Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
mahluk kampret


__ADS_3

baru juga melangkah maju ke dalam penggilingan padi itu, sesosok kera besar menunjukkan dirinya.


"Halah.... monyet teko Endi Iki? (monyet dari mana ini?)" kata Arkan melihat mahluk itu.


Arkan langsung melewati mahluk itu begitu saja tak ada takut-takut nya, sedang kera itu menghampiri Arkan sambil menunjukkan gigi tajamnya.


"ora Wedi..." ledek Arkan dengan mengaduk kepalanya mengikuti kera itu.


merasa di ledek kera itu pun berteriak keras pada Arkan, melihat itu Arkan tetap diam.


"c*k... mambune gak enak, ora tau sikatan ya awak mu, ngilani... (baunya tidak enak, tidak pernah sikat gigi ya kamu, menjijikan...)" kata Arkan melempar bata ke arah Keta itu dan berhasil mengenai kepala kera itu.


"huwa... manusia jahat, aku cuma mau main," kata kera itu menangis.


"lah nangis kok, loh heh... ojok cengeng heh," bingung Arkan melihat itu.


tapi kera itu tetap menangis di pojokan sambil membuat lingkaran dengan jarinya.


dia merasa begitu apes, pasalnya harus bertemu raksasa model beginian.


"kenapa kamu membuat pekerja di sini pada kabur dulu, terus kenapa masih disini?" tanya Arkan yang melihat semua mesin penggilingan padi.


"aku cuma mau ajak main, aku dulu ke sini karena disini begitu ramai dan dingin, aku juga di telantarkan oleh manusia yang membuat perjanjian dengan ku, bukan di telantarkan sih, tapi aku membantai mereka semua karena tak mengingkari perjanjian dengan ku," jawab siluman kera itu.


"owalah, kemarilah dan biarkan aku lihat kamu bohong atau tidak," kata Arkan yang menyentuh kepala kera raksasa itu.


bahkan saat ini Arkan ada di lantai dua saat ingin menyentuh kepala kera itu.


dia bisa melihat semua masalalu dari makhluk itu, dia berada di sebuah rumah.


ada ruangan khusus dan dia adalah raja kera putih, tapi Rafa dan Raka membuat kerajaannya hancur karena keserakahan dari kakak dari mahluk itu.


Arkan pun merasa tak enak sekarang, "kenapa wajah mu begitu?" tanya kera itu.


"gak apa-apa kok, he-he-he," kata Arkan yang merasa tak enak.


"maaf membuat tempat ini sepi, aku hanya butuh tempat untuk tinggal saja, karena kerajaan ku sudah hancur, dan aku juga sangat menyukai tempat ini," jawab kera itu.


"tak masalah, tapi bisakah kamu berubah menjadi mahluk kecil yang bisa di lihat oleh manusia biasa, seperti monyet pada umumnya," tanya Arkan.


"tentu bisa, tapi warna ku tidak bisa di sembunyikan, tetap berwarna putih," kata makhluk itu.

__ADS_1


"tak masalah, mungkin putriku bisa menjadi teman mu, dan biar kamu tak menganggu disini," kata Arkan.


"baiklah," jawab makhluk itu yang berubah Menjadi kera putih kecil.


Arkan menaruhnya di pundaknya selama melihat keadaan dari penggilingan itu.


semua mesin berjalan normal, dan tinggal mencari orang untuk membersihkannya.


tapi Arkan melihat ada sosok mbak Kunti sedang duduk di langit-langit penggilingan padi.


"halo mbak Kun-kun turun yuk, mau ngajak ngobrol nih," panggil Arkan.


"gak aku mau pergi, kamu sana seperti ayah mu," kata kuntilanak itu.


"idih si Kunti sewot, ya sudah kamu ikut aku tunggu disini," kata Arkan pada kera itu.


tak lama ada lima orang datang untuk membersihkan penggilingan padi itu.


awalnya mereka takut, tapi saat melihat Arkan yang sedang bermain dengan kera putih, mereka pun yakin jika kera yang mendiami sudah di jinakkan.


jadi mereka mulai membersihkan tempat itu, Arkan membantu dengan memotong rumput yang tumbuh cukup tinggi.


"dasar manusia-manusia musyrik," marahnya.


bukan apa, penggilingan padi ini bukan untuk mencari kekayaan, tapi tempat orang bekerja.


Arkan mengambil gergaji mesin yang ada di gudang , dan langsung bersiap untuk menebang pohon beringin itu.


sesosok mahluk datang menantang pria itu, "siapa kamu berani ingin menebang rumahku," geram mahluk itu.


Tasya dan Lily yang datang untuk mengantarkan makanan merasakan aura yang begitu pekat.


dia pun langsung turun dari mobilnya, "Lily tunggu di sini ya," kata Tasya yang langsung memanggil busur pasopati.


Tasya menjentikkan tali busur itu dan membuat Mahluk itu terpental jauh.


"siapa kamu berani mengancam suamiku," katanya dengan berani.


makhluk itu terdiam, dia seakan melihat kembali pasangan yang sering memusnahkan makhluk jahat sepertinya.


"maaf aku tak bermaksud untuk melakukannya, aku hanya terlalu nyaman dengan semua sesajen di sini, maaf membuat tuan dan nyai marah," kata makhluk itu.

__ADS_1


"nyai nyai Mbah mu somplak, istriku cantik begitu kamu panggil nyai, pingin tak graji mesin pisan, sudah pergi sana, kalau mau bantu tempat ini silahkan, kalau mau ganggu kami bisa memusnahkan mu," marah Arkan


makhluk itu menjelma menjadi sebuah burung berwarna hitam pekat, "wes sak karep mu,"


Arkan langsung menebang pohon itu , dan para pekerja di suruh merapikannya.


mereka heran melihat pria itu yang tak ada takut-takutnya. sedang Lily yang ada di depan sedang bermain dengan kera putih.


"kenapa kamu datang sayang? dan bagaimana tau tempat ini?" tanya arkan.


"aku datang untuk mengantarkan makan siang di suruh Amma, dan tau tempat ini karena GPS kita terhubung," jawab Tasya tersenyum.


"terus Janu datang sendirian?" tanya Arkan.


"bersama Lily di depan," jawab Tasya.


keduanya ke depan, dan terlihat Lily yang sudah akrab dengan kera putih yang tadi di temui oleh sang papi.


"papi .. bisakah kita merawatnya?" tanya bocah itu dengan senang.


"tentu, dan Kong perkenalkan putri kecilku, dan sekarang dia teman mu dan tolong jaga dia dari semua bahaya," kata Arkan yang bicara dengan keras kecil itu.


Tasya merasa heran, karena kera kecil itu seakan bisa mengerti dan mengangguk.


tiba-tiba di belakang Tasya terasa aroma darah yang begitu pekat, Arkan juga mencium aroma itu.


ada sesosok hantu berwajah hancur, kedua mata yang keluar dari tengkoraknya, bahkan otaknya juga sudah berceceran.


darah terus mengalir dari tubuh sebelah kanannya, bahkan daging itu hampir lepas dari tulangnya, "mau apa?" tanya Tasya dengan tenang.


"janin suci, mau kembali ..." gumam hantu itu ingin menyentuh perut Tasya dengan tangannya yang berlumuran darah.


Arkan berlari ke arah istrinya dan langsung membalik tubuh Tasya dan menendang hantu itu hingga terpental.


mahluk tinggi besar itu langsung melahap hantu itu dengan mudah, "kamu tak apa-apa sayang," tanya arkan.


"tidak apa-apa mas, tapi kenapa di tempat ini ada hantu begitu?" bingung Tasya.


"hei dukun sialan, berani-beraninya membuang mahluk itu kesini!!!" teriak Arkan melihat sosok pria yang tertawa di depan gerbang.


"ku kira kekuatan mu sudah musnah, eh.. malah sekarang satu keluarga bisa semuanya, dan putrimu itu sangat istimewa ya," kata pria muda sepantar Arkan yang memakai baju serba hitam dan ikat kepala.

__ADS_1


__ADS_2