
Azam menunggu di sebuah pohon mangga yang bercabang di samping rumah.
sesosok mahluk lain datang, "aduh yang galau, masih sedih, mending lepaskan saja," ledek Kong yang duduk di samping Faraz.
"kamu sudah baikan, bukannya kamu terluka?" bingung Azam melihat makhluk itu
"memang tapi tuan susah menyembuhkan aku, terlebih aku memang pelindung putrinya jadi tak boleh terluka," jawab kong.
"dia tak takut kamu bisa membahayakan Putrinya?"
"kenapa bertanya seperti itu, aku tak akan membiarkan bahaya mendekat, terlebih gadis itu sudah punya ikatan penghubung dengan ku," jawab kera putih itu.
terlihat Lily membuka kamarnya dan melambaikan tangan, kong pun langsung turun dan duduk di jendela kamar Lily.
"aku tidur dulu, Kong jangan nakal oke," kata gadis kecil itu.
kera itu pun mengangguk dan kembali ke tempat Azam, kini dua makhluk berbadan besar itu sedang duduk berdampingan.
Tasya membuka jendela kamar, terlihat Niken yang sudah sadar dan mulai baikan.
sebuah siulan memanggil keduanya, kong dan asam datang ke depan rumah ternyata Faraz dan Arkan sedang mengajar dupa.
terlihat Ki Sesnag dan Suni sudah duduk di sana, "kalian berdua duduklah, kita mulai saja,"
Azam yang tidak mengerti ikut saja, kini mereka pun mulai menghirup aroma dupa khusus itu.
keempat pun mulai membuka mata dan ternyata mereka sudah memiliki wujud manusia.
"apa ini?" tanya Azam keheranan.
"alah pakek tanya lagi kamu sering pakai ilmu maleh rupa masih tanya," kesal Arkan mendengar pertanyaan itu.
"owalah tak kira mau di kasih ilmu apa gitu," jawab Azam.
"mbok ya berterima kasih,kamu tau gak maleh rupa kali, ini sangat sempurna menyerupai manusia, karena kita mau bertamu ke tempat ustadz terkenal di sekitar sini," jelas Ki Sesnag
"gak mau ah... aku suka panas kalau dekat-dekat tempat yang agamanya bagus," kata Azam.
"kamu aneh, dari tadi di sini denger orang ngaji gak papa kok bilang begitu," kata Suni.
"loh iya kah?"
"ha-ha-ha kesuwen Nok alas kuping e amoh, (kelamaan di hutan, kupingnya rusak)," ledek Kong
"lambe mu cok,", kesal Azam menoyor Kong cukup keras.
__ADS_1
"Hem... Hem... Hem... mulai, terus no kalau kalian berdua gak dapat hukuman, terus no," kata aekan sudah berdiri di depan dua makhluk itu.
tak terduga sebuah tangan menjewer kuping keduanya, "ih... kok nakal papi ..."
Faraz yang menirukan gaya Lily yang mengadukan sesuatu, Suni dan Ki Sesnag tertawa pasalnya dengan tubuh pria itu merasa geli melihatnya.
"sudah kamu membuatku geli dan mau muntah, melihat mu menirukan Lily seperti itu bang," kata Arkan tak habis pikir.
"tapi benerkan Lily gitu kalau mengadukan sesuatu," kata Faraz yang masih menjewer pria itu
"iya tapi gak usah praktek," kesal Arkan
Faraz lupa melepaskan dia telinga di tangannya, "maaf nih bapak-bapak tolong ini telinga kami sakit loh, atau mau aku aduin Lily," kata Kong menghentikan pertengkaran Arkan dan Faraz.
"diam!!" bentak keduanya
mendengar itu Kong pun menangis, "Lily... papi dan ayah besar jahat..." tangis Kong, Lily yang sudah tidur langsung terbangun.
"hei diam, kamu sudah berumur ratusan tahun kenapa menangis," kata Azam yang juga kena jewer dari tadi.
"biarin... huwa..."
tak di duga Lily datang membawa sebuah boneka besar di tangannya, "papi... ayah kenapa buat long sedih?" tanya gadis itu sambil menyeret bonekanya.
"tidak boleh menyakiti Kong milik Lily," tambah gadis itu.
"aduh sayang, sakit," kata Faraz
"makanya jangan suka gangguin Kong," kata gadis itu.
"iya iya maaf, sekarang Lily balik tidur ya," kat la arkan pada putrinya.
