Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
kamu penyokong untuknya.


__ADS_3

Arkan dan Raka sudah sibuk membuat bumbu, keduanya pun sudah terbiasa.


bahkan Lily terus menganggu sang papi, Krena bagi Lily itu lucu karena keduanya yang memasak.


"Lily.. Anand lebih baik main di depan, jangan mengacau, ya tuhan itu udangnya buat nanti," kata Arkan yang melihat kedua bocah itu menuangkan udang yang sudah bersih itu ke adonan peyek.


"maaf papi... tapi Lily mau makan peyek udang," jawab gadis itu sedih.


"anand juga," jawab bocah itu.


"ya sudah Mbah goreng kan tapi kalian main dulu ya," usir Raka pelan.


"gak mau," jawab Anand.


"jika tidak mau, papi akan goreng itu boneka dan Transformers kalian," ancam arkan.


"papi jahat!!" teriak keduanya pergi.


pasalnya dia tak habis pikir bagaimana dua bocah itu bisa begitu usil, padahal dulu dia tak merasa usil.


"tak usah merasa mereka mirip siapa, kelakuan mu dan Aryan bahkan lebih parah, siapa yang pernah masukin ikan yang mau di bakar ke dalam sayur lodeh satu panci besar," kata Raka melihat tingkah putranya.


Arkan hanya tertawa saja, pasalnya itu dulu adakah ide Aryan tapi dia yang melakukannya.


ya mau bagaimana lagi, mereka bosan karena Wulan yang sibuk untuk buat makanan untuk di bagikan saat hari Jum'at.


sedang di bawah kebun bambu kuning, Wulan sedang berhadapan dengan Anastasya.


"kita mau apa Amma?" tanya gadis itu bingung.


"Amma ingin mengajarkan sesuatu padamu, sebagai pelindung suamimu, kamu harus memiliki setidaknya satu senjata yang kamu kuasai," kata Wulan.


dia menyentuh dan membuka mata batin dari Anastasya, "Amma Kenapa aku merasakan ada aura yang begitu berat di sekeliling kita?" bingung Anastasya.


"karena kita sedang berada di tempat para penjaga rumah ini, dan kamu tak bisa melihatnya.


tapi kamu bisa melihat aura yang ada di tubuh Amma?" tanya wulan.


"iya Amma, ada putih dan biru, serta merah," kata Anastasya terkejut.


"jika ingin tau lebih tajam, pejamkan matamu dan fokuskan dirimu," kata Wulan.


dia meliht ada sedikit warna hitam pada diri Wulan, "warna hitam itu, berarti aku pernah membunuh seseorang," jawab Wulan.


Anastasya terkejut, pasalnya mertuanya itu selalu terlihat begitu baik, hingga seperti mustahil wanita itu bisa membunuh orang.

__ADS_1


"kamu bisa merasakan sesuatu?" tanya wulan yang menaikan tangan Anastasya.


"baca ayat kursi dia kali dan alfatihah sekali, dan panggil busur pasopati," bisik Wulan.


Anastasya pun memejamkan matanya dan memanggil pusaka yang di miliki oleh ibu mertuanya itu.


sesuatu muncul di tangannya, dan best itu sebuah busur panah yang berbentuk sangat sempurna, bahkan ada hiasan naga di pegangan busur itu.


"sekarang ini milik mu," kata Wulan.


Anastasya pun fokus dan mencoba menariknya, dan muncul sebuah anak panah yang mengeluarkan api, tapi pada saat itu, dia bisa melihat begitu banyak sosok di sekelilingnya.


dan saat melihat ada sosok hitam yang melintas, dia merasa sosok itu jahat dan melepaskan anak panah itu.


dengan cepat anak panah itu melesat jauh dan melukai kaki dari mahluk itu.


mahluk tinggi besar berbulu itu pun langsung berteriak Kesakitan dan pergi.


di tak mengira mengincar anak-anak di siang hari, dia bisa sial begini, di pun memilih pergi dari lingkungan itu.


"kejar dia," teriak Anastasya pada para pengawal ghaib itu.


mereka pun bergegas pergi, Wulan tak mengira jika menantunya itu bisa mengendalikan hampir separuh pasukan miliknya.


tapi itu bagus setidaknya dia benar-benar bisa menjaga Arkan dan Lily dengan baik.


dan Anastasya pilihan tepat karena Nayla memiliki Weton yang kurang sesuai dan kurang kuat.


ternyata makhluk itu sudah hilang entah kemana, dan saat ini Anastasya berada sebuah putukan di tengah sawah.


dia seakan melihat sebuah batu yang berbentuk seperti seperti singasana.


dia pun penasaran dan duduk di bawah dudukan batu itu, dia merasa nyaman.


Wulan mencari menantunya dan kaget saat melihat Anastasya yang duduk di bawah batu di putukan di tengah sawah itu.


dia seakan bisa melihat Arkan yang tengah duduk disana dan Anastasya bersamanya.


tak lupa Lily yang tersenyum kearahnya sambil duduk di badan Ki Sesnag.


"Anastasya ayo pulang nak," panggil Wulan.


"iya Amma," jawab Anastasya.


mereka pun pulang, dan saat sampai mereka kaget melihat dua toples besar peyek sudah selesai.

__ADS_1


bahkan di bocil juga diam tenang karena makan peyek udang, bahkan Lily terlihat begitu lahap.


"kami selesai, dan kalian kelamaan,memang ngomongin apa sih?" tanya Arkan sedikit kesal.


"maaf deh sayang, jangan marah gini dong, kami kan hanya membahas masalah tentang sesama wanita," jawab Anastasya merangkul lengan suaminya.


"kamu tentu tau untuk menebusnya," bisik arkan.


"apa masih siang, jangan bikin malu," kata Anastasya.


"Nami dan papi mau bikin adik, boleh kok," saut Lily ada kedua orang tuanya.


"apa?" kenapa bilang begitu?" tanya Anastasya kaget.


"habis Lily ingin punya adik seperti anand, kan bunda sedang hamil," kata Lily.


"nanti ya sayang, habis mandi gak mau di ajak buat," kata Arkan pada putrinya itu.


Anastasya memukul mulut suaminya yang kenes, sedang Raka dan Wulan geleng-geleng mendengar ucapan putra mereka yang tanpa filter itu.


karena mereka tak mengira jika akan begitu jujur meski pada putri kecilnya.


Faraz akan pulang karena semua jam-nya sudah selesai, tapi dia memutuskan untuk mampir ke restoran milik Arkan.


dia ingin membeli corndog yang tengah formal itu, terlebih ke-empat bocah di rumah itu juga menyukainya.


dia sampai di restoran itu dan memesan semua jenis, ada sekitar enam rasa dan dia juga membeli dua pizza mini.


saat membayar langkah Faraz terhenti karena melihat siapa yang menjaga kasir.


dia mirip seperti Nia, bahkan begitu mirip, "Nia..."panggil Faraz.


"iya tuan, nama saya Sasa, dan Semuanya jadi seratus ribu," jawab wanita itu.


"ah... iya," jawab Faraz memberikan uangnya.


sejenak dia seakan termenung melihat wanita itu, tapi dia kaget melihat wanita itu jalanya pincang.


Fendi datang mengantarkan peranannya, "Fendi, apa wanita itu cacat, kenapa jalannya pincang?"


"tidak mas, dia sedang terluka, di bagian kaki dan bagian bahu, katanya terluka karena jatuh, tapi menurutku dia bohong karena dari bentuk perbannya seperti luka tusukan," jawab Fendi.


"baiklah, kalau begitu aku pulang, tapi siapa namanya?" tanya Faraz yang masih penasaran.


"dia bernama Sasa, dia seorang yatim piatu, dan ngekos di sekitar taman kita, hayo .. mas tertarik ya, jangan bilang mas suka dia tak," jawab Fendi meledek Faraz.

__ADS_1


"memang salah, aku masih belum punya istri maupun pacar, ya sudah aku pamit," kata Faraz.


dia hanya tak mengira akan melihat wanita yang semirip itu dengan Nia, bukan suka tapi malah membencinya setengah mati.


__ADS_2