Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
innalilahi....


__ADS_3

Faraz pun mengecek kondisi ustadz Arifin, dan saat ayah Raka selesai membaca doa, Faraz sudah menangis sesenggukan memeluk pria sepuh itu.


"ada apa Faraz, dokter!!" panggil Aryan yang ikut panik.


"Abi sudah meninggal dunia..." tangis Faraz sambil terus memeluk tubuh sang mertua.


"Abi!!" panggil Kalila yang kemudian pingsan, dan beruntung Tasya memeluknya.


umi Salamah pun hampir pingsan juga tapi beruntung Amma menahan tubuh besannya itu.


dokter pun memastikan kematian dari ustadz Arifin, hari ini semua sedang berduka atas kepergian orang tua mereka.


pria yang selalu menemani masa muda ayah Raka dan ayah Rafa. hingga menjadi tempat curhat dan juga rekan dalam melakukan ruqyah bersama Faraz, Arkan dan Aryan kini telah pergi untuk selamanya.


pak abu dan pak Ali pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan semua kebutuhan pemakaman.


semua santri di pondok pesantren menangis mendengar berita tentang kematian dari pemilik yayasan ini.


mobil ambulan yang membawa jenazah pun tiba, dan para santri berebut untuk membawa keranda mayat itu.


Arkan dan yang lain pun membantu untuk memandikan dan menyolatkan, bahkan mereka mencoba menghubungi Anna tapi tetap tak bisa.


Kalila pun memberanikan diri menghampiri Faraz dan Arkan yang terlihat berusaha mencari kakaknya.


"maaf mas, jika bisa tolong hubungi mas Adi, mungkin mbak Anna ada bersamanya," kata Kalila.


"apa maksud mu Lila, bagaimana bisa.." kata Faraz tak percaya.


tapi Kalila terlalu takut mengatakan Semuanya sekarang, melihat wajah Kalila yang ketakutan, Arkan melerai abangnya itu.


"kita bisa coba dulu, biar aku mencobanya," kata Arkan.


dia menelpon Adi, telepon tersambung ke nomor Adi, Arkan pun menyalakan pengeras suara.


"assalamualaikum... mas Adi," salam Arkan.


"ya... ada apa Arkan kamu menghubungiku," tanya Adi dengan ketus.


"maaf mas, aku ingin bertanya, apa mas bersama dengan Anna, karena ada sesuatu yang harus kami katakan," kata Arkan.


tapi tiba-tiba mereka malah mendengar suara jeritan yang tertahan, "mas Adi..." sayup suara itu terdengar.


hati Faraz pun hancur mengenali suara itu, sedang Kalila masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"ada apa bilang saja, jika kamu terus menganggu ku aku akan memberikan perhitungan padamu," kata Adi marah.

__ADS_1


"ustadz Arifin telah wafat di rumah sakit, dan besok akan di makamkan pukul sembilan pagi, jika bisa tolong bawa Anna pulang untuk melihat ustadz Arifin untuk terakhir kalinya," mohon Arkan.


"baiklah, aku tau," jawab Adi yang langsung mematikan telponnya.


Faraz memilih duduk di pojokan, dia pun tak mengira gadis yang selama ini dia idamkan ternyata seperti ini.


Arkan menghampiri Faraz, "sudah jangan terlalu sedih, ingat bang, kamu juga sudah menikah dengan Kalila, jadi dia sekarang tanggung jawab mu, dan kamu harus menjaga umi Salamah juga, ingat itu," kata Arkan.


"iya kamu benar," kata Faraz singkat.


akhirnya semalaman para santri terus melakukan sholat jenazah secara bergantian, dan lantunan ayah suci juga tak ada putus.


bahkan jama'ah pengajian juga mulai berdatangan setelah sholat subuh.


Faraz sudah berganti baju bersama yang lain. anak-anak di rumah juga terus membaca Yasin bersama dengan mbak Utami untuk mendoakan ustadz Arifin.


sedang di tempat Adi, Anna juga sudah siap dengan gamis berwarna hitam, begitupun Adi. "sebenarnya kita mau kemana? kenapa aku di suruh pakai gamis ini?"


"sudah pakai saja, sekarang ayo ikut aku melayat, dan Hannan pernah berani untuk bicara dan mengatakan apapun, jika tidak aku pastikan kamu akan melihat keluarga mu mati, ingat itu ya sayang," kata Adi mengancam Anna.


dia pun hanya bisa mengangguk dan pasrah, Anna pun berjalan biasa dan sudah tak kesakitan lagi karena sudah terbiasa.


mobil mereka pun menuju ke kawasan pondok pesantren, dan terlihat begitu ramai dan ada bendera kuning serta bunga ucapan bela sungkawa sepanjang jalan.