"iya," jawab Lily
Arkan pun mengantar putrinya tidur, sedang Faraz bersiap untuk ke pondok milik ustadz Arifin.
Arkan sudah kembali dan akan masuk mobil saat dia tiba-tiba memberi mulut Kong dengan sebuah lakban cukup besar.
"mmm..."
kata Kong kaget, "berani kamu lepas tak kurung kamu," ancam Arkan yang langsung mendorong pria itu masuk kedalam mobil.
mereka pun berangkat ke tempat ustadz Arifin, dan sesampainya di sana.
terlihat beberapa orang minggir saat melihat enam pria itu, ustadz Arifin tersenyum pada keenamnya.
__ADS_1
"silakan masuk, jarang-jarang kamu kedatangan tamu seperti ini," kata pria itu.
"terima kasih ustadz," jawab Faraz.
tanpa di duga Arkan menarik satu orang santri dan langsung membacakan ayat surat Al-fatihah dan ayat kursi.
tapi santri itu malah ikut membaca ayat yang di baca oleh Arkan, tapi dengan senyum seringai Arkan mulai mengembangkan syair Jawa.
dan di sana santri itu mulai berteriak dan muntah darah pekat sambil mengeluarkan gumpalan rambut.
"keluargamu salam bahaya, minta mereka segera melakukan ruqyah dan membuang sebuah batu cincin yang di terima dari saudara kalian itu," kata Arkan.
"bagaimana anda tau?" tanya santri itu yang sekarang merasa enak dan nampak segar.
"karena itu adalah wadah teluh yang di kirim perlahan, terlebih keluarga mu termasuk jajaran pemerintahan penting," kata Faraz.
"iya mas, saya mengerti," jawab pria muda itu.
dia pun di bawa ke aula untuk di bersihkan oleh santri senior, dan segera melakukan apa yang di katakan oleh arkan.
"kenapa aku melihat kalian kejawen bisa berdampingan dengan ilmu agama?" kata ustadz Arifin.
"ustadz tentu tau leluhur kami, dan orang tua kami, ini bukan ilmu yang salah,hanya tergantung pemakainya ingin membawa ilmu dan kelebihan yang di berikan tuhan ke arah mana," jawab Arkan.
mereka pun masuk ke pendopo yang sering di gunakan untuk menerima tamu.
dari jauh Anna melihat sosok dari Faraz, pria itu mengangguk dan kemudian duduk bersama yang lain.
"jadi ada keperluan apa mas Arkan dan mas Faraz datang, dan keempat pria berilmu tinggi ini?" tanya ustadz Arifin.
"kami ingin menanyakan pada ustadz Arifin, kenapa ustadz Yunus berubah, bahkan dia bisa melakukan hal buruk seperti itu," tanya Arkan.
"mau bilang apa, saya juga bingung mau mulai dari mana, tapi yang pasti ustadz Yunus berubah karena kehilangan istrinya yang melahirkan putri kecilnya," jawab ustadz Arifin.
pria itu menghela nafas panjang, "seperti halnya seorang suami yang begitu menyayangi istrinya yang akan melahirkan. begitu pula dengan ustadz Yunus tapi takdir memisahkan mereka dan menyisakan dia dan putrinya, di dalam kesedihan itu sepertinya hati dan jiwanya sedikit tak terkendali,"
"bukan sedikit ustadz, tapi dia berani melewati batas ku, dia menghilangkan semua jejak ingatan Niken bahkan membuatnya melupakan jika dia pernah hamil dan melahirkan, memang apa salahku?" tanya Azam.
"hubungan kalian salah," jawab ustadz Arifin.
"aku tau itulah kenapa aku melepaskan Niken dan berharap dia mendapatkan suami yang baik tapi malah aku mendengar dengan tidak tau malunya, pria itu melamar Niken saat kuburan istrinya saja belum empat puluh hari di makamkan," kata Azam yang masih nampak berapi-api
"baiklah saya minta maaf atas namanya, karena setelah ini saya akan mengirimnya jauh dari sini," jawab ustadz Arifin.
"saya tunggu ustadz, karena anda tau jika kami yang bertindak, akan jadi seperti apa hasilnya," jawab Faraz .
__ADS_1
"itu benar, jika tak ingin melihat dia sudah kaku tanpa nafas, lebih baik usir dia satu sini, karena kamu bisa melakukannya sendiri," kata arkan dingin.
"aku mengerti, baiklah aku akan pastikan dia pergi," Jawab ustadz Arifin.