Anastasya menurut, bagaimana pun Arkan adalah suaminya dan tugasnya selalu menuruti semua perkataan dari suaminya.
dia pun menurut, Arkan menunggui istrinya itu, setelah itu Anastasya ingin pergi.
tapi Arkan menarik wanita itu ke dalam pelukannya, "jangan seperti ini, aku tak bisa kamu diamkan seperti ini, aku sakit melihat mu seperti ini sayang," lirih Arkan.
tanpa bicara atau menjawab ucapan suaminya, Anastasya hanya memeluk Arkan saja.
bahkan saat Arkan mencium bibirnya, Anastasya membalas tapi air mata malah jatuh membasahi pipinya.
malam hari, semua sudah beristirahat, Aryan, Arkan dan Faraz sedang merokok bertiga di teras.
Anastasya pun tidak bisa tidur, meski dia bersama putrinya. tapi hatinya tidak tenang.
tapi dia tetap kekeh, akhirnya sekarang dia takut jika wanita itu akan merebut Arkan darinya.
terlebih Arkan begitu mencintai Niken dulu, meski dia sudah jadi istri sah Arkan, tidak menuntut kemungkinan jika Arkan akan meninggalkan dia dan kembali ke wanita itu.
"bagaimana jika aku kehilangan suamiku, karena dia masih begitu mencintai mantannya itu," gumam Anastasya.
"apa kita harus melakukan ini, besok akan jadi hari panjang, dan lagi semua tak menginginkan ini terjadi," kata Aryan sedih.
"entahlah, aku juga berat, seperti ada yang melarang ku melakukan perjalanan besok," jawab Faraz.
"bukan hanya kalian, aku juga mulai goyah, terlebih setelah tadi aku melihat sikap mani Lily padaku," jawab Arkan.
ketiganya pun menghela nafas panjang, mereka kini bingung terlebih kekuatan mereka memang tak seperti dulu.
tapi mereka juga tak bisa diam saat ada seseorang yang dalam masalah dan akan celaka.
setelah puas berbincang bersama saudara-saudaranya, Arkan pun masuk kedalam rumah.
tapi dia kaget saat tak menemukan Anastasya di kamarnya, dia pun melihat di kamar Lily, ternyata istrinya sedang terisak sambil duduk memeluk lututnya.
__ADS_1
Arkan pun langsung memeluk Anastasya, "kenapa ... kenapa..." lirih wanita itu.
"maaf..."
Arkan pun langsung mengendong Anastasya dan mengajaknya ke kamar untuk berbincang.
"kenapa sedih sayang, apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Arkan.
Anastasya mengeleng, dia takut saat ingin bilang jika dia takut Arkan meninggalkan dirinya, jika besok Niken bisa selamat.
"sudah sayang, sekarang kamu tidur dulu, karena besok kamu katanya mau ikut ke restoran, jadi istirahat ya," lirih arkan.
"boleh aku melayani mu mas, tolong..." mohon Anastasya.
dia pun melakukan tugasnya, setidaknya ini sebagai baktinya, untuk urusan besok dia pun pasrah.
Arkan tak tau apa yang di pikirkan oleh istrinya itu, tapi dia tau jika Anastasya begitu terlihat khawatir.
tapi dia percaya jika semua akan lancar, Arkan bahkan memeluk istrinya erat, dia sedikit takut, takut jika harus kehilangan nyawa dan meninggalkan anak serta istrinya.
di rumah keluarga Broto, sedang terdengar suara yang begitu pilu, dini melahirkan anaknya.
pasalnya tubuh wanita itu sudah tak kuat Hadi inang untuk bayinya, bahkan wanita itu tinggal tulang dan kulit saja.
akhirnya Bu Broto merobek perut dini untuk mengeluarkan bayi itu, dan bayi itu berbulu hitam panjang.
bahkan suara tangisannya begitu kencang terdengar, Azam membuat pelindung di kamarnya agar Niken tak mendengar keributan di bawah.
setelah lahir, bayi itu langsung menyusu dan akhirnya membuat ibunya meninggal dunia.
suami dini tak terlalu sedih, toh impian keluarganya sudah jadi nyata.
dan dia juga bosan dengan istrinya itu, "sekarang di singkirkan dia, setelah itu bawa bayimu untuk mencari makan," perintah Bu Broto.
"baik Bu," jawab putra tertua keluarga itu.
Sesa dan Fira tak terkejut, kalau untuk keduanya, karena mereka satu jenis jadi keduanya mengalami kehamilan yang normal.
"sayang, besok kamu akan melahirkan," kata Azam mengusap perut Niken.
"Ita mas, dan tak terasa jika sudah selama ini, tapi menurutku aku di sini baru beberapa hari, tapi kenapa perutku begitu besar," kata Niken yang sedikit aneh.
"kamu hanya kelelahan, mungkin karena terlalu nyaman di sini, makanya kamu sampai lupa waktu," kata Azam.
__ADS_1
"iya mas benar, karena mungkin aku terlalu nyaman disini, bahkan aku di perlakukan seperti putri raja," jawab Niken tertawa.