Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
membuat malu.


__ADS_3

ayah Raka menghentikan Adi yang ingin menarik Anna pergi, "berhenti Adi, tolong jangan membuat malu, bagaimana pun ini sedang dalam suasana duka,"


"kenapa mas ikut campur om, ini masalah ku dan hidupku, aku beritahu ya, ayah saja tak berani menggangguku, tapi anda sok bijak, minggir..." kata Adi yang tetap membawa Anna pergi.


Anna nampak berontak, tapi dia tak berdaya melawan sosok Adi yang memang lebih besar di banding dirinya.


tapi Adi terdiam dan melepaskan Anna dari tangannya, karena dia melihat sosok ayahnya dan juga Luna yang datang ketempat itu.


"bunda, ajak Adi pulang jika tak mau minta dua adiknya untuk menyeretnya," kata Rizal dengan tegas.


"aku bukan anak kecil hingga kau bisa menyeret ku, dasar pria tua menyebalkan," kata Adi yang kemudian pergi dengan marah.


Anna pun berbalik dan memohon ampun pada umi Salamah, tapi wanita itu nampak tak bergeming sedikitpun.


"umi ... aku tidak pergi dan lari bersamanya, dia menahan ku dan dia melecehkan ku," kata Anna.


Faraz dan arkan tertawa, "melecehkan, bukankah kamu juga menyukainya, bahkan kamu menyebut dan memanggil namanya dengan lembut, bahkan Kalila tadi juga mendengarnya, kami tidak tuli," kata Arkan menjawab Anna


"kalau begitu, pak Rizal aku serahkan putriku padamu, sekarang dia tanggung jawab dari Adi, dan saya tak ingin melihatnya lagi, cukup semua yang telah dia lakukan," kata umi Salamah yang benar-benar murka sekarang.


"baiklah umi, saya akan menjaga dia seperti putri saya sendiri, ayo nak Anna, kita pulang dulu dan nanti kita datang lagi saat semuanya sudah beres," ajak Rizal.


Anna pun tepaksa ikut Rizal, dan mereka akan membahas segalanya nanti di rumah.


di pondok pesantren terus terdengar bacaan ayat suci Al-Qur'an tanpa Hendi dan doa yang terus di panjatkan.


"nak Faraz, sekarang umi ingin menyerahkan kepemimpinan pondok pada mu, tolong terima amanat ini yang sudah di persiapkan Abi Arifin," kata umi Salamah memberikan kunci.


"insyaallah umi, saya juga akan belajar untuk mengelolanya dengan syariat dan hakikat yang selama ini di pegang teguh ustadz Arifin," jawab Faraz.


"dan satu lagi nak, maaf jika nanti kamu melihat istri mu yang tak sempurna, atau tidak secantik Anna, karena bagi kami Kalila adalah putri yang begitu penurut dan begitu lemah, itulah kenapa Abi Arifin selalu menjaganya dan sekarang memintamu mengantikan beliau,"


"iya umi" jawab Faraz.


keluarganya pulang, bagaimana pun Tasya harus melihat kondisi dari ketiga anaknya yang di tinggal di rumah.


tapi Arkan tadi langsung putar balik bersama kedua orang tuanya, "assalamualaikum anak anak mami ..."


"waalaikum salam mami... bagaimana apa ayah besar tak ikut pulang, terus papi mana?" tanya Lily


"papi ke rumah embah, Lily sedang apa, terus mana mas Adit kok Lily sendirian di sini?" tanya Tasya yang memang tak melihat sosok putranya itu.

__ADS_1


"mas Adit tadi keluar beli es potong di depan, tapi kok gak pulang-pulang ya?" bingung Lily


"assalamualaikum Lily..." panggil Adit dari luar rumah.


"waalaikum salam... wah mas beli telur gulung juga," kata Lily sedang.


Tasya pun mengacak rambut putranya itu, "kamu ini ya, kalau sama adeknya kok manjain banget sih, kalau Lily tak bisa lepas dari kamu gimana Adit?"


"ya tidak apa-apa mami, Adit akan selalu jadi orang yang melindunginya, benarkan Lily?" kata Adit


"na nas..." kata Lily sambil makan dadar gulung sambil mengacungkan jempolnya.


"Alhamdulillah kalau begitu, terus ini mana bapak dan ibu kok gak ada di rumah?" Tasya heran melihat rumah yang sepi.


"tadi bawa adek ke toko katanya, mau beli mie instan karena opa ngidam," jelas Lily.


sedang Adit mengangguk dan menikmati es potong yang baru saja tadi di beli.


Tasya ternyata juga dapat bagian milik Lily yang tadi minta di belikan dua.


setelah itu Tasya bersiap untuk masak makan siang, dan tak lupa dia juga memompa ASI untuk stok baby Linga di kulkas.


