
"ayolah bung, masak kamu melupakan teman mu ini, oh ya aku memang membuang mereka di sini, dan membuatnya menjadi makanan raksasa itu, apa kamu akan membuka penggilingan ini lagi?" tanya Ki Arya.
"menurut mu, dan lagi tuh kera juga udah ada pawangnya kok," jawab Arkan yang memeluk pria itu.
"anjr*t, bagaimana bisa putrimu itu!" kaget pria itu.
"menurut mu, lihat dong wajah cantiknya, pasti mirip ibunya," kata Arkan tertawa lepas
"alah bro, tak kira kamu masih gila dengan wanita itu, ternyata wes move on toh," kata Ki Arya melihat sosok Tasya yang mengenakan gamis berwarna biru langit itu.
"mami kemarilah, perkenalkan Ki Arya, dia teman main ke gunung dulu sama papi, tapi dia kecantol di gunung Lawu, makanya jadi begini," kata Arkan.
"salam kenal, saya Anastasya Gilbert, istri dari mas Arkan," jawab Tasya.
"halo mbak Tasya, oh ya si cantik ini ... ya Allah aura milikmu nak," gumam Ki Arya.
"sudah dia masih kecil gak ngerti juga, lain kali jangan di buang kesini lagi tuh arwah gak jelas, mending buang ke putukan, kamu tau kan di sana banyak yang suka," kata Arkan pada temannya itu.
"iya iya maaf, mau di bantu apa sudah selesai bersih-bersihnya?" tanya Ki Arya.
"udah selesai, jika kamu punya waktu luang, coba deh ketemu Aryan, kalian kan teman Deket dari dulu," kata Arkan.
"kamu gila atau stres, kamu mau kami adu kekuatan, orang dari dulu dia tak pernah suka padaku, terlebih karena nama kita mirip," jawab Ki Arya.
"baiklah maaf kalau begitu, aku pamit ya sudah semakin sore juga, dan bapak-bapak juga sudah selesai, dan besok aku akan mulai membuka penggilingan ini," kata arkan.
"baiklah, nanti aku bantu jaga, ya wes hati-hati di jalan, mati Bu juragan dan gadis cantik," pamit pria itu.
Tasya tak mengira jika pria yang berperawakan seram itu, begitu baik terutama dengan arkan.
kera putih itu begitu menurut pada Lily, terlebih Arkan yang seperti melihat ada ikatan tersendiri pada keduanya.
mereka pun pulang, saat sampai di rumah, Aryan sedang membersihkan pelataran rumah.
"tumben rajin banget, kenapa?" tanya Arkan.
"gak cuma ini radi gak tau dari mana, ada lima bangkai kucing di depan rumah, dan aku sudah menguburkan semuanya," jawab Aryan.
"sudah tanya sama penjaga siapa yang menaruhnya?" tanya Arkan.
__ADS_1
"mereka bilang itu tadi seperti ada kilatan yang menaruhnya di depan rumah, dan bentuknya tak jelas," jawab Aryan
"kok serem sih, sudah masuk yuk," ajak Tasya.
mereka pun memutuskan untuk masuk kedalam, Raka yang melihat jera kecil di tangan cucunya pun ingin marah.
tapi melihat hal itu dia mengurungkan niatnya, "ada apa ayah?" tanya Wulan pada suaminya itu
"lihat kera itu, aku jadi ingat kisah lama," jawab Raka.
"Mbah... lihat Lily punya apa, dan dimana ayah besar, dia biasanya suka dengan hewan?" tanya gadis kecil itu.
"ayah besar ya, sepertinya tadi pamit ke pondok pesantren ustadz Arifin, ada sesuatu, memang kenapa nak?" tanya Raka.
"owh.. tidak ada apa-apa, ya sudah papi titip kera Lily, karena Lily harus mandi dan mengaji," kata gadis kecil itu.
"baiklah, kamu disini dulu ya Kong, maaf belum punya kandang sendiri," lirih Arkan menaruh jera itu di kandang kucing.
"aku tak suka di kandang," jawab kera siluman itu.
"gak papa, untuk sementara saja," jawab Arkan.
sebenarnya dia sendiri bingung karena tiba-tiba di minta untuk datang ke pondok itu.
"baiklah ustadz Arifin, sebenarnya ada keperluan apa hingga meminta saya untuk datang, karena dari tadi saya tak mendapatkan jawaban apapun," kata Faraz yang mulai tak sabar.
"saya ingin menawarkan ta'aruf, seharusnya mas Raka sudah mengatakannya bukan," tanya ustadz Arifin.
"sebelumnya saya ingin minta maaf, karena saya belum terpikir untuk menikah, terlebih saya tau siapa yang di sukai oleh putri ustadz, yang pasti itu bukan saya," jawab Faraz tegas.
"tapi nak Faraz, bukankah kamu menyukai Anna?" tanya umi Salamah.
"iya umi saya menyukai Anna, tapi tidak untuk memaksanya, jadi tolong izinkan saja dia menikah dengan pria yang dia sukai, dan untuk saya, saya bisa perlahan mencari gadis itu," jawab Faraz
"gadis itu?" tanya ustadz Arifin.
"gadis yang bisa mendukung saya dalam senang dan duka, terlebih pernikahan sebaiknya terjadi sekali seumur hidup," jawab Faraz.
"baiklah kalau itu keinginan mu, dan jika berkenan tolong lihat kondisi Niken, apa dia sudah lebih baik?" kata ustadz Arifin.
__ADS_1
"baik ustadz," jawab Faraz.
Faraz pun bangkit dan menuju ke ruangan milik wanita itu, terlihat Niken sedang belajar mengaji.
"assalamualaikum... bagaimana kondisimu Niken?" tanya ustadz Arifin.
Faraz melihat jika tidak ada hawa hitam yang menyelubungi wanita itu.
"Alhamdulillah baik ustadz, saya sedang belajar mengaji bersama neng Fatimah," jawab Niken.
"baguslah Niken, tapi apa kamu sering bermimpi aneh?" tanya Faraz yang melihat sebuah buku yang terjatuh.
"tidak,tapi setiap malam aku seperti mendengar suara tangisan anak kecil yang begitu nyaring, tapi aku tak tau itu dimana?" jawab Niken
Faraz langsung merobek buku yang jatuh itu, dan langsung meminta seorang santri membakarnya.
"makanya kalau mau tidur baca doa dan jaga wudhu, supaya di jauhkan dari hal-hal seperti itu," kata Faraz.
"aku mengerti, tapi kamu sedang cari apa sih mas Faraz," bingung Niken melihat pria itu sibuk sendiri.
tiba-tiba Faraz langsung masuk ke kolong tempat tidur dan menarik sesuatu.
tak ada yang bisa melihat apa yang di bawa oleh Faraz kecuali ustadz Yusuf dan ustadz Arifin.
"aku tak mencari apa-apa, maaf jika mengganggu, aku pamit dulu, oh ya Niken kamu harus kembali kuliah dan melanjutkan semua pelajaran mu,ingat itu," kata Faraz.
''baik lah pak dosen, aku mengerti," jawab Niken.
Faraz pun pamit dan pergi keluar dari asrama putri khusus itu, sambil menenteng seperti bola bulu berwarna hitam.
bola itu berbunyi sangat nyaring, tapi Faraz seperti tak terpengaruh, bahkan dia terus membawanya pergi.
"ustadz punya Genuk dari tanah liat yang sudah tak terpakai," kata Faraz.
"ada di depan pondok," jawab ustadz Arifin.
Faraz ke depan dan langsung memasukkan bola bulu itu ke dalam Genuk itu dan menutupnya dengan daun talas.
"jika kamu ingin keluar, maka tunjukkan wujud mu, atau aku akan mengurung mu di sini selamanya," ancam Faraz."
__ADS_1
tiba-tiba sebuah ledakan terdengar, dan Genuk pun pecah berhamburan, dan terlihat sesosok bayi muncul dari dalam Genuk itu.