
mereka pun keluar dari desa sarloka, mereka sedikit kaget karena saat sampai di desa lain sudah terdengar suara adzan isya'.
"loh lah... kok sudah isya' saja, padahal kita tadi berangkat baru jam empat sore lebih loh," bingung keduanya.
"iya, kita bahkan tak mendengar suara adzan magrib, jadi aku kira masih jam setengah enam," jawab Arkan.
"sudahlah, kita ke masjid itu dulu, kita jamak saja, karena memang kira tak tau tadi," kata Faraz.
mereka pun memilih ke masjid dan menumpang untuk mandi juga, bukan apa, tubuh mereka terasa begitu lengket.
bahkan Sesnag yang seekor ular siluman saja merasakan hal yang sama.
mereka pun mandi besar di tempat takmir masjid di sana, beruntung pria itu sangat baik.
saat Faraz menyiramkan air ke tubuhnya di barengi doa, tiba-tiba beberapa cacing ikut rontok begitu banyak.
Faraz kaget melihat hal itu, akhirnya dia pun melanjutkan mandi setelah itu giliran Arkan yang malah lebih parah.
dari tubuh Arkan malam keluar belatung, dan mereka berdua tak sadar jika sudah jadi incaran orang yang ingin menumbalkan mereka.
takmir masjid pun menghampiri kedua orang yang terlihat masih kaget itu, dia membawakan teh untuk Faraz dan Arkan.
"mas nya pasti kaget ya, itu sudah sering mas, kalau masnya masih bisa keluar dan selamat dari desa sarloka, maka kalian pasti bukan orang sembarangan, karena di desa itu tak bisa di masuki oleh orang asing, kecuali dapat undangan dari warga disana," jawab takmir yang masih terbilang muda itu.
"astaghfirullah... niat mau nolong malah kita yang hampir jadi korban," kata Arkan.
"sudah kita sholat dulu, kemudian lanjut pulang setelah itu," kata Faraz
mereka berdua pun mulai sholat berjamaah, setelah itu berterimakasih kepada takmir masjid itu.
Sesnag datang juga mengabarkan jika dia baru sadar jika ada yang menempel pada mereka bertiga.
akhirnya mereka melakukan pembekalan diri sebelum pulang, dalam perjalanan pulang, mereka berkali-kali hampir celaka.
entah itu hampir tertabrak truk, atau menerobos lubang besar di jalan, tapi beruntung mereka masih bisa selamat.
__ADS_1
mereka pun berpisah untuk menuju rumah masing-masing, tapi arkan kaget saat sampai di rumahnya.
sosok Suni dan kera putih Kong sedang dalam wujud siap menyerang, bahkan mereka dalam wujud raksasa.
"ada apa ini? apa ada yang ingin mencelakai keluargaku," kata Arkan yang buru-buru masuk kedalam rumah.
saat dia masuk kedalam rumah, Tasya menarik busurnya dan menghempaskan apa yang menempel pada tubuh Arkan.
ternyata seorang wanita yang terlihat tak asing, "wah... wah... ternyata kami terlalu memandang rendah dirimu, kamu ingin bermain bersama ku," kata Arkan melihat sosok penjaga warung yang berubah menjadi sosok wanita penuh belatung dan nanah.
"aku menyukai aroma mu, dan aku butuh jiwa kuat seperti mu untuk menyempurnakan ilmu ku," jawab wanita itu.
kedua siluman itu pun mulai menyerang, Arkan melemparkan tombak Cokro Geni untuk memusnahkan mahluk itu.
dia pun langsung terbakar habis di depan rumah, Lily dan Tasya selamat, begitupun dengan dua pria itu.
Faraz yang baru sampai rumah juga langsung muntah darah di depan rumahnya.
kebetulan Aris dan Ayu sedang di depan rumah kaget melihat hal itu, mereka pun langsung membantu Faraz.
Faraz pun tiga kali muntah darah berwarna hitam dan akhirnya dia pun merasa baikan, "aku tak bisa menemukan penyakitnya," bingung dokter itu.
"sepertinya dia bukan sakit medis, tapi siapa yang bisa melempar sesuatu sejahat ini," kata Aris tak habis pikir.
"sudah om Aris aku baik-baik, sepertinya Arkan dan istrinya sudah memusnahkan orang yang ingin menyakiti kami," jawab Faraz.
"ya Allah, memang kalian ini sebenarnya dari mana?" tanya ayu yang membuatkan teh hangat untuk Faraz.
"kami baru saja membantu seorang hantu untuk memenuhi keinginannya, tapi ternyata kami lengah hingga kami malah jadi di incar oleh seseorang agar di jadikan tumbal ilmu," jawab Faraz.
"ya Allah nak, lebih baik kamu hati-hati, meski kamu suka menolong orang tapi jangan sampai membahayakan seperti ini juga," kata Ayu.
"iya Tante," jawab Faraz yang mulai bisa duduk.
Niken datang membawa bubur yang dia buat, dia tak tega mendengar jika Faraz sakit.
__ADS_1
terlebih pria itu juga sangat sibuk dengan pekerjaan dan juga menjaganya.
"bunda, aku bawa bubur nih, aku buat dengan air yang bunda bilang itu," kata Niken memberikan bubur itu pada Faraz.
"boleh minta tolong taburkan garam merah itu," kata Faraz.
"baiklah," jawab Niken yang melakukan perintah Faraz di depan pria itu.
bubur baik-baik saja, dan Faraz pun memakannya, tapi Indra perasannya kehilangan fungsinya.
"ya Tuhan jangan lagi," gumam Faraz.
"kenapa rasanya tak enak?" panik Niken melihat raut wajah Faraz.
"bukan, tapi sepertinya akan ada yang datang, kalian semua tolong pulang, aku takut dia akan menyakiti kalian," kata Faraz.
"memang siapa?" bingung Niken
"ular penjaga keluargaku," jawab Faraz.
akhirnya Aris mengajak istri dan putrinya pulang, tapi Faraz mengingatkan Niken yang madih dalam masa penjagaan untuk tetap terus berdoa.
Niken pun mengikuti permintaan Faraz, bahkan sebelum tidur dia terus membaca witir hingga terlelap tanpa sadar.
Faraz melihat sosok bayangan ular hitam melata di depannya, burung penjaganya juga sudah berubah ukuran.
"jangan melakukan hal aneh, atau aku akan membuat mu terbakar," kata Faraz yang masih lemah.
"wah... lihat pria yang lemah ini pun ingin membuatku takut, kamu bahkan tak bisa bangun dari tempat tidur Faraz, bagaimana bisa kamu mengusirku," kata siluman ular itu.
tak terduga burung putih milik Faraz langsung menyerang siluman itu hingga terluka cukup banyak, dan akhirnya bisa mengusir siluman itu pergi.
Ki Gondo Rekso datang melihat cucu buyutnya itu, dia pun memberikan setengah kekuatannya untuk Faraz, agar pria itu tak lagi terluka seperti ini.
terlebih saat menolong arwah yang terbaik di dunia, meski kedua pemuda itu memiliki kesaktian tapi bagaimana pun mereka tetap manusia biasa.
__ADS_1