Arkan sampai di rumah keluarganya, mereka tidak pulang, melainkan langsung menuju ke rumah Mbah de Rizal.


"kalau berani, jangan memukulnya, aku yang lebih sebanding dengan mu, dasar pria bajingan," kata Arkan yang langsung menendang Adi hingga terpental fan jatuh ke atas meja kayu hingga rusak.


saat akan ingin maju, ayah Raka menahan putranya itu, "tidak Arkan, jangan seperti ini, bagaimana pun dia adalah saudaramu,"


"cih sialan... ternyata dia saudara ini selalu senang ikut campur ya, baiklah, terserah saja tapi kenapa kalian terus menghinaku, memang apa aku pernah melukai kalian, hingga kalian bersikap seperti ini padaku!!" teriak Adi.


Arkan kemudian merasakan Aira hitam di seluruh tubuh Adi, "dia memiliki jimat, dan kita harus merebutnya," kata Arkan.


"ayo lakukan," kata Aryan yang berlari untuk mencekik Adi.


tapi dia malah yang terkunci oleh pria itu, bagaimanapun tubuh mereka memang kalah besar dari Adi.


terlebih stamina pria itu sangat prima meski di usianya yang sudah empat puluh lima tahun.


tapi saat Adi fokus pada Aryan, Arkan langsung menarik kalung yang berbentuk kepala buaya dengan batu merah di bagian mata.


Arkan langsung membacakan mantra untuk membuat benda itu hancur dan menjadi butiran debu.

__ADS_1


Adit pun terduduk, melihat itu Arkan mulai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk melakukan ruqyah.


Aryan mengambil wadah dan benar, Adi memuntahkan semua isi perutnya yang sudah bercampur rambut dan juga darah hitam.


Arkan pun mengakhiri semuanya, adi pun terlihat nampak lemah, Anna yang masih di pelukan bunda Luna masih sesenggukan.


"ada apa ..." lirih Adi.


"sebenarnya mas Adi melakukan segalanya dalam keadaan tak sadar, mungkin kehilangan putranya yang mendadak, di manfaatkan oleh seseorang untuk membuatnya seperti ini," kata Arkan.


"tapi dia keterlaluan, dia menculik dan melecehkan Anna, hingga membuat ustadz Arifin meninggal dunia," kata mbah de Rizal.


"tunggu dulu, apa maksud pembicaraan kalian, menculik? melecehkan?" bingung pria itu.


Aryan pun menjelaskan semuanya dan membuat Adi syok, "tidak, aku ingat jika aku mundur dari kesatuan ku..."


kata Adi terhenti saat dia ingat segalanya lagi, dia pun melihat sosok Anna.


"ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan," katanya frustasi.


"Anna sudah kotor oleh perbuatan mu, sekarang kamu harus bertanggung jawab Adi, ayah sudah tak tau lagi harus bagaimana menghadapi mu," kata Mbahde Rizal.


"sudah pakde, Adi pasti mau bertanggung jawab, tapi yang aneh kenapa Adi bisa memiliki sifat yang begitu bertolak belakang dari biasanya," kata ayah Raka.


"karena ada ilmu hitam yang mempengaruhinya, jimat berbentuk buaya putih dengan batu merah sebagai mata, itu membawa energi buruk dan mempengaruhi emosi dan juga kondisi dari mas Adi," jawab Arkan.


"jimat, itu hanya kalung yang di berikan oleh anak buah ku sebagai hadiah perpisahan," jawab Adi


"tapi maaf mas Adi, itu lebih dari itu karena itu adalah jimat ilmu hitam," bantah Arkan.


akhirnya Adi pun setuju menikahi Anna, dan dia pun minta maaf atas segalanya.


sedang Arkan melihat telapak tangannya, kini bekas luka bakar itu tak bisa hilang dan terasa sakit.


dia pun tak mengira jika itu bisa berhubungan dengan siluman buaya yang sudah hilang ratusan tahun.


akhirnya semuanya selesai, Anna dan Adi akan minta maaf, terlebih Adi yang ternyata terpengaruh oleh benda ghaib hingga bisa bertindak kasar.


Arkan pun merendam tangannya di air baskom berisikan daun kelor, kemudian Wulan membacakan doa perlahan luka itu tak terasa sakit.


"mau di antar Aryan, jika tak memungkinkan untuk pulang?" tanya ayah Raka.

__ADS_1


"tidak perlu ayah, aku masih bisa menyetir mobilku sendiri," jawab Arkan yang kemudian pamit.


dia merasa lega karena masalah satu sudah selesai, dan Faraz berjanji untuk membantu Anna dan adu untuk mendapatkan pengampunan dari umi Salamah.


__ADS_2