
mbak Utami tak mengira jika tuan Alan bisa menghina orang dengan begitu fasih, bahkan terlihat begitu lancar.
"ya dia memang menyebalkan, tapi aku heran, kenapa mas bisa bicara selancar itu untuk membelaku," kata mbak Utami.
"kamu akan pintar berkata omong kosong selama setahun saja tinggal dengan Arkan l, belum lagi umpatan busuknya yang selalu dia pakai saat bertemu mahluk ghaib yang menyebalkan katanya," kata tuan Alan.
mendengar itu mbak Utami tertawa,dia pun mengangguk dan akhirnya memilih untuk membawa semua yang tadi di pesan pulang.
selama dalam perjalanan, tuan Alan dan mbak Utami terus tertawa, sesampainya di rumah terlihat Arkan menunggu mereka dengan senyumannya.
"selamat datang papa mertua, bagaimana dengan pesanan, oke dong?"
"dasar menantu busuk, jika bukan karena anak-anak aku tak akan membelikan Semuanya," jawab tuan Alan.
"uluh-uluh... mertua ku sudah pintar mengumpat sekarang, sudah pantas jadi warga desa," kata Arkan tertawa membantu membawa belanjaan masuk.
tuan Alan hanya mengeleng pelan, dan kemudian masuk bersama mbak Utami.
mereka pun makan bersama, keluarga ini selalu hangat, tapi dari luar terdengar suara seseorang.
"tunggu Adit yang lihat," kata bocah itu dengan semangat.
Adit pun melihat ada seorang wanita tua yang sedang tersenyum ke arahnya, wanita itu menunjuk Adit dengan jari telunjuknya.
"bocah malapetaka," kata wanita itu sambil menyeringai.
"wanita tua busuk, kau menjijikkan," kata Adit dengan mata marah melihat wanita itu.
wanita itu pun perlahan tubuhnya muncul belatung dan langsung menggerogoti tubuhnya yang renta, "tidak tolong aku!!!" teriaknya sambil kesakitan.
dia tak mengira jika ilmu abadi miliknya pun tak bisa melawan bocah kecil itu.
Arkan dan semua pun keluar dari rumah dan kaget melihat seorang wanita tua yang kesakitan di depan gerbang rumah mereka.
"sembuh tapi tidak rasa sakitnya," kata Adit sebelum keluarganya keluar.
wanita itu pun perlahan sembuh dari luka yang tadi muncul bahkan belatung pun hilang, tapi rasa sakitnya tidak bisa hilang.
"tolong sakit ...."
Arkan pun membantu wanita itu pergi, sedang dia melihat Adit yang melihat dengan tatapan dingin, dan sekilas Arkan melihat mata merah milik Adit.
"bapak tolong bawa Mbah pulang, sepertinya penyakitnya kambuh," kata Arkan.
"iya juragan," jawab pak Sugeng.
"jika kamu berani membuka mulut dan mengatakan apa yang kamu lihat, bukan hanya dia, tapi aku juga akan membereskan mu nenek," bisik arkan memastikan wanita tua itu tak buka mulut.
__ADS_1
"kita lihat saja siapa yang bisa jamu lakukan," kata nenek itu.
jiwa terpendam Arkan langsung merasa terpancing, pria itu menyeringai mendengar tantangan itu.
"sepertinya waktumu sudah dekat, terlebih kamu sudah terlalu tua dan renta untuk terus hidup di dunia ini nenek," kata arkan.
anak buah arkan membawa nenek itu pulang, sedang arkan melihat kearah Adit.
"sepertinya aku harus menunjukkan siapa aku padanya, karena setelah aku tiada, hanya dia yang bisa melindungi kedua adiknya," kata Arkan.
sedang di rumah sakit, Niken menunjukkan perkembangan yang begitu pesat, bahkan dia juga mulai belajar berjalan meski masih tertatih.
"pelan-pelan saja nak, tak ada yang akan meninggalkan dirimu," kata Juragan Aris yang terus mendampingi putrinya itu.
"iya ayah Niken tau," jawab wanita itu.
tak butuh waktu lama, Niken pun kembali di bantu naik ke ranjang oleh Aris, dia tak mau jika terjadi apa-apa jika Niken terus memaksakan dirinya.
siang hari, semuanya sedang sibuk saat Azam muncul di kamar Niken, ternyata Niken sedang tidur siang.
Azam ingin melihatnya lebih dekat tapi dia kaget karena ada dua orang berjubah hitam yang dia tak bisa melihat wajah orang itu.
mereka sangat dekat dengan Niken, Azam pun mengerti sekarang, jika waktu kematian seseorang tak mungkin bisa di tolak.
akhirnya Niken pun di bawa pergi, dalam tidurnya tanpa seorang pun sadar, dan Azam pun menahan Niken.
"baiklah, aku akan mengikuti mu, memang kamu mau tau kami akan kemana?" tany orang itu terdengar sangat kejam.
"tentu, aku tak ingin tinggal di sini, meskipun aku harus ke neraka sekalipun," jawab Azam.
Azam pun menuju ke rumah dengan bergegas, dan melihat Arkan yang tersenyum dan mengangguk padanya.
Azam pun membakar dirinya sendiri, dia tak mau hidup di mana dia tak bisa melihat Niken lagi.
ayu datang untuk membangunkan Niken untuk mengajak putrinya itu sholat.
"Niken bangun nak? ayo kita sholat dulu," kata ayu menepuk bahu Niken pelan.
tapi tak ada jawaban, ayu mengecek nafas dari Niken yang tidak di rasakan.
"dokter!!!" teriak ayu dengan sangat keras.
para dokter pun datang dan memeriksa kondisi Niken, dan Niken pun sudah di nyatakan meninggal dunia.
"maaf Bu, pasien sudah meninggal dalam tidurnya, suster waktu kematian pukul dua belas siang," kata dokter.
"tidak!!! Niken kamu tak boleh pergi seperti ini, kamu harus kembali nak!!" panggil ayu memeluk tubuh putrinya itu.
__ADS_1
ayu pun jatuh pingsan, dia tak mengira jika keputusannya meninggalkan rumah sakit sebentar untuk mengambil baju ganti malah membuatnya tidak bisa menemani putrinya di saat terakhir.
bahkan Aris yang baru selesai sholat pun juga pingsan karena kaget, sebab mendengar berita Kematian Niken.
keluarga juragan Aris pun keos, beruntung Aiden dan Alden pun masih tegar mengurus segalanya untuk sang kakak dan orang tuanya.
mereka juga menghubungi Aryan dan Faraz untuk meminta tolong membantu mengurus dokumen.
Aryan pun kaget mendengar kematian dari Niken, dia tak percaya hingga langsung bergegas menuju ke rumah sakit.
begitupun dengan Faraz yang sedang di kampus, dia pun langsung menuju ke rumah sakit.
tapi saat dia sampai di tempat itu, dia bisa melihat jika ar ah Niken sudah menyebrang bersama Azam.
dia pun sudah tak bisa melakukan apapun, dia kira dia bisa menunda dan mengundur kematian.
tapi nyatanya tidak, kematian tetap datang sesuai dengan apa yang sudah di tuliskan.
Arkan pun bangkit dan memeluk istrinya, "ada apa papi?" tanya Tasya.
"sayang aku melayat dulu ya, karena seseorang meninggal dunia," jawab Arkan.
"siapa papi, boleh aku ikut?" tanya Tasya.
"tentu, biar anak-anak di jaga Daddy dan mbak Utami," kata Arkan yang bersiap-siap.
tak lama Arkan dapat telpon dari faraz yang mengabarkan tentang kematian dari Niken.
"innalilahi wa inna ilaihi Raji'un.. baiklah kami akan segera ke rumah sakit," kata Arkan.
"kenapa ke rumah sakit pi, memang siapa yang meninggal dunia?" tanya Tasya yang memang belum di beri tahu oleh Arkan.
"Niken sudah di panggil oleh yang maha kuasa, dan sepertinya baru saja karena Faraz juga masih ada di rumah sakit," kata arkan.
dia tak mengira jika usia Niken semuda ini harus pergi, tapi umur manusia tidak ada yang tau.
mereka berdua pun menuju ke rumah sakit, dan ternyata benar, ayu dan juragan Aris masih nampak syok.
Arkan pun meminta izin untuk melihat kondisi Niken. dan saat dia menyentuhnya dia melihat Niken tersenyum saat akan pergi.
"Tante ... om ... Niken sudah bahagia dan tenang di sana, seharusnya kalian juga bisa ikhlas untuknya, jadi tolong jangan membuatnya sedih ya, dia sudah bahagia sekarang..." kata Arkan membujuk keduanya.
"iya nak, tapi aku sedih karena kami berdua tak ada di sisinya saat dia menghadapi sakaratul mautnya," kata ayu.
"dia tidak kesakitan Tante, dia memang tak ingin melihat kalian bersedih saat dia pergi," tambah arkan.
bahkan Juragan Aris menguatkan dirinya untuk bisa merawat jenazah putrinya untuk terakhir kali.
__ADS_1