Anna sudah menangis membaca setiap ucapan dan nama yang tertulis di sana, "Abi..."


"iya aku tak akan bicara, tolong cepat aku ingin melihat abi untuk terakhir kalinya," kata Anna memohon.


dia dan Anna turun di tengah jalan, dan meminta seorang santri yang terkenal sebagai supir di ponpes untuk memarkirkan mobilnya.


dia pun berlari menerobos semua orang yang sedang berbaris, melihat Anna di kerumunan.


pak Ali pun turun tangan,"mohon beri jalan, mbak Anna akan lewat," kata pak Ali berteriak.


akhirnya Anna dan adi pun bisa berjalan dengan leluasa, dan Anna langsung jatuh memeluk keranda sang Abi.


Adi melihat Kalila, dan gadis itu langsung mundur dengn ketakutan, sedang Faraz berduri di depan Kalila dan menatap tajam ke arah Adi.


"maafkan Anna Abi..."tangis Anna pecah.


umi Salamah hanya bisa melihat putrinya itu, dan tak ingin melakukan Apapun.


pak abu dan ustadz Idris ingin membukakan keranda agar Anna bisa melihat ustadz Arifin untuk terakhir kali malah di larang oleh umi Salamah.


"tidak usah di bongkar lagi, sebaiknya kita segera makamkan, kasihan Abi sudah menunggu selama ini," kata umi Salamah.

__ADS_1


mereka semua pun menurut, dan langsung menutup keranda kembali, dan kemudian membawa keranda itu ke masjid.


ini adalah sholat jenazah untuk umum, "sholat jenazah akan di pimpin oleh menantu dari ustadz Arifin, Monggo mas," panggil ustadz Idris.


"rapatkan barisannya," kata Faraz yang kini bertindak sebagai imam sholat jenazah.


Anna pun heran kenapa Faraz sudah di panggil menantu, padahal penikahan dirinya dan Faraz belum terjadi.


setelah di sholati, jenazah pun di bawa ke pemakaman Keluarga di kawasan pondok pesantren.


pemakaman berjalan lancar, yang turun ke liang lahat tetap Faraz, kini Arkan turun dan juga ustadz Idris juga.


setelah itu pemakaman terus di warnai suasana harus yang begitu terasa mengiringi masuknya jenazah ke liang kuburnya.


bahkan saat Faraz mengumandangkan adzan untuk terakhir kalinya, suara pria itu bergetar menahan tangisnya.


setelah itu mereka pun pulang setelah pemakaman, Anna pun bersimpuh di kaki umi Salamah,


"maafkan aku umi ..."


"lebih baik kamu pergi Anna, sesuai keinginan mu, dan kamu yang membuat Abi mu jadi seperti ini," kata umi Salamah.


"tidak umi, biarkan aku tetap di sini, aku akan mengurus ponpes sesuai permintaan Abi dulu," kata Anna.


"tidak perlu, nak Faraz yang akan mengurusnya dan menjaga kami, karena kamu sudah bukan putri kami setelah apa yang kamu lakukan kemarin," kata umi Salamah.


Anna pun terpuruk, dia tak tau apa maksud dari uminya, kenapa dia di buang seperti ini.


dia pun menoleh ke arah Kalila adiknya, "ini semua karena kamu, seandainya kamu tak pergi dari restoran," marah Anna yang mencekik Kalila.


"hentikan mbak.... sakit..." kata Kalila.


Tasya mencoba melerai, tapi tak bisa, akhirnya Faraz turun tangan, " apa ucapan mu ini, kamu bahkan yang membuat Kalila pergi dari restoran itu, kemudian kamu lari dengan mas Adi, jadi jangan salahkan Kalila karena aku ada buktinya," kata Faraz menunjukkan rekaman CCTV dari restoran Adi.


ternyata saat Kalila menerima surat dari pelayan restoran dan kemudian pergi, tak lama ada sosok dirinya dan Adi yang terlihat berpelukan yang juga pergi.


"jadi mau bilang apa lagi?" tanya Faraz yang melindungi Kalila.


"tidak... itu bukan aku..." kata Anna.


"sudahlah Anna, sekarang sebaiknya kita pergi, di sini tak ada yang mengharapkan kehadiran kita," ajak Adi.


"tidak mau, mas Faraz tolong percaya padaku, kita harus menikah sesuai pesan Abi bukan," kata Anna dengan sangat memperihatinkan.


"maaf Anna... tapi aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak mencintai diriku, dan lebih baik ikuti cinta mu dan mas Adi, aku sudah ikhlas," kata Faraz.

__ADS_1


Adi pun menarik Anna untuk pergi, "ingat ancaman ku Anna, jangan berontak dan berucap omong kosong," bisik Adi.


__ADS_2