Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
tak terima


__ADS_3

Niken berada dimeja miliknya setelah mengajar, dia masih teringat dengan ucapan dari Faraz.


Bu Anik datang untuk memberitahu sesuatu, "Bu Niken, kami akan membelikan sebuah hadiah saat pernikahan anak pemilik yayasan, apa Bu niken juga mau ikut?".


"tentu, tapi siapa yang menikah, bukankah pemilik yayasan ini pak Rakasa?" tanya Niken yang penasaran.


"iya Bu, ya tentu saja putra pertama keluarga itu mas Faraz, itu loh dosen yang mengajar di UNDAR," jawab wanita itu.


bagai tersambar petir, bukankah tadi masih bilang lamaran, tapi sekarang dia akan menikah.


"maaf aku permisi sebentar," pamit Niken yang langsung menuju ruang kepala sekolah.


setelah mengetuk pintu, Niken masuk ke dalam ruangan Aryan, "iya ada apa?"


Aryan bangkit dari kursinya, pasalnya dia melihat sosok Niken yang menangis.


"ada apa Niken?" tanya Aryan.


"apa benar berita yang aku dengar, mas Faraz mau menikah?" tanya Niken.


"duduklah dulu, biar aku ceritakan segalanya," kata Aryan.


Niken pun merasa semua sudah berakhir, Aryan memberikan minuman untuk Niken.


"minum dulu, iya ... yang kamu dengar itu benar, Faraz akan menikah dengan putri pertama dari ustadz Arifin," kata Aryan yang duduk di depan wanita itu.


"tapi tadi dia bilang hanya lantaran," lirih Niken.


"iya, memang semalam mereka baru bertunangan, tapi pernikahan mewah akan segera di lakukan karena tak baik menunda hal baik," gumam Niken.


"apa... padahal aku ingin memberitahukan tentang perasaan ku,tapi sepertinya aku terlambat,memang benar ya,wanita seperti diriku ini tak boleh bahagia, terlebih setelah tubuh ku di nikmati mahluk lain," gumam Niken


"tunggu dulu, kamu ingat dengan semuanya?"kaget Aryan.


"iya, aku sudah ingat semuanya, tapi sepertinya aku harus legowo ya, ya Allah sepertinya akan sangat susah mungkin aku mendapatkan jodoh," kata Niken mencoba tersenyum.


"kamu pasti bertemu jodoh kok,coba minta berdoa setiap sepertiga malam, insyaallah pasti Allah kirim jodoh terbaik untukmu," kata Aryan.


"benarkah, kamu yakin Aryan, tapi terima kasih sudah menjadi teman curhatku, aku senang memiliki teman seperti mu, karena aku sudah lama tidak bertemu teman-teman kuliahku," kata Niken terlihat sedih.


"bagaimana jika aku saja jadi teman mu, terlebih aku juga butuh teman juga," kata Aryan yang melakukan tos dengan Niken.

__ADS_1


keduanya pun tersenyum bersama, sedang di kampus, Faraz langsung menuju ke ruangan miliknya.


ternyata asistennya sudah ada di sana, "hai Dina, kamu masih belum pulang, padahal jam ngajar ku sudah selesai,"


"ah belum pak, aku masih ingin bertanya sesuatu, karena aku tentang beberapa bab penting," jawab gadis itu yang menghampiri meja Faraz.


tapi sesuatu menjegal langkah kaki gadis itu hingga mendarat di lantai tersungkur.


"hei kamu kenapa Dina?" kaget Faraz yang melihat asistennya itu.


sedang sosok yang menjegal langkah kaki gadis itu hanya tertawa di sofa.


"tidak apa-apa pak, mungkin aku tersandung kakiku sendiri," kata Dina yang bangun dari lantai.


Faraz pun tak peduli dan fokus melihat laptopnya, bahkan di ponselnya sudah ada pesan yang penting untuknya.


"jadi Dina, cepat katakan apa yang kau perlukan, dan segera pulang karena aku juga sangat sibuk," kata Faraz.


Dina meletakkan sebuah kertas di depan Faraz, membaca kertas itu, Faraz mengirimkan pesan ke ponsel Dina.


"cari tiga buku itu, dan kamu akan mendapatkan apa yang kau butuhkan, dan jangan membuatku pulang telat lagi mengerti, kamu bisa mengirimkan email padaku saja," kata Faraz yang bergegas pergi.


Dina pun kesal, karena dia tak bisa menghadang pria itu untuk bertahan di ruangan itu bersamanya cukup lama.


"pulang pak dosen, hati-hati ya, oh ya... lain kali jangan cuma berduaan saja dengan gadis itu, karena gadis itu memiliki banyak ide buruk untuk menjebak mu," kata arwah wanita itu.


"terima kasih atas peringatannya," kata Faraz yang kemudian pulang.


arwah itu pun kembali ke toilet kampus di lantai atas, Dina pun menghela nafas karena dia tak bisa menggoda Faraz sedikitpun, sebab pria itu sangat dingin.


Faraz menuju ke rumah dari Arkan, pasalnya dia harus mendapatkan arahan dari saudaranya itu tentang menjaga ketiga anaknya dan juga istrinya.


mobil pria menuju ke desa tempat tinggal saudaranya itu, tapi baru juga mau masuk ke desa.


terlihat ada kerumunan warga yang sedang melihat seorang pria yang gantung diri di sebuah pohon jambu di samping gapura masuk desa.


Faraz pun lewat dan memilih untuk turun dan melihat ke tempat itu, Faraz melihat ad tiga gumpalan tanah di bawah pria itu.


"permisi... boleh saya tanya, apa pria ini seorang warga asli sini, atau dia pendatang?" tanya pria itu.


"ah mas saudaranya juragan arakan ya, bukan mas dia itu suami dari saah satu warga sini, dia itu dari gunung kidul," jawab seorang pria yang ternyata tetangga arkan.

__ADS_1


"pantes, sudah pak tolong turunkan, say sudah menelpon teman saya yang kepolisian agar segera datang, dan jika menguburkan pria ini tolong tiga gumpalan tanah itu di sertakan ya," kata Faraz


"iya ma, tapi kenapa?" tanya pak RT.


"pak ada kepercayaan yang sudah di percayai sejak dulu, jika warga yang melakukan gantung diri dan di bawahnya ada tiga bola tanah, itu biasanya menjadi korban pulung gantung," kata Faraz.


"owh... baiklah, tapi itu tak akan membahayakan kami warga desa kan?" tanya pak RT.


"insyaallah tidak pak, tapi tolong adakan sedekah desa agar desa di jauhkan dari marabahaya," kata Faraz


"aduh ... kami sudah lama tidak melakukan barikan desa, jadi kami lupa dulu orang tua kami saat melakukan sedekah desa," jawab pak RT.


"tunggu sebentar, biar saya tanya dayang desa ini, tapi aku kok serem ya belum mulai," gumam Faraz ngeri-ngeri sedap.


pasalnya dia tak tau dayang desa ini, Faraz pun duduk di sebuah batu di samping gapura desa dan mulai membaca doa.


dia pun bisa melihat tubuhnya, dia pun berjalan mencari titik tempat pelindung desa berada, ternyata di desa itu ada sosok wanita berpakaian hijau dan juga para punggawanya.


"Sugeng siang nyai, benarkan anda pelindung desa ini?" tanya Faraz sopan.


"Sugeng siang, iya Aden, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita berkebaya hijau itu yang terlihat begitu cantik itu.


"kami ingin melakukan sedekah desa, boleh tau apa yang dulu di lakukan oleh warga desa jaman dulu," jawab Faraz.


"cukup bawa tumpeng dan ayam Ingkung, buat pengajuan sesuai kepercayaan mereka semua, dan kemudian makan bersama, tapi tolong jangan usik ada tiga batu yang jadi tempat kami," kata wanita itu yang di angguki oleh Faraz.


bahkan pria itu sudah kembali ke tubuhnya karena sudah selesai berkomunikasi dengan dayang desa itu.


ternyata Nino sudah datang dan mengamankan pria yang gantung diri itu.


Faraz menjelaskan apa yang perlu di lakukan saat ingin mengadakan sedekah desa, dan tak perlu sampai heboh-heboh.


dia pun pamit ke rumah arkan setelah membantu mereka, dan dia akan membantu saat sedekah desa nantinya.


Arkan merasa kesal karen Faraz belum datang padahal sudah sore, meski dia tau dimana saudaranya itu.


tapi dia tak bisa melihatnya karena dia terlalu sibuk di penggilingan padi miliknya.


Kren sedang ada pesanan banyak sebelum dia tinggal ke Singapura, jadi dia selesaikan semua pesanan sebelum pergi.


tak hanya itu, Tasya juga sudah siap menggantikan suaminya itu untuk menjadi bos penggilingan beras sementara.

__ADS_1


meski usaha milik suaminya tak hany itu, tapi setidaknya semuanya di laporkan dengan emails.


jadi Tasya bisa mengeceknya saat sedang santai tanpa panik yang mendera.


__ADS